Home FIQIH

Anak Hasil Zina

28
SHARE

Anak zina, ada dua model:

1) Dia tidak bisa dinasabkan ke ayahnya tapi ke ibunya, seperti Isa bin Maryam. Karena Nabi Isa ‘Alaihissalam lahir tanpa ayah, melalui kehendak Allah atas Maryam. Inilah pendapat mayoritas ulama, Malikiyah, Syafi’iyyah, Hambaliyah, dan sebagian Hanafiyah.

Hal Ini terjadi jika:

– si ayah tidak bertanggungjawab, dia kabur

– si ayah bertanggungjawab, tapi menikahinya setelah kehamilan 4 bulan, sehingga usia pernikahan sebelum 6 bulan anak sudah lahir.

Dampaknya si ayah tidak boleh menjadi wali, walinya wali hakim.

Adapun Imam Abu Hanifah tetap mengatakan ayahnya yang bertanggung jawab SAH menjadi nasab dan wali kapanpun nikahnya selama dinikahi sebelum anaknya lahir:

لا أرى بأسا إذا زنى الرجل بالمرأة فحملت منه أن يتزوجها مع حملها, ويستر عليها, والولد ولد له

Seorang lelaki yang berzina dengan perempuan lalu dia hamil, maka boleh menikahi perempuan itu saat hamil. Sedangkan status anak adalah anaknya. (Al Mughni, 9/122)

2) Dia bisa dinasabkan ke ayahnya, JIKA ayahnya akhirnya menikahi ibunya dan dinikahi sebelum hamil 4 bulan, sehingga anaknya lahir setelah 6 bulan pernikahan.

Syaikh Wahbah Az Zuhailiy berkata:

يحل بالاتفاق للزاني أن يتزوج بالزانية التي زنى بها، فإن جاءت بولد بعد مضي ستة أشهر من وقت العقد عليها، ثبت نسبه منه، وإن جاءت به لأقل من ستة أشهر من وقت العقد لا يثبت نسبه منه، إلا إذا قال: إن الولد منه، ولم يصرح بأنه من الزنا. إن هذا الإقرار بالولد يثبت به نسبه منه

Ulama sepakat halalnya pria pezina menikahi wanita yang dizinahi. Apabila melahirkan anak setelah enam bulan akad nikah maka nasabnya ke pria itu. Apabila kurang dari 6 bulan dari waktu akad nikah maka tidak dinasabkan padanya kecuali apabila si pria membuat ikrar dengan mengatakan bahwa anak itu darinya dan tidak menjelaskan bahwa ia berasal dari zina. Maka dengan ikrar ini nasab anak tersebut tetap pada ayah biologisnya. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 10/148)

Dampaknya, si ayah boleh jadi wali.

Demikian. Wallahu A’lam.

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah