Home KONSULTASI SYARIAH TJ HADITS

Hadits “Allahumma Baariklana Fi Rajaba Wa Sya’ban”

540
SHARE

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, Pak Ustadz. Ada yang bertanya seperti ini, mohon jawabannya. Apa arti dari kalimat “Allahumma balighnaa ramadhan”? Itu tulisan yang ada di bawah Ramadhan 100 hari lagi. Apakah shahih hadits tentang doa tersebut? Jazaakallahu khair.

Jawaban Ustaz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Wa’alaikumussalaam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Hadis tersebut sangat terkenal, sering terdapat dalam spanduk dan majalah-majalah Islam menjelang datangnya Ramadan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah ﷺ jika masuk bulan Rajab, dia berkata:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

Allahumma Barik lanaa fii Rajaba wa Syaban wa Barik lanaa fii Ramadhan” (Ya Allah… Berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban dan berkahilah kami di bulan Ramadan). (H.R. Ahmad: 2346, Ath Thabarani dalam Al-Mujam Al-Awsath: 4086, dengan teks agak berbeda yakni, Wa Balighnaa fii Ramadhan. Al Baihaqi dalam Syuabul Iman: 3654)

Dalam sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ruqad dan Ziyad an Numairi.

Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad, “Munkarul hadits,” (haditsnya munkar) (Imam al Haitsami dalam Majma az-Zawaid: 2/165. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Imam An-Nasai berkata, “Aku tidak tahu siapa dia.” Imam Adz-Dzahabi sendiri mengatakan, “Dhaif.” Sedangkan tentang Ziyad an-Numairi beliau berkata, “Ziyad dhaif juga.” (Imam Adz Dzahabi dalam Mizanul Itidal: 2/65)

Imam Abu Daud berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad, “Aku tidak mengenal haditsnya.” Sementara Imam An-Nasai dalam kitabnya yang lain, Adh Dhuafa, mengatakan, “Munkarul hadits.” Sedangkan dalam Al-Kuna dia berkata, “Tidak bisa dipercaya.” Abu Ahmad Al Hakim mengatakan, “Haditsnya tidak kokoh.” (Imam Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdzib: 3/305)

Imam al Haitsami berkata tentang Ziyad an Numairi, “Dia dhaif menurut jumhur (mayoritas ahli hadits)” (Majma az Zawaid: 10/388 terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah)

Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa penduduk Bashrah meriwayatkan dari Ziyad hadits-hadits munkar. Imam Yahya bin Main meninggalkan hadits-haditsnya, dan tidak menjadikannya sebagai hujjah (dalil). Imam Yahya bin Main juga berkata tentang dia, “Tidak ada apa-apanya.” (Imam Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin: 1/306)

Sementara dalam Al-Jarh wat Tadil, Imam Yahya bin Main mengatakan, “Dhaif.” (Imam Abu Hatim ar-Razi, Al-jarh Wat Tadil: 3/536)

Syaikh Al-Albani mendaifkan hadis ini, (Misykah al-Mashabih: 1369, 1/306. Lihat juga Dhaiful Jami: 4395), begitu pula Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan, “Sanadnya dhaif.” (Lihat Musnad Ahmad: 2346 terbitan Muasasah Ar Risalah)

Catatan:
Jika doa ini dibaca dengan tanpa menyandarkan kepada Rasulullah ﷺ, tidak menganggapnya sebagai ucapan Nabi ﷺ, hanya meminjam redaksinya, maka tidak mengapa bagi sebagian imam. Sebab, berdoa walau dengan susunan kalimat sendiri memang diperbolehkan. Tetapi, sebagusnya tidak membudayakannya, sebab pada akhirnya manusia akan menyangka bahwa hadits tersebut adalah valid dari Nabi ﷺ.

Hal ini kembali kepada khilafiyah ulama tentang bolehkah hadits dhaif digunakan dalam fadhailul a’mal? Doa termasuk fadhailul a’mal.

Mayoritas ulama menyatakan boleh, bahkan Imam An-Nawawi menyatakan sepakat kebolehannya. Tetapi dalam kenyataan sejarah, sebagian ulama ada yang tidak membolehkannya seperti Ibnu Hazm, Ibnul ‘Arabi, Ahmad Syakir, dll.

Jadi, toleran saja dalam hal ini.

Wallahu A’lam.