Home LAIN-LAIN AL FADHAA-IL

Bulan Sya’ban dan Keutamaannya

227
SHARE

Definisi Sya’ban

Imam Ibnu Manzhur Rahimahullah menjelaskan dalam Lisanul ‘Arab:

إِنما سُمِّيَ شَعبانُ شَعبانَ لأَنه شَعَبَ أَي ظَهَرَ بين شَهْرَيْ رمضانَ ورَجَبٍ والجمع شَعْباناتٌ وشَعابِينُ

Dinamakan Sya’ban, karena saat itu dia  menampakan (menonjol) di antara dua bulan, Ramadhan dan Rajab. Jamaknya adalah Sya’banat dan Sya’abin. (Lisanul ‘Arab, 1/501)

Dia juga bermakna bercabang (Asy Sya’bu) atau berpencar (At Tafriq), karena banyaknya kebaikan pada bulan itu. Kebiasaan pada zaman dahulu, ketika bulan Sya’ban mereka berpencar mencari sumber-sumber air.

Dianjurkan Banyak Berpuasa

Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang disunnahkan bagi kaum muslimin untuk banyak berpuasa. Hal ini ditegaskan dalam hadits shahih berikut:

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa sehingga kami mengatakan dia tidak pernah berbuka, dan dia berbuka sampai kami mengatakan dia tidak pernah puasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasanya selama satu bulan kecuali Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat dia berpuasa melebihi banyaknya puasa di bulan Sya’ban.(H.R. Bukhari No. 1868)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga, katanya:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum pernah berpuasa dalam satu bulan melebihi puasa pada bulan Sya’ban.(H.R. Bukhari No. 1869)

Inilah bulan yang paling banyak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa sunnah. Tetapi, beliau tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan.

Apa sebab dianjurkan puasa Sya’ban?

Pada bulan Sya’ban amal manusia diangkat kepada Allah Ta’ala. Maka, alangkah baik jika ketika amal kita diangkat, saat itu kita sedang berpuasa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

شعبان بين رجب ورمضان يغفل الناس عنه ترفع فيه أعمال العباد فأحب أن لا يرفع عملي إلا وأنا صائم

Bulan Sya’ban, ada di antara bulan Rajab dan Ramadhan, banyak manusia yang melalaikannya. Saat itu amal manusia diangkat, maka aku suka jika amalku diangkat ketika aku sedang puasa.(H.R. An Nasai, 1/322 dalam kitab Al Amali. Status hadits: Hasan (baik). Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1898. Lihat juga Tamamul Minnah Hal. 412. Dar Ar Rayyah)

Adakah keutamaan malam Nishfu Sya’ban?

Ya, sebagaimana diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi, bahwa Beliau bersabda:

يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Allah Ta’ala menampakkan diriNya kepada hambaNya pada malam Nishfu Sya’ban, maka Dia mengampuni bagi seluruh hambaNya, kecuali orang yang musyrik atau pendengki.(Hadits ini diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi, satu sama lain saling menguatkan, yakni oleh Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amr, ‘Auf bin Malik, dan ‘Aisyah. Lihat Syaikh Al Albani, As Silsilah Ash Shahihah, 3/135, No. 1144. Darul Ma’arif. Juga kitab beliau Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/785. Al Maktab Al Islami. Namun, dalam kitab Tahqiq Misykah Al Mashabih, justru Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini, Lihat No. 1306, tetapi yang benar adalah shahih karena banyaknya jalur periwayatan yang saling menguatkan)

Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu sya’ban (malam ke-15 di bulan Sya’ban), yakni saat itu Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni semua makhluk kecuali yang menyekutukanNya dan para pendengki. Maka wajar banyak kaum muslimin mengadakan ritual khusus pada malam tersebut baik shalat atau membaca Al Quran, dan ini pernah dilakukan oleh sebagian tabi’in. Tetapi, dalam hadits ini –juga hadits lainnya- sama sekali tidak disebut adanya ibadah khusus tersebut pada malam itu, baik shalat, membaca Al Quran, atau lainnya. Oleh karena itu, wajar pula sebagian kaum muslimin menganggap itu adalah hal yang bid’ah (mengada-ngada dalam agama).

Maka, menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan berkumpul di masjid dan surau untuk melakukan ibadah tertentu adalah perkara yang diperselisihkan para ulama sejak masa tabi’in. Namun yang pasti Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Hendaknya setiap muslim berlapang dada dan toleran terhadap perbedaan ini, dan mengikuti sunnah adalah lebih baik bagi siapa pun. Agar keluar dari perselisihan pendapat dan perpecahan.

Larangan pada bulan Sya’ban

Pada bulan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada yaumusy syak (hari meragukan), yakni sehari atau dua hari menjelang Ramadhan. Maksud hari meragukan adalah karena pada hari tersebut merupakan hari di mana manusia sedang memastikan, apakah sudah masuk 1 Ramadhan atau belum, apakah saat itu Sya’ban 29 hari atau digenapkan 30 hari, sehingga berpuasa sunnah saat itu amat berisiko, yakni jika ternyata sudah masuk waktu Ramadhan, ternyata dia sedang puasa sunnah. Tentunya ini menjadi masalah.

Dalilnya, dari ‘Ammar katanya:

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barang siapa yang berpuasa pada yaumus syak, maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.(H.R. Bukhari, Bab Qaulun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Idza Ra’aytumuhu fa shuumuu)

Para ulama mengatakan, larangan ini adalah bagi orang yang mengkhususkan berpuasa pada yaumusy syak saja. Tetapi bagi orang yang terbiasa berpuasa, misal puasa senin kamis, atau puasa Nabi Daud, atau puasa sunnah lainnya, lalu ketika dia melakukan kebiasaannya itu bertepatan pada yaumusy syak, maka hal ini tidak dilarang berdasarkan riwayat hadits berikut:

 لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Janganlah salah seorang kalian mendahulukan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang  sedang menjalankan puasa kebiasaannya, maka puasalah pada hari itu.(H.R. Bukhari No. 1815)

Demikian. Semoga Sya’ban tahun ini kita bisa mengisi dengan berbagai kebaikan untuk mempersiapkan diri menuju bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Hadits-Hadits Seputar Sya’ban

Hadits:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika datang malam nishfu sya’ban maka shalatlah kalian pada malam harinya, dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada saat terbenamnya matahari, dan berkata: tidaklah orang yang minta ampunan kepadaKu maka Aku ampuni dia, tidaklah orang yang meminta rezeki maka Aku akan berikan dia rezeki, tidaklah orang yang mendapat musibah maka Aku akan memberinya pertolongan, dan tidaklah ini dan itu, hingga terbitnya matahari.(H.R. Ibnu Majah No. 1388. Al Bahiaqi, Syu’abul Iman, No. 3664)

Dalam sanad hadits ini terdapat Abu Bakar Ibnu Abi Sabrah.

Imam Al Haitsami menyebutnya sebagai  matruk (haditsnya ditinggalkan). (Majma’ Az Zawaid, 1/213), dan kadzab (pendusta). (Ibid, 6/268)

Pentahqiq Tahdzibul Kamal, yakni Dr. Basyar ‘Awad Ma’ruf mengatakan bahwa Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Ma’in menyebut Ibnu Abi Sabrah sebagai pemalsu hadits.

Shalih bin Ahmad bin Muhammad bin Hambal berkata: “Bapakku berkata kepadaku bahwa Ibnu Abi Sabrah adalah pemalsu hadits.” (Al Jarh wat Ta’dil, 7/ 306)

Imam Zainuddin Al ‘Iraqi mengatakan dalam Takhrijul Ihya’, bahwa hadits ini bathil dan sanadnya dha’if. (Takhrij Ahadits Al Ihya’ No. 630)

Imam Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif menyatakan bahwa hadits ini dha’if, dan Imam Al Mundziri mengisyaratkan kedha’ifan hadits ini dalam At Targhib. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 2132)

Hadits:

Dari Utsman bin Muhammad bin Al Mughirah bin Al Akhnas, beliau berkata:

تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان

Ajal manusia ditetapkan dari bulan sya’ban ke bulan sya’ban yang lain.(H.R. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3681)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini mursal. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/246). Hadits mursal adalah hadits yang sanadnya gugur di thabaqat (generasi/lapisan) akhirnya setelah tabi’in (tabi’in adalah generasi setelah sahabat Nabi). Maksudnya, hadits tersebut diriwayatkan dari seorang tabi’in langsung ke Rasulullah tanpa melalui seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Contoh seorang genarasi tabi’in berkata: Rasulullah bersabda …., inilah mursal, sedangkan hadits yang biasa kita dengar adalah dari seorang sahabat Nabi:  Rasulullah bersabda …, mayoritas ahli hadits dan fuqaha menyatakan bahwa hadits mursal adalah dhaif, demikian juga pendapat Imam Asy Syafi’i. Sedangkan menurut Malik, Abu Hanifah dan segolongan ulama, hadits mursal adalah shahih. (Lihat hal ini dalam karya Imam An Nawawi, At Taqrib wat Taisir, Hal. 3)

Menurut jumhur (mayoritas) ulama dan kalangan Asy Syafi’iyah, hadits mursal  adalah salah satu hadits dha’if. Hadits mursal adalah hadits yang rawinya pada tingkatan setelah tabi’in tidak disebutkan (digugurkan). Sehingga tidak bisa dipastikan apakah tabi’in tersebut mendengar langsung atau tidak.

Jadi, validitas hadits-hadits ini sangat diragukan, seandaipun shahih atau hasan, toh hadits ini sama sekali tidak menyebutkan tentang ritual khusus pada Nishfu Sya’ban, hanya menyebut keutamaannya saja.

Adapun hadits yang berbunyi:

Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban, seraya berkata, “Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu ke langit.”

Rasulullah bertanya, “Malam apa ini Jibril?”

Jibril menjawab. “Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturrahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu .”

Rasulullah pun keluar rumah, lantas mengerjakan shalat (sendirian) dan menangis dalam sujudnya, seraya berdoa:
”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab dan siksa-Mu serta kemurkaan-Mu. Tiada kubatasi pujian-pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu, maka bagi-Mu lah segala pujia-pujian itu Hingga Engkau rela.(H.R. Abu Hurairah)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3837. Imam Al Baihaqi sendiri berkata: wa haadza isnaad dhaif –isnad hadits ini dhaif. (Lihat Syu’abul Iman No. 3837)

Imam Ibnul Jauzi menyebutkan adanya cacat pada hadits ini. (Imam Az Zaila’i, Takhrij Al Kasysyaf, 3/265)

Alasan lemah dan cacatnya hadits ini telah disebutkan oleh Imam Abul Hasan Al Kinani, dia berkata:

وفيه محمد بن حازم مجهول وعنه إبراهيم بن عبد الله البصري وعن هذا حامد بن محمود الهمداني لم أعرفهما والله تعالى أعلم

Dalam sanad hadits ini terdapat Muhammad bin Hazim, seorang yang majhul (tidak dikenal), telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Abdullah Al Bashri, dan dari dia telah meriwayatkan Hamid bin Mahmud Al Hamdani, saya tidak mengetahui keduanya. Wallahu Ta’ala A’lam. (Imam Abul Hasan Al Kinani, At Tanzih, 2/150)

Demikianlah kedhaifan hadits-hadits tentang Nishfu Sya’ban.

Wallahu A’lam.

Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Maksudnya adalah memberikan keringanan bagi orang yang tidak kuat puasa berturut-turut, maka dianjurkan baginya untuk tidak berpuasa, sebagaimana orang yang sedang wukuf di Arafah dianjurkan tidak berpuasa agar dia kuat berdoa. Ada pun bagi orang yang mampu melakukannya maka tidak ada larangan baginya, oleh karenanya Nabi pun menggabungkan puasa selama dua bulan, dan seterusnya. (Ali Al Qari berkata): ini adalah komentar yang bagus, tetapi berselisih dengan madzhabnya sendiri bahwasanya berpuasa tanpa sebab dilakukan setelah 15 Sya’ban adalah makruh. (Ibid)

Imam Al Mundziri Rahimahullah berkata – dan beliau termasuk yang membolehkan puasa Sya’ban setelah tanggal 15:

من قال إن النهي عن الصيام بعد النصف من شعبان لأجل التقوى على صيام رمضان والاستجمام له ، فقد أبعد. فإن نصف شعبان إذا أضعف كان كل شعبان أحرى أن يضعف ، وقد جوز العلماء صيام جميع شعبان.

Barang siapa yang mengatakan bahwa larangan berpuasa setelah 15 Sya’ban adalah disebabkan kekuatan utuk puasa Ramadhan dan meringankannya, maka itu adalah pemahaman yang jauh. Jika memang setengah Sya’ban itu bisa melelahkan, maka berpuasa pada seluruh Sya’ban adalah lebih pantas untuk melemahkan. Para ulama telah membolehkan berpuasa pada seluruh hari Sya’ban. (Syaikh Waliyuddin At Tibrizi, Misykah Al Mashabih, 6/874)

Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Rahimahullah berkata:

قال بعض أئمتنا: يجوز بلا كراهة الصوم بعد النصف مطلقاً تمسكاً بأن الحديث غير ثابت أو محمول على من يخاف الضعف بالصوم

Sebagian imam kami berkata: dibolehkan  secara mutlak dan tidak makruh berpuasa setelah separuh Sya’ban, berdasarkan dalil bahwa hadits yang melarangnya adalah tidak tsabit (kuat), atau (kalau pun kuat, pen) maknanya adalah makruh bagi orang yang menjadi lemah dengan puasanya tersebut. (Ibid)

Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi Hafizhahullah berkata:

وحديث العلاء يدل على المنع من تعمد الصوم بعد النصف, لا لعادة، ولا مضافا إلى ما قبله

Hadits Al ‘Ala ini menunjukkan larangan menyengaja berpuasa setelah saparuh Sya’ban, padahal puasa bukan kebiasaan dia, dan bukan pula sebagai tambahan dari sebelumnya. (Al Ilmam bisy Syai’ min Ahkamish Shiyam, Hal. 6)

Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah juga berkata:

والمراد به النهي عن ابتداء الصوم بعد النصف ، أما من صام أكثر الشهر أو الشهر كله فقد أصاب السنة

Maksud dari larangan ini adalah memulai puasa setelah separuh Sya’ban, ada pun berpuasa lebih dari sebulan atau sebulan penuh maka itu sesuai dengan sunnah. (Majmu’ Fatawa, 15/385)

Dengan memadukan semua pandangan ulama ini, kesimpulannya:

  • Hadits ini diperselisihkan keshahihannya, pihak yang menshahihkan dan mendhaifkan adalah imam besar pada zamannya, namun pihak yang menshahihkan adalah ulama yang lebih besar dan berilmu, sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab.
  • Sekali pun shahih, larangan ini bermakna makruh, bukan haram.
  • Larangan terjadi jika hal itu membuat pelakunya lemah ketika memasuki Ramadhan
  • Larangan juga berlaku bagi orang yang tidak terbiasa puasa, namun sekalinya berpuasa dia menyengaja melakukannya pada hari setelah separuh Sya’ban, tanpa dia dahului berpuasa pada hari-hari sebelumnya.
  • Makruhnya juga bagi orang yang melakukannya tanpa sebab.
  • Jadi, puasa setelah separuh Sya’ban adalah boleh bagi: 1). yang memang sudah terbiasa puasa lalu kebiasaannya itu diteruskan ketika setelah 15 hari Sya’ban, 2). Yang melakukannya karena sebab khusus seperti Senin, Kamis, dan puasa Daud.

Sekian. Wallahu A’lam.

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi Ajma’in.

✍ Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah