Home KONSULTASI SYARIAH

Biji Tasbih Budaya Kafir?

63
SHARE

Pertanyaan:

Ustadz, mungkin sudah tahu ya sedang ramai ada penceramah yang mengatakan tasbih bukan berasal dari Islam. Lho kalau begitu itu budaya kafir ya? Jazakallahu khair.

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Bismillah wal Hamdulillah.

Sangat disayangkan pernyataan seperti itu keluar dengan ringan dari seorang ustadz. Dibarengi dengan gaya yang meremehkan para tokoh pahlawan Indonesia dengan serban yang mereka pakai.

Adapun tentang tasbih, sudah pernah saya bahas panjang lebar di channel ini. Baik antara yang pro dan kontra, namun mayoritas ulama menyatakan kebolehannya, dengan sejumlah dalil yang mereka sampaikan.

Saya tidak akan mengulangi itu, saya hanya menyampaikan dan menegaskan bahwa apa yang disampaikan ustadz tersebut sangat tertolak dan terlalu nekad.

Saya akan sampaikan saja beberapa penjelasan para Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam hal ini.

Imam As Suyuthi Rahimahullah -sebagaimana dikutip Imam Asy Syaukani Rahimahullah– berkata:

وقد ساق السيوطي آثارًا في الجزء الذي سماه المنحة في السبحة وهو من جملة كتابه المجموع في الفتاوى وقال في آخره : ولم ينقل عن أحد من السلف ولا من الخلف المنع من جواز عد الذكر بالسبحة بل كان أكثرهم يعدونه بها ولا يرون في ذلك مكروهًا انتهى .

Imam As Suyuthi telah mengemukakan berbagai atsar dalam juz yang dia namakan Al Minhah fi As Subhah, yang merupakan bagian dari kumpulan fatwa-fatwa, dia berkata pada bagian akhirnya: “Tidaklah ada nukilan seorang pun dari kalangan salaf dan tidak pula khalaf yang melarang kebolehan menghitung dzikir dengan subhah, bahkan justru MAYORITAS MEREKA MENGHITUNG DZIKIR DENGANNYA, dan mereka tidak memandangnya sebagai perbuatan yang dibenci. Selesai” (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Hal. 317. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, seorang ulama yang track record-nya dikenal “keras” oleh banyak kalangan berkata:

وَعَدُّ التَّسْبِيحِ بِالْأَصَابِعِ سُنَّةٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ : { سَبِّحْنَ وَاعْقِدْنَ بِالْأَصَابِعِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ } . وَأَمَّا عَدُّهُ بِالنَّوَى وَالْحَصَى وَنَحْوُ ذَلِكَ فَحَسَنٌ وَكَانَ مِنْ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ وَقَدْ رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تُسَبِّحُ بِالْحَصَى وَأَقَرَّهَا عَلَى ذَلِكَ وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يُسَبِّحُ بِهِ .

Menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunnah, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaum wanita: “Bertasbihlah dan menghitunglah dengan jari jemari, karena jari jemari itu akan ditanya dan diajak bicara.”

Adapun menghitung tasbih dengan biji-bijian dan batu-batu kecil (semacam kerikil) dan semisalnya, maka hal itu perbuatan BAIK (hasan). Dan, dahulu SEBAGIAN SAHABAT Radhiallahu ‘Anhum ada yang MELAKUKANNYA, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melihat ummul mukminin bertasbih dengan batu-batu kecil, dan beliau mentaqrirkannya (menyetujuinya), dan diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah pernah bertasbih dengannya. (Majmu’ Fatawa, 5/225. Mawqi’ Al Islam)

Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah berkata:

وَقَدْ وَرَدَتْ فِي ذَلِكَ آثَارٌ ، وَلَمْ يُصِبْ مَنْ قَال إِنَّ ذَلِكَ بِدْعَةٌ

Telah sampai BERBAGAI ATSAR tentang hal itu, dan sama sekali tidak benar bagi yang mengatakan itu adalah bid’ah. (‘Aunul Ma’bud, 4/367, sebagaimana dikutip dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 21/259)

Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:

وهذا أصل في ندب السبحة المعروفة وكان ذلك معروفا بين الصحابة فقد أخرج عبد الله بن أحمد أن أبا هريرة كان له خيط فيه ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به

Hadits ini merupakan dasar terhadap sunnahnya subhah (untaian biji tasbih) yang sudah dikenal. Hal itu dikenal pada masa sahabat, Abdullah bin Ahmad telah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki benang yang memiliki seribu himpunan, beliau tidaklah tidur sampai dia bertasbih dengannya.(Faidhul Qadir, 4/468. Cet. 1, 1415 H – 1994 M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut – Libanon)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah berkata:

لكن يجوز له لو سبح بشيء كالحصى أو المسبحة أو النوى، وتركها ذلك في بيته ، حتى لا يقلده الناس فقد كان بعض السلف يعمله ، والأمر واسع لكن الأصابع أفضل في كل مكان ، والأفضل باليد اليمنى

Tetapi boleh baginya seandainya bertasbih menggunakan kerikil atau misbahah (alat tasbih) atau biji-bijian, dan meninggalkan biji tasbih itu dirumahnya sehingga manusia tidak menggantungkannya, dan dahulu PARA SALAF MELAKUKANNYA. Masalah ini lapang, tetapi menggunakan jari adalah lebih utama pada setiap tempat, dan utamanya dengan tangan kanan. (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqallat, 29/318. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

السبحة ليست بدعة لأن النبي صلى الله عليه وسلم مر على نساء وهن يسبحن بالحصى فقال عليه الصلاة والسلام اعقدن بالأنامل فإنهن مستنطقات فقد بينت السنة حكم التسبيح بغير الأصابع وأن الأولى التسبيح بالأصابع

As Sub-hah (untaian biji tasbih) BUKANLAH BID’AH, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melewati para wanita, dan mereka sedang bertasbih menggunakan batu-batu kecil (semacam kerikil). Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Hitunglah bilangannya dengan ujung-ujung jari, karena nanti itu akan diajak bicara (pada hari kiamat).” Saya telah menjelaskan tentang KESUNNAHAN hukum bertasbih dengan selain jari jemari dan lebih utamanya bertasbih adalah dengan jari jemari.” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘alad Darb, Bab Mutafariqah, No. 708. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Demikian. Data-data ini sudah cukup menunjukkan kekeliruan penceramah tersebut dan dia telah menabrak para imam kaum muslimin. Semoga selanjutnya bisa mawas diri.

Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thariq.