Home KONSULTASI SYARIAH

Gampang Mengkafirkan Sesama Muslim

45
SHARE

Bismilahirrahmanirrahim

Mudah mengkafirkan sesama muslim, tanpa bukti, tanpa dalil, adalah sangat terlarang. Sebab itu kebohongan atas nama Allah ﷻ dan atas nama kaum muslimin. Dia katakan kafir, padahal belum tentu di sisi Allah ﷻ dia telah kafir. Bahaya mengkafirkan tanpa bukti adalah bisa-bisa kekafiran itu kembali kepada si penuduh. Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Siapa pun yang berkata kepada saudaranya: “Wahai kafir, maka kekafiran itu akan yang kembali kepada salah satu dari mereka berdua, itu jika memang dia seperti dikatakannya, tapi kalau tidak, maka itu kembali kepada si pengucapnya.” (H.R. Muslim No. 60)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

لا يجوز التساهل في تكفير المسلم أو تفسيقه ؛ لما في ذلك من الافتراء على الله ، والافتراء على عباده المسلمين ، ولا يجوز تكفير المسلم أو تفسيقه إلا إذا جاء بما يوجب ذلك قولا أو فعلا بدلالة الكتاب والسنة .
وكذا لا يجوز تكفيره أو تفسيقه ، إلا بعد استيفاء شروط التكفير أو التفسيق ، وانتفاء موانعه .
ومن الشروط : أن يكون عالماً بمخالفته التي أوجبت أن يكون كافراً أو فاسقاً .
ومن الموانع : أن يكون متأولا ، أو عنده بعض الشُّبَه التي يظنها أدلة ، أو كان بحيث لا يستطيع فهم الحجة الشرعية على وجهها ، فالتكفير لا يكون إلا بتحقق تعمد المخالفة وارتفاع الجهالة .

Tidak boleh bermudah-mudah dalam mengkafirkan seorang muslim atau menuduh fasiq, karena hal itu mengandung kedustaan atas nama Allah dan atas hamba-hambaNya kaum muslimin.

Tidak boleh mengkafirkan atau memfasiqkan kecuali jika ada hal yang menunjukkan itu baik berupa perkataan atau perbuatan menurut Al Qur’an dan As Sunnah.

Tidak boleh pula mengkafirkan dan memfasiqkan kecuali setelah terpenuhinya syarat-syarat kekafiran dan kefasiqan, dan tidak ada penghalangnya.

Di antara syaratnya adalah dia mengetahui perbuatan yang menyelisihi syariat yang membawa kekafiran atau kefasiqan.

Di antara penghalangnya adalah dia melakukan itu karena mentakwil, atau menurutnya masih ada dalil yang samar dalam persangkaannya, atau dia tidak mampu memahami hujjah syar’iy, maka pengkafiran tidaklah terjadi kecuali dengan adanya kesengajaan menyelisihi syariat dan hilangnya kebodohan. (Al Islam Su’aal wa Jawaab No. 220526)

Maksudnya, jika kesalahan dalam pemahaman yang berakibat pada murtad dilakukan oleh orang yang bodoh, atau dia memiliki tafsir atau takwil lain terhadap masalah itu, maka dia tidak dikatakan kafir.

Demikian. Wallahu A’lam.

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah