Home LAIN-LAIN DAKWAH

Allah tidak Perlu Dibela?

64
SHARE

Orang-orang liberal sering nyinyir kepada aktivis Islam dengan kalimat “Allah tidak perlu dibela”, karena Allah Maha Kuat

Kalimat itu benar tapi salah penempatan, istilahnya: kalimatul haq yuradu bihal baathil (kalimatnya benar tapi maksudnya bathil)

Dalam pikiran mereka, seakan menolong Allah itu serupa dengan menolong makhluk yang lemah tidak berdaya, lalu datanglah manusia yang menolongnya. Maha Suci Allah dari pemahaman seperti itu.

Apakah mereka lupa dengan ayat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad, Ayat 7)

Apa makna dari “menolong Allah” dalam ayat ini? Yaitu menolong, membela, agama Allah (Islam) saat melawan orang kafir. Hal ini dikatakan Imam Al Qurthubi dalam Tafsir-nya.

Menolong agama Allah, bukan karena Allah tidak mampu menjaganya, bukan karena Dia lemah, tapi tidak lain karena hal itu adalah sarana bagi hambaNya untuk berlomba dalam kebaikan, dan sarana mendekatkan diri kepadaNya.

Dalam Al Quran, Allah menceritakan tentang Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong [agama] Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku [untuk menegakkan agama] Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah Ansharullah [penolong-penolong [agama] Allah]” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan [yang lain] kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang. (Q.S. Ash-Shaf, Ayat 14)

Ansharullah, penolong Allah, yaitu pembela agama Allah, adalah bahasa Al Qur’an dan merupakan stimulus untuk kaum beriman. Bukan karena Allah lemah -Maha Suci Allah dari sifat lemah-, tapi itu medan perjuangan dan amal shalih yang benefitnya kembali ke manusianya baik dunia dan akhirat.

Dalam hadits shahih, riwayat Imam At Tirmidzi, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu”

Apakah hadits ini bermakna Allah itu lemah dan harus dijaga? Laksana rumah yang dijaga sekelompok sekuriti? Bukan.

Para ulama menjelaskan maksudnya adalah jagalah batasan-batasan syariatNya, larangannya, perintahNya, janganlah kamu langgar. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Rajab dalam Jami’ al ‘Ulum wal Hikam.

Maka, sangat keliru anggapan orang-orang liberal yang menyinyir aktivis Islam dengan kalimat “Allah tidak perlu dibela.”

Karena memang mereka tidak paham apa makna membela agama dan memang sama sekali tidak tertarik untuk membela sesuatu yang mereka benci.

Sesungguhnya jalan perjuangan, membela agama Allah, adalah jalan yang begitu berat tapi nikmat. Walau musuh-musuhnya menaburi dengan berbagai ranjau, jebakan, tuduhan, tapi para pejuang melaluinya dengan tegar dan kebahagiaan.

Seandainya mereka tahu nikmatnya jalan ini, tahu kemuliaannya, paham karakternya, niscaya mereka pun akan ikut bersama kafilah para pejuang walau harus meraihnya dengan terseok-seok dan bersusah payah.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah.

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah