Home LAIN-LAIN DAKWAH

Cadar dan Memori “Jilbab Beracun”

87
SHARE

Masih ingat kasus “Jilbab Beracun” Era 80-an?

Saat itu wanita berjilbab masih sangat-sangat jarang. Bahkan istri dari tokoh agama pun belum tentu berjilbab.

Masih sangat asing dan dituduh macam-macam; Islamnya beda, dibilang ninja, jika lewat disindir “bau surga”.

Bagi penguasa saat itu, simbol-simbol agama pun dianggap bentuk oposisi terhadap kekuasaannya. Oleh karena itu, pengusiran dari sekolah, kampus, pemecatan dari kantor dan pabrik, sering terjadi saat itu.

Sampailah peristiwa “Jilbab Beracun” yaitu wanita berjilbab yang menebarkan racun ke makanan (beras) yang akan mereka beli lalu mereka pergi.

Santer sekali isu ini bertahun-tahun lamanya, boleh dikatakan “berhasil” membuat takut orang zaman itu terhadap jilbab.

Isu itu hilang, ditelan zaman, siapa yang ada di balik isu itu pun tidak tersentuh.

Kemudian, zaman berganti busana muslimah dengan jilbab lebarnya sekarang sudah biasa dan dipakai di mana.

Dulunya dianggap “brand” muslimah PKS, saat ini sudah umum, hatta emak-emak dan nenek-nenek yang dulunya topi kupluk dan kerudungan saja, sekarang sudah berganti.

Cadar pun datang … walau ini bukan hal yang baru juga. Aktivis Islam dari Jamaah Tabligh, Salafi, Darul Arqam, sudah memperkenalkan sejak 1980-1990an.

Saat ini semakin trend dan diikuti banyak lapisan, tidak lagi brand kelompok tertentu.

Apakah datang dengan mulus? Tidak! Sebagaimana dulu jilbab dipandang penuh aneh dan kecurigaan, maka cadar pun mengalaminya.

Fitnah yang mereka alami, khususnya pasca peristiwa 911 WTC, lebih seram dibanding jilbab beracun, yaitu teroris!

Tidak diingkari bahwa khawarij dan bomber zaman now ada yang ber-stereotype seperti itu.

Peristiwa pemboman yang baru lalu menjadi kuat citra itu. Walau sejumlah pertanyaan muncul, benarkah mereka muslim? Ataukah bidak catur saja? Apakah di sini bermain teori konspirasi?

Sebab, jika cadar itu simbol teroris, seharusnya Makkah dan Madinah adalah dua kota yang akan penuh dengan ledakan, karena mayoritas wanita di sana bercadar. Tapi kita merasakan keamanan di sana dan baik-baik saja

Bagi yang nyinyir, antipati, dan dendam kepada Islam pasti membenarkan dan meyakini mereka adalah muslim.

Sementara aktivis Islam meyakini – sekali pun mereka muslim- mereka salah jalan.

Akhirnya, pada cadar ini kita hanyalah melihat pengulangan sejarah jilbab beracun, yang justru menjadi air bah perubahan di masyakarat dan semakin maraknya wanita berbusana muslimah, termasuk cadar.

Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (Q.S. Ash-Shaf: 8)

Agama Islam ini agama fitrah, sesuai dengan fitrah manusia, sekuat pun apa manusia membendungnya dan memfitnahnya, agama ini tetap akan sampai di rumah-rumah musuhnya sekalipun dan akan mewarnainya dengan warna Islam .

Wallahul Muwaffiq ilaa Aqwamith thariq.

✍ Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah