Home LAIN-LAIN AL FADHAA-IL

Benarkah Hari Raya (Yaumul ‘Id) dalam Islam hanya Dua?

43
SHARE

Telah dikenal bahwa hari raya umat Islam adalah Idul Fithri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). Ini benar karena memang jelas dalilnya. Tetapi, membatasi hanya ini, tanpa memperhatikan dalil-dalil lain adalah keliru, dan tergelincir.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

وأقول لكم: إنه لم يضل من ضل من هذه الأمة إلا بسبب أنهم يأخذون بجانب من النصوص ويدعون جانباً، سواء كان في العقيدة أو في معاملة الحكام أو في معاملة الناس، أو في غير ذلك

Aku katakan kepada kalian: “Kesesatan yang terjadi pada umat ini tidaklah terjadi, kecuali karena mereka mengambil sebagian dalil saja, sama saja apakah itu dalam urusan aqidah, atau muamalah terhadap penguasa, atau muamalah kepada manusia, atau hal lainnya. (Liqa Bab Al Maftuh No. 62)

Hari Raya Lainnya dalam Sunnah

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), hari penyembelihan (10 Dzulhijjah), dan hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita, umat Islam. Itu adalah hari makan dan minum. (H.R. At Tirmidzi No. 773, Abu Daud No. 2421, Ad Darimiy No. 1804, dan lain-lain)

Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. (Sunan At Tirmidzi no 773), Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak, 1/434), Imam Ibnu Hajar mengatakan: shahih. (Taghliq At Ta’liq, 2/385)

Dari hadits inilah para ulama Islam mengatakan bahwa hari raya umat Islam itu beragam, bukan hanya Idul Fithri dan Idul Adha, tapi juga hari Arafah dan hari-hari tasyriq. Ini bukan hanya bagi yang haji tapi semua umat Islam.

Imam Muhammad bin Abdil Hadiy As Sindiy Rahimahullah berkata:

هذا عيدنا أهل الإسلام أي : فجعل العيد عيداً لكل المسلمين

Inilah hari raya kita, umat Islam, artinya maka ini menjadi hari raya bagi setiap kaum muslimin. (Hasyiyah As Sindiy ‘Ala Shahih Al Bukhari, 1/160)

Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azim Abadi Rahimahullah menjelaskan:

الحديث أنه يكره صومه مطلقا لجعله قريبا في الذكر ليوم النحر وأيام التشريق وتعليل ذلك أنها عيد وأنها أيام أكل وشرب

Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya puasa secara mutlak agar menjadikannya sebagai hari-hari untuk dzikir, bagi hari penyembelihan (10 Dzulhijjah), dan hari-hari tasyriq, ‘ilat (sebabnya) adalah karena itu adalah HARI RAYA hari di mana makan dan minum. (‘Aunul Ma’bud, 7/76)

Adapun 9 Dzulhijjah (hari Arafah), menjadi hari raya bagi mereka yang wuquf sehingga di sana mereka tidak berpuasa, Imam Al Munawiy mengutip dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yang mengatakan:

وإنما يكون يوم عرفة عيدا لأهل عرفة لاجتماعهم فيه بخلاف أهل الأمصار فإنما يجتمعون يوم النحر فكان هو يوم عيدهم

Sesungguhnya hari Arafah menjadi hari raya karena berjamaahnya mereka di sana, berbeda dengan penduduk di negeri lain di mana mereka berjamaahnya di hari penyembelihan (10 Dzulhijjah), itulah hari raya mereka. (Faidhul Qadir, 6/431)

Imam Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan:

فقالت طائفة : يكبر من صلاة الصبح يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق .فإن هذه أيام العيد

Berkata segolongan ulama, bahwa bertakbir itu sudah sejak shalat Shubuh hari Arafah sampai shalat ‘Ashar di akhir hari tasyriq, karena HARI-HARI ini adalah HARI RAYA. (Fathul Bari, 6/124)

Demikianlah, keterangan para imam ini sudah memadai bahwa hari raya Umat Islam bukan hanya Idul Fitri dan Idul Adha, tapi juga 9 Dzulhijjah bagi yang di Arafah, dan hari-hari tasyriq bagi seluruh umat Islam.

Oleh karena itu kita dapati kesamaan; terlarangnya puasa, hari tasyriq sama dengan 10 Dzulhijjah masih boleh untuk menyembelih qurban, dan masih boleh bertakbir. Yang berbeda adalah tidak ada shalat ‘Id, kecuali pada dua hari raya: Idul Fithri dan Idul Adha.

Hari Jum’at juga Hari Raya

Selain di atas, kita juga masih punya hari raya lagi bahkan pekanan. Hal ini tertera secara lugas dalam hadits berikut.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ ، جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

Sesungguhnya hari ini (Jumat) adalah HARI RAYA, yang Allah jadkan bagi kaum muslimin, maka barang siapa yang mendatangi hari Jumat maka mandilah, dan jika dia punya minyak wangi pakailah, dan hendaknya kalian bersiwak. (H.R. Ibnu Majah no. 1098)

Imam Al Mundziriy mengatakan: hasan. (At Targhib wat Tarhib, No. 707), dihasankan pula oleh Syaikh Al Albaniy. (At Ta’liq Ar Raghib, 1/253, Shahih Ibni Majah no. 901)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

وهو يوم المزيد لهم إذا دخلوا الجنة، وهو يوم عيد لهم في الدنيا

Hari Jumat adalah hari tambahan bagi mereka (kaum beriman) jika mereka masuk ke surga, dan sebagai HARI RAYA bagi mereka di dunia. (Zaadul Ma’ad, 1/379)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

ولا شك في أن يوم الجمعة هو العيد الأسبوعي للمسلمين

Tidak ragu lagi bahwa hari Jumat adalah hari raya pekanan bagi kaum muslimin. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 119892)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

لا شك أن يوم الجمعة يوم عيد للمسلمين ، كما جاء في الحديث عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما

Tidak ragu lagi bahwa hari Jumat adalah HARI RAYA kaum muslimin, sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 134741)

Maka, membatasi hari raya umat Islam hanya dua, jelas bertentangan dengan sunnah dan penjelasan para imam kaum muslimin.

Demikian. Wallahu Waliyut Taufiq.

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah