Home AL QUR'AN

Bahaya-Bahaya Melupakan Al Qur’an

98
SHARE

Sejak 14-15 Abad lalu, Allah Ta’ala sudah menyebutkan akan datangnya masa umat Islam menjauh dari Al Qur’an. Menjauh artinya tidak membacanya, mentabburinya, apalagi mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Dan Rasul [Muhammad] berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang dijauhi.” (Q.S. Al-Furqan, Ayat 30)

Sungguh, menjauh dari Al Qur’an adalah berbahaya bagi seorang muslim, atau masyarakat muslim, bahkan bagi umat manusia. Hal ini ditegaskan dalam banyak ayatNya.

Di antaranya:

1) Penghidupan yang sempit (Ma’isyatan Dhanka)

Hal ini Allah Ta’ala tegaskan dalam Al Qur’an:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit. (Q.S. Tha-Ha, Ayat 124)

Maksud dari “berpaling dari peringatanKu” adalah berpaling dari Al Qur’an.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

أي خالف أمري وما أنزلته على رسولي أعرض عنه وتناساه وأخذ من غيره هداه

Yaitu menyelisihi perintahKu dan menyelisihi apa-apa yang Aku turunkan kepada RasulKu [Al Qur’an], berpaling darinya dan melupakannya dan menjadikan selainnya sebagai petunjuk. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 5/283)

Adapun “penghidupan yang sempit” yaitu kehidupan dunianya, baik hakiki yaitu sempit nafkahnya, atau sempit secara maknawi yaitu dadanya sempit dan gelisah, karena dia hidup di atas kesesatan, atau permasalahan yang tidak kunjung usai, dan lainnya.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

أي ضنكا في الدنيا، فلا طمأنينة له ولا انشراح لصدره، بل صدره ضيق حرج لضلاله، وإن تنعم ظاهره ولبس ما شاء وأكل ما شاء وسكن حيث شاء، فإن قلبه ما لم يخلص إلى اليقين والهدى فهو في قلق وحيرة وشك، فلا يزال في ريبة يتردد فهذا من ضنك المعيشة.

Yaitu sempit di dunia, tidak tenang, dan tidak lapang dadanya, tapi hatinya sempit karena kesesatannya. Walau zhahirnya menampakkan nikmat hidup, memakai pakaian apa saja yang dia suka, memakan apa yang dia mau, dia tinggal di mana pun dia suka, tapi hatinya belum bersih kepada keyakinan dan petunjuk, hatinya gelisah dan dipenuhi keraguan, terus menerus dikuasai kebimbangan. Itulah kehidupan dunia yang sempit. (Ibid)

Maka, jika kita dirundung kegelisahan, ditimpa masalah demi masalah, coba lihat dan evaluasi bagaimana hubungan kita dengan Al Qur’an.

Sementara itu, Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda tentang makna “penghidupan yang sempit”, maksudnya adalah “adzab kubur.” Sanadnya jayyid. (Imam Ibnu Katsir, Ibid, 5/284)

2) Dikumpulkan di Akhirat dalam Keadaan Buta

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang sama dengan poin pertama:

وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

” … dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Tha-Ha, Ayat 124)

Ini sesuatu yang menakutkan. Di dunia, kebutaan saja sudah tidak mengenakkan dan membingungkan, walau banyak manusia yang dapat membantu kita. Lalu, bagaimana kebutaan di akhirat, di mana manusia tidak bisa membantu satu sama lainnya karena masing-masing bertanggung jawab atas amalnya sendiri?

Buta di sini bermakna hilangnya penglihatan, hilangnya arah, petunjuk, dan kendali, di akhirat nanti.

Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

أي مَسْلُوبَ الْبَصَرِ، وَقِيلَ: المراد العمى عَنِ الْحُجَّةِ، وَقِيلَ: أَعْمَى عَنْ جِهَاتِ الْخَيْرِ لَا يَهْتَدِي إِلَى شَيْءٍ مِنْهَا

Yaitu kaburnya penglihatan. Dikatakan bahwa maksud dari buta adalah buta dari hujjah. Dikatakan pula, buta terhadap arah kebaikan, dan dia tidak ada pentunjuk untuk sedikit pun mencapai ke sana. (Fathul Qadir, 3/462)

Sebab, Al Qur’an adalah kitab petunjuk bagi manusia, ke arah yang lurus dan paling benar, maka melupakannya akan membuatnya jauh melenceng dari kebenaran. Penyesalan itu pun datang kemudian.

Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰل

3) Kesesatan yang Jauh

Al Qur’an adalah huda lin naas, petunjuk bagi semua manusia. Maka, ketika manusia berpaling darinya tentu mereka berpaling dari panduan hidup, sehingga mereka tersesat dan jauh tersesat.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Tidakkah engkau [Muhammad] memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu [Al Quran] dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka [dengan] kesesatan yang sejauh-jauhnya. (Q.S. An-Nisa’, Ayat 60)

Ayat ini menceritakan tentang tersesatnya manusia yang memakai Al Qur’an dan As Sunnah tapi juga menggunakan petunjuk, ketetapan, dan hukum selain Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka lebih memilih selain Al Qur’an, dan Allah Ta’ala menyebutnya sebagai ketetapan Thaghut. Tapi mereka mengklaim telah ikut Al Qur’an, Allah Ta’ala menyebut mereka tersesat. Ini menunjukkan mengikuti Al Qur’an mesti tulus dan total.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan ayat ini:

هَذَا إِنْكَارٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَنْ يَدَّعِي الْإِيمَانَ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْأَنْبِيَاءِ الْأَقْدَمِينَ، وَهُوَ مع ذلك يريد أن يتحاكم فِي فَصْلِ الْخُصُومَاتِ إِلَى غَيْرِ كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، كَمَا ذُكِرَ فِي سَبَبِ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّهَا فِي رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ ورجل من اليهود تخصاما، فَجَعَلَ الْيَهُودِيُّ يَقُولُ: بَيْنِي وَبَيْنَكَ مُحَمَّدٌ، وَذَاكَ يَقُولُ: بَيْنِي وَبَيْنَكَ كَعْبُ بْنُ الْأَشْرَفِ، وَقِيلَ: فِي جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُنَافِقِينَ مِمَّنْ أَظْهَرُوا الْإِسْلَامَ، أَرَادُوا أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى حُكَّامِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَقِيلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَالْآيَةُ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَإِنَّهَا ذَامَّةٌ لِمَنْ عَدَلَ عَنِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ. وَتَحَاكَمُوا إِلَى مَا سِوَاهُمَا مِنَ الْبَاطِلِ، وَهُوَ الْمُرَادُ بِالطَّاغُوتِ هَاهُنَا، وَلِهَذَا قَالَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ إلىآخرها.

Ayat ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang mengklaim beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ [Al Qur’an] dan apa yang diturunkan kepada para nabi terdahulu. Saat yang bersamaan, mereka ingin mendamaikan pertengkaran manusia tapi tidak menggunakan Al Qur’an dan Sunnah RasulNya, sebagaimana tertera di dalam sebab turunnya ayat ini.

Ayat ini turun tentang pertengkaran seorang laki-laki Anshar, dengan orang Yahudi. Si Yahudi berkata: “Antara saya dan kamu ada Muhammad.” Lalu laki-laki Anshar berkata: “Antara saya dan kamu ada Ka’ab bin Asyraf [tokoh Yahudi Madinah].” Ada yg mengatakan, ayat ini tentang segolongan orang-orang munafiq yang menampakkan keislaman, tapi mereka hendak menetapkan perkara dengan hukum jahiliyah. Ada pula versi lainnya.

Ayat ini berlaku lebih umum dari semua itu. Ini merupakan kecaman bagi mereka yang mengadili dari Al Qur’an dan As Sunnah, tapi juga menggunakan ketetapan selain keduanya dengan batil. Inilah maksud berhukum dengan hukum thaghut di ayat ini. Oleh karenanya Allah berfirman: “Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut.(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/305)

Inilah yang membuat mereka tersesat, ketika tidak puas dengan Al Qur’an, mereka tambahkan lagi dengan ketetapan dari sumber-sumber jahiliyah. Padahal semua itu mesti mereka ingkari, sebagaimana penekanan dalam ayat tersebut:

وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

” … padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu.”

Sebagian ahli tafsir generasi awal, memaknai hukum thaghut dalam konteks ayat itu maksudnya hukum yang ditetapkan oleh tokoh Yahudi Madinah, Ka’ab bin Asyraf.

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan:

والطاغوت: كعب بن الأشرف، قاله ابن عباس، ومجاهد، والضحاك، والربيع، ومقاتل

Thaghut yaitu Ka’ab bin Asyraf. Ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Adh Dhahak, Ar Rabi’, dan Muqatil. (Zaadul Masiir, 1/426)

Namun, yang terjadi bukannya thaghut ini diingkari justru malah diikuti. Akhirnya syetan menyesatkan mereka dengan kesesatan yang begitu nyata.

Allah Ta’ala menutup ayat itu dengan:

وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka [dengan] kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

4) Shuhbatusy Syaithan (Bersahabat dengan Syaithan)

Allah Ta’ala jadikan Al Qur’an sebagai wiqayah (tameng) untuk manusia dari gangguan syaithan. Ayat-ayat Al Qur’an sangat menakutkan bagi mereka, oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Sesungguhnya syaithan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah. (H.R. Muslim No. 780)

Maka, sangat logis ketika manusia melupakan Al Qur’an; tidak membacanya, menjauhi ajarannya, tidak mau menjadikannya pedoman hidup, syaithanlah yang akan mendekat bahkan menjadi kawannya. Paradigma berpikirnya dipolakan oleh syaithan; bagaimana dia mencari rezeki, bertutur kata, bekerja, dan sebagainya; semuanya dipengaruhi oleh syaithan, karena syaithan amat dekat dengannya.

Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur’an:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih [yaitu Al-Qur’an], Kami biarkan syaithan [menyesatkannya] dan menjadi teman karibnya. (Q.S. Az-Zukhruf, Ayat 36)

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan:

قال المفسرون: وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمنِ فلم يَخَف عِقابه ولم يلتفت إِلى كلامه نقيِّضْ له أي: نسبب له شيطاناً فنجعل ذلك جزاءَه فهو له قرين لا يفارقه. وَإِنَّهُمْ يعني الشياطين لَيَصُدُّونَهُمْ يعني الكافرين، أي: يمنعونهم عن سبيل الهدى

Para pakar tafsir mengatakan: “Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih [yaitu Al-Qur’an]”, dia tidak takut dengan hukumanNya dan tidak menengok pada firmanNya maka “Kami biarkan syaithan dengannya” yaitu Kami kaitkan dia dengan syaithan sebagai balasannya dan dia menjadi qorinnya [kawan yang lebih dekat dari karib], dia tidak pernah lepas darinya. Sesungguhnya syaithan benar-benar menghalangi mereka [orang-orang kafir] dari jalan petunjuk(Zaadul Masiir, 4/78)

Demikian. Wallahu A’lam.

(Bersambung)

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah