Home FIQIH IBADAH FIQIH HAJI DAN UMRAH

F.A.Q Dzulhijjah dan Qurban

121
SHARE
  1. Apa Keutamaan Bulan Dzulhijjah?

– Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari asyhurul hurum (bulan-bulan haram), di mana bulan-bulan haram itu ada empat: Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. (HR. Bukhari no. 3025)

– Bulan Haram, dinamakan demikian karena dahulu haramnya berperang dibulan-bulan itu. Menurut mayoritas ulama larangan tersebut telah mansukh (dihapus hukumnya) oleh ayat: wa qaatiluuhum haitsu tsaqiftumuuhum (dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka). (Imam Ibnu Jarir, Jami’ Al Bayan, 9/478-479. Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Ma’arif, Hal. 116)

– Di bulan-bulan haram ini, ditekankan lagi keharaman berbuat zalim. (QS. At Taubah: 36), walau sebenarnya kezaliman itu diharamkan sepanjang waktu.

– Dosa maksiat berlipat. Imam Ibnu Katsir mengatakan:

أي: في هذه الأشهر المحرمة؛ لأنه آكد وأبلغ في الإثم من غيرها، كما أن المعاصي في البلد الحرام تضاعف

Di bulan-bulan haram ini, berbuat zalim itu lebih berat lagi dosanya, sebagaimana maksiat di tanah haram juga berlipat-lipat dosanya.
(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/148)

– Allah Ta’ala bersumpah dengan 10 hari awal Dzulhijjah

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh. (Q.S. Al Fajr (89): 1-2)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maknanya:

والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف

(Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari pada Dzulhijjah.
Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubeir, Mujahid, dan lebih dari satu kalangan salaf dan khalaf. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Dar Ath Thayyibah)

Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sepuluh hari awal Muharram, ada juga ulama yang memaknai sepuluh hari awal Ramadhan. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. (Ibid) yakni sepuluh awal bulan Dzulhijjah.

– Nilai istimewa bagi Ibadah 10 hari pertama Dzulhijjah

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari No. 969)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya membahas kalimat “pada hari-hari ini”,
maksudnya sepuluh hari Dzulhijjah. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390). Maka, fadhilah jihad bahkan lebih bagi amal-amal shalih apa pun yang bisa kita lakukan antara tanggal satu hingga sepuluh Dzulhijjah; sedekah, shalat sunnah, shaum –kecuali pada sepuluh Dzulhijjah-, silaturrahim, dakwah, dan lainnya.

2. Apa sajakah program ibadah unggulan terkait bulan Dzulhijjah?

– Haji
– Shaum (puasa),
– Shalat ‘Id
– Qurban

3. Apakah sunnah shaum sejak awal Dzulhijjah?

Ya, itu sunnah dan tidak ada perbedaan pendapat tentang itu, yaitu sejak 1 s.d 9 Dzulhijjah. Dalilnya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

“Bahwa Nabi ﷺ berpuasa pada hari Asyura, sembilan hari dari bulan Dzulhijjah dan tiga hari setiap bulan, hari Senin pertama tiap bulan dan dua hari Kamis.” (HR. An Nasa’i no. 2372. Shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i no. 2372)

Tertulis dalam Al Mausu’ah :

اتفق الفقهاء على استحباب صوم الأيام الثمانية التي من أول ذي الحجة قبل يوم عرفة

Para ahli fiqih sepakat sunahnya puasa di hari-hari delapan di awal dzulhijjah sebelum hari arafah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/91)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ومن المسنون صوم شعبان ومنه صوم الايام التسعة من اول ذى الحجة وجاءت في هذا كله احاديث كثيرة

Di antara shaum yang disunnakan adalah shaum bulan sya’ban, shaum 9 hari di awal Dzulhijjah, dan tentang semua ini haditsnya begitu banyak. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/386)

4. Saya kok mendapatkan hadits bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah?

Ya, haditsnya dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ما رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- صائما فى العشر قط

Sedikit pun aku belum pernah lihat Rasulullah ﷺ berpuasa di 10 hari Dzulhijjah. (HR. Muslim no. 2846)

Para ulama menjelaskan bawa Rasulullah ﷺ meninggalkan puasa di hari-hari tersebut karena khawatir dianggap kewajiban.Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, memasukkan hadits ini dalam bab: Dzikr Ifthar An Nabi fi ‘Asyri Dzil Hijjah – Tentang Nabi tidak berpuasa di 10 hari Dzulhijjah. Setelah itu Imam Ibnu Khuzaimah membuat Bab:

بَاب ذِكْر عِلَّةٍ قَدْ كَانَ النَبِيّ – صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتْرُكُ لَهَا بَعْضَ أَعْمَالِ التَّطَوُّعِ وَإِنْ كَانَ يَحُثُّ عَلَيْهَا، وَهِيَ خَشْيَةَ أَنْ يُفْرَضَ عَلَيْهِمْ

Tentang alasan Nabi meninggalkan sebagian amal sunnah walaupun itu begitu dianjurkan sebab khawatir hal itu diwajibkan atas mereka.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah juga menjelaskan:

لاحتمال أن يكون ذلك لكونه كان يترك العمل وهو يحب أن يعمله خشية أن يفرض على أمته

Kemungkinannya, Beliau ﷺ meninggalkan sebuah amal padahal dia suka dengan amal itu, khawatir itu menjadi wajib bagi umatnya. (Fathul Bari, 2/593)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

فقال العلماء هو متأول على أنها لم تره ولا يلزم منه تركه في نفس الأمر لأنه صلى الله عليه وسلم كان يكون عندها في يوم من تسعة أيام والباقي عند باقي أمهات المؤمنين رضي الله عنهن أو لعله صلى الله عليه وسلم ، كان يصوم بعضه في بعض الأوقات وكله في بعضها ويتركه في بعضها لعارض سفر أو مرض أو غيرهما وبهذا يجمع بين الاحاديث

Para ulama memberikan takwil bahwa Aisyah tidak melihatnya bukan berarti Rasulullah tidak melakukannya, sebab Rasulullah ﷺ bersama Aisyah di sebagian waktu di 9 hari Dzulhijjah dan sebagian lain bersama Ummahatul Mu’minin (istri-istri) yang lain. Atau bisa jadi Rasulullah ﷺ puasa pada sebagian waktu dan semuanya saat bersama sebagin istriya dan meninggalkan puasa di saat bersama istrinya yang lain baik karena safar, sakit, atau sebab lainnya. Seperti inilah cara kompromi berbagai hadits. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/387)

5. Bagaimana dengan Shaum Tarwiyah (8 Dzulhijjah)?

Hadits-hadits tentang keutamaan shaum Tarwiyah didhaifkan para ulama. Namun, shaum di hari Tarwiyah tetaplah sunnah, sebab itu masuk cakupan shaum diawal-awal Dzulhijjah sebagaimana pembahasan sebelumnya.

Syaikh Shalah Muhammad Abul Haj Al Hanafi Hafizhahullah menjawab:

أقول وبالله التوفيق: يوم التروية هو الثامن من ذي الحجة، ويستحب صوم الأيّام الثّمانية الّتي من أوّل ذي الحجّة قبل يوم عرفة ويدخل فيها يوم التروية؛ لحديث ابن عبّاس رضي الله عنهما مرفوعاً: ((ما من أيّام العمل الصّالح فيها أحبّ إلى اللّه من هذه الأيّام – يعني أيّام العشر – قالوا: يا رسول اللّه، ولا الجهاد في سبيل اللّه؟ قال: ولا الجهاد في سبيل اللّه، إلاّ رجل خرج بنفسه وماله، فلم يرجع من ذلك بشيء))، في سنن أبي داوود، 5: 102، وصححه الألباني، والسنن الكبرى، 17: 138. والله أعلم.

Wabillahi wat Tawfiq.

Hari Tarwiyah adalah hari ke 8 di bulan. Dan disunnahkan berpuasa selama 8 hari di hari-hari awal Dzulhijjah sebelum hari Arafah, dan hari Tarwiyah termasuk di dalamnya.

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, secara marfu’:

Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari ini -yakni 10 hari Zulhijjah.

Mereka bertanya: “Tidak juga dengan jihad wahai Rasulullah?”
Nabi menjawab: “Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang laki-laki yang keluar membawa harta dan jiwanya, dan dia tidaklah kembali dengan itu semua (maksudnya: mati syahid).” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani).
Wallahu a’lam. (Fatwa Markaz Anwaar Al ‘Ulama Ats Tsaqafiy Ad Dauliy, No. 1323)

(Bersambung)