Home FIQIH

Hukum Adzan buat Bayi

82
SHARE

Dari Abu Rafi’, dari ayahnya, ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ

“Aku melihat Rasulullah ﷺ adzan seperti adzan shalat di telinga Al Hasan ketika dilahirkan oleh Fathimah.” (H.R. Abu Daud no. 5105. At Tirmidzi No. 1514, katanya: hasan shahih)

Imam At Tirmidzi mengatakan:

وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى هَذَا الْحَدِيثِ

Sebagian ulama telah berpendapat dengan hadits ini.” (Sunan At Tirmidzi No. 1514)

Tentu ulama yang dimaksud oleh Imam At Tirmidzi adalah ulama pada masanya, atau sebelumnya, atau bisa dari kalangan tabi’in atau sahabat Nabi ﷺ. Wallahu A’lam.

Bukan hanya Imam At Tirmidzi yang menghasankan, juga para imam lainnya:

  • Imam Al hakim dalam Al Mustadrak, 3/179, beliau mengatakan: sanadnya shahih tetapi Bukhari Muslim tidak meriwayatkannya.
  • Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri

Beliau sebenarnya mengakui kelemahan hadits ini, tetapi beliau tetap mengamalkannya karena menurutnya ada riwayat lain yang menguatkanya. Berikut perkataannya:

فَإِنْ قُلْت : كَيْفَ الْعَمَلُ عَلَيْهِ وَهُوَ ضَعِيفٌ لِأَنَّ فِي سَنَدِهِ عَاصِمَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ كَمَا عَرَفْت . قُلْتُ : نَعَمْ هُوَ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ يُعْتَضَدُ بِحَدِيثِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا الَّذِي رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ وَابْنُ السُّنِّيِّ .

Jika Anda katakan: bagaimana bisa mengamalkan hadits ini padahal dhaif lantaran dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah sebagaimana yang Engkau tahu.” Saya jawab: “Benar, dia adalah dhaif tetapi hadits ini didukung oleh hadits Al Husein bin Ali Radhiallahu ‘Anhuma yang diriwayatkan Abu Ya’la Al Maushili dan Ibnus Sunni.” (Tuhfah al Ahwadzi, 4/169. Syamilah)

  • Syaikh Syu’aib Al Arnauth

Beliau mengomentari hadits ini:

عاصم بن عبيد الله ضعيف، وباقي رجاله ثقات.

Ashim bin Ubaidillah adalah seorang yang dhaif, dan para perawi lainnya adalah tsiqat (terpercaya).” Lalu beliau mengatakan:

  وله شاهد من حديث ابن عباس عند البيهقي في ” شعب الايمان ” يتقوى به نقله عنه ابن القيم في ” تحفة المودود ” ص (31)

Hadits ini memiliki syahid (saksi penguat) dari Hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, yang menguatkannya. Ini disebutkan Ibnul Qayyim dalam Tuhfah al Maudud, Hal. 31. (Lihat Siyar A’lamin Nubala, 3/248. Catatan kaki No. 2)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth telah membahas hadits ini secara detail dalam tahqiq (penelitian) terhadap Musnad Imam Ahmad, bahwa hadits Abu Rafi’ ini sebenarnya dhaif, juga beberapa riwayat yang menjadi syahidnya, juga dhaif bahkan sebagian diriwayatkan oleh para perawi yang tertuduh sebagai pemalsu hadits. Namun beliau mengatakan:

قلنا: ومع ضعف الحديث الوارد في هذه المسألة، فقد عمل به جمهور الأمة قديماً وحديثاً، وهو ما أشار إليه الترمذي عقبَه بقوله: والعمل عليه.

Kami mengatakan: bersamaan dengan dhaifnya hadits dalam masalah ini, mayoritas umat telah mengamalkannya baik umat terdahulu atau saat ini. Ini telah diisyaratkan oleh At Tirmidzi dengan komentar setelah riwayat ini: “hadits ini diamalkan.” (Tahqiq Musnad Ahmad , 39/298. Muasasah Ar Risalah)

Imam Adz Dzahabi juga mengutip hadits ini ketika menceritakan biografi Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu, tetapi beliau tidak berkomentar apa-apa. (Lihat Siyar A’lamin Nubala, 3/248.

  • Sementara Imam Ibnul Qayyim menjadikan hadits ini sebagai hujjah dalam kitab Tuhfatul Maudud.

Beliau menyebutkan tiga buah hadits:

  • Hadits dari Abu Rafi’  ini, lalu Imam Ibnul Qayyim mengutip penshahihan Imam At Tirmidzi.
  • Hadits dari Al Hasan bin Ali, yang diriwayatkan Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
  • Hadits dari Ibnu Abbas, yang juga diriwayatkan Imam Al  Baihaqi. Namun hadits 2 dan 3 ini disebut oleh Imam Ibnul Qayyim: wa fi isnadihima dhaif – pada isnad keduanya dhaif. (Tuhfah Al Maudud, Hal. 21)

Maka, jika menilai hadits ini hasan bahkan shahih, wajar jika sebagian fuqaha berhujjah dengan hadits ini baik sejak dahulu hingga sekarang.

Di antaranya:

  • Imam Ibnul Qayyim yang menyatakan sunnah mengadzankan bayi pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri. (Tuhfah, Hal. 21)
  • Imam Asy Syaukani
  • Syaikh Sayyid Sabiq, yang menyatakan sunnahnya mengadzankan bayi pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri. (Fiqhus Sunnah, 3/329-30)
  • Syaikh Al Mubarkafuri juga menyatakan kesunnahan adzan di telinga bayi. (Tuhfah al Ahwadzi, 4/169)
  • Para ulama di Kuwait dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah:
يُسَنُّ الأَْذَانُ فِي أُذُنِ الْمَوْلُودِ حِينَ يُولَدُ ، وَفِي أُذُنِ الْمَهْمُومِ فَإِنَّهُ يُزِيل الْهَمَّ ، وَخَلْفَ الْمُسَافِرِ ، وَوَقْتَ الْحَرِيقِ ، وَعِنْدَ مُزْدَحِمِ الْجَيْشِ ، وَعِنْدَ تَغَوُّل الْغِيلاَنِ وَعِنْدَ الضَّلاَل فِي السَّفَرِ ، وَلِلْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ ، وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إِنْسَانٍ أَوْ بَهِيمَةٍ ، وَعِنْدَ إِنْزَال الْمَيِّتِ الْقَبْرَ قِيَاسًا عَلَى أَوَّل خُرُوجِهِ إِلَى الدُّنْيَا .
وَقَدْ رُوِيَتْ فِي ذَلِكَ بَعْضُ الأَْحَادِيثِ مِنْهَا مَا رَوَى أَبُو رَافِعٍ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ

“Kelompok yang memperluas dalam hal ini adalah kalangan Syafi’iyah, mereka mengatakan: disunnahkan adzan ke telinga bayi yang baru lahir, ke telinga orang bersedih karena itu bisa menghilangkan kesedihan, musafir yang tertinggal, waktu kebakaran, ketika pasukan sangat penuh sesak, diganggu syetan, ketika musafir yang kesasar, dalam keadaan takut, marah, untuk orang dan ternak yang buruk perangainya, dan ketika menurunkan mayit ke kubur diqiyaskan sebagaimana ketika dia lahir ke dunia. Dan telah diriwayatkan dalam hal ini pada sebagian hadits. Diantaranya riwayat Abu Rafi’: Saya melihat Nabi Shallallahu ‘A;ahi wa Sallam adzan di telinga Al Hasan ketika dia dilahirkan Fathimah.” (Al Mausu’ah, 2/373)

 

Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah