Home AL QUR'AN

Hukum Tadarus Al-Qur’an Berjamaah di Masjid

246
SHARE

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisiNya. (H.R. Muslim No. 2699)

Anjuran Membaca dan Belajar Al-Qur’an di Masjid

Hadits ini menunjukkan anjuran kuat untuk berkumpul di masjid dalam rangka membaca Al Quran dan mempelajarinya, atau secara umum berkumpul dalam rangka majelis dzikir. Di mana Allah Ta’ala dan para malaikatNya sangat meridhai semua itu.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

أن قراءة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة وأفعال السلف والخلف المتظاهرة

Sesungguhnya berkumpulnya jamaah untuk membaca Al Quran adalah perkara yang mustahab (sunnah), berdasarkan berbagai dalil yang jelas, dan perilaku para salaf, dan khalaf yang begitu jelas. (At Tibyan fi Aadab Hamalatil Quran, Hal. 71)

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

هذا دليل على فضل الإجتماع على تلاوة القرآن في المساجد

Ini adalah dalil tentang keutamaan berkumpul dalam rangka membaca Al Quran di masjid-masjid. (Syarh Al Arbain Nawawiyah, Hal. 93)

 Cara Tadarus

Bagaimanakah cara membacanya? Yaitu mereka membaca masing-masing, atau satu orang membaca lalu yang lain menyimaknya dan mengoreksi jika ada kesalahan, dan tidak apa-apa dibaca berbarengan jika dalam rangka belajar, seperti seorang guru membaca lalu diikuti oleh murid-muridnya secara koor.

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah dalam Bab fil Idarah bil Quran (Bab Bergiliran Membaca Al Quran), pada kitab At Tibyan-nya:

وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا أو جزءا أو غير ذلك ثم يسكت ويقرأ الأخر من حيث انتهى الأول ثم يقرأ الآخر وهذا جائز حسن وقد سئل مالك رحمه الله تعالى عنه فقال لا بأس به

Yaitu berkumpulnya jamaah, sebagian mereka membaca sepuluh ayat atau satu juz atau selain itu, kemudian mereka berhenti, dan dilanjutkan bacaannya oleh lainnya dengan melanjutkan ayat yang terakhir dibaca. Ini boleh dan bagus. Imam Malik Rahimahullah ditanya hal ini, Beliau menjawab: tidak apa-apa. (At Tibyan, Hal. 103)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abad Al Badr Hafizhahullah menambahkan:

[ (ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله) ] بيوت الله هي المساجد، قيل: ويلحق بها دور العلم والأماكن التي تخصص للعلم ونشر العلم. قوله: [ (ويتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم) ] يعني: يقرءون كتاب الله، سواءٌ أكانت هذه القراءة بأن يقوم شخص ويقرأ ويفسر أو غيره يفسر، أم أنهم يجتمعون بحيث يقرأ واحد منهم مقداراً من القرآن ويستمع الباقون، ويكون هناك شخص يصوب قراءته ويبين ما عليه من ملاحظات، كل ذلك يدخل تحت التدارس

(Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah) yaitu masjid-masjid. Dikatakan: dikaitkan dengannya sebagai tempat ilmu dan tempat-tempat khusus untuk mencari ilmu dan menyebarkannya. (mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya) yakni mereka membaca Kitabullah, keadaanya sama saja apakah ada seorang yang membaca dan menafsirkan, atau orang lain yang menafsirkan, atau mereka berkumpul dengan satu orang di antara mereka membaca sejumlah ayat Al Quran dan yang lain mendengarkan, lalu ada orang yang mengoreksi bacaannya dan menjelaskan dengan berbagai keterangan. Semua ini termasuk makna tadarus. (Lihat Syarh Sunan Abi Daud [175])

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

وَكَانَ أَصْحَابُهُ إذَا اجْتَمَعُوا أَمَرُوا وَاحِدًا مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ وَالْبَاقِي يَسْتَمِعُونَ . وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ لِأَبِي مُوسَى ذَكَرْنَا رَبَّنَا فَيَقْرَأُ وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ وَقَدْ رُوِيَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ وَمِنْهُمْ وَاحِدٌ يَقْرَأُ فَجَلَسَ مَعَهُمْ } وَقَدْ رُوِيَ فِي الْمَلَائِكَةِ السَّيَّارِينَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ الْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ

Dahulu para sahabat Nabi, jika mereka berkumpul mereka memerintahkan salah seorang membaca Al Quran, sedangkan yang lain mendengarkan. Umar bin Al Khaththab berkata kepada Abu Musa: “ingatkanlah kami kepada Tuhan kami.” Lalu Abu Musa membaca Al Quran dan mereka (para sahabat) mendengarkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar rumah menuju Ahlush Shuffah (para sahabat yang tinggal di masjid Nabawi, pen), ada salah seorang mereka yang membaca Al Quran dan dia berada bersama mereka. Diriwayatkan pula bahwa para malaikat berkeliling mencari majelis-majelis dzikir, hadits ini telah dikenal. (Majmu Al Fatawa, 23/133)

Bukan Hanya Majelis Ilmu

Sebagian ulama membatasi majelis dzikir hanya majelis ilmu.

Imam ‘Atha Rahimahullah berkata:

مجالس الذكر هي مجالس الحلال والحرام، كيف تشتري وتبيع وتصلي وتصوم وتنكح وتطلق وتحج، وأشباه هذا

“Majelis-majelis dzikir adalah majelis tentang halal dan haram, tata cara membeli, menjual, shalat, puasa, nikah, thalaq, haji, dan yang semisalnya.” (Imam An Nawawi, Al Adzkar, Hal. 11. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Hal itu bertentangan dengan riwayat Imam Al Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (kami ringkas saja)

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا……………….

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka menemukan sekelompok kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka para malaikat memanggil: marilah sambut hajat kalian. Lalu mereka ( kaum yang berdzikir) dinaungi dengan sayap-sayap mereka menuju langit dunia, lalu berkata: “mereka memohon kepada Tuhan mereka -dan Dia lebih tahu dibanding mereka. (Allah bertanya): “apa yang diucapkan hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab: “Mereka bertasbih (dengan subhanallah) kepadaMu, bertakbir (membesarkan dengan ‘Allahu Akbar), bertahmid (memuji dengan Alhamdulillah), dan bertamjid (memuliakan)Mu.” Allah berfirman: “Apakah mereka melihat Aku?” Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu.” Allah bertanya: “Bagaimana jika mereka melihat Aku?” Para malaikat menjawab: “Seandainya mereka melihatMu niscaya mereka akan lebih kuat lagi beribadah kepadaMu, dan lebih kuat bertamjid, tahmid, dan lebih banyak bertasbih kepadaMu …………”

Hadits ini menunjukkan bahwa mereka berkumpul dengan bertasbih, tahmid, takbir, dan lainnya. Tentunya ini adalah berdzikir dengan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, bukan majelis ilmu semata. Oleh karena itu Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengomentari hadits ini:

وهذا من فضائل مجالس الذكر تحضرها الملائكة بعد التماسهم لها والمراد بالذكر هو التسبيح والتحميد وتلاوة القرآن ونحو ذلك

“Ini merupakan keutamaan majelis-majelis dzikir yang malaikat hadir di dalamnya setelah mereka menemukannya. Dan yang dimaksud dengan dzikir adalah bertasbih, bertahmid, membaca Al Quran, dan yang semisalnya.” (Imam Muhammad bin Ismail Ash Shan’ani, Subulus Salam, 4/213)

Bahkan Imam An Nawawi memperluas makna dzikir, bukan hanya seperti itu tapi juga semua bentuk ketaatan.

Beliau berkata:

اعلم أن فضيلة الذكر غير منحصرة في التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير ونحوها، بل كل عامل لله تعالى بطاعة فهو ذاكر لله تعالى، كذا قاله سعيد بن جبير رضي الله عنه وغيره من العلماء

“Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir tidaklah dibatasi hanya pada tasbih, tahmid, takbir, dan semisalnya. Tetapi semua amal ketaatan yang dilakukan untuk Allah Ta’ala juga merupakan dzikrullah Ta’ala. Demikianlah yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubeir Radhiallahu ‘Anhu dan ulama lainnya.” (Al Adzkar, Hal. 11)

Sedangkan Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah masih meragukan ‘majelis ilmu’ dimasukan sebagai bagian dari majelis dzikir. Beliau berkata:

الْمُرَاد بِمَجَالِس الذِّكْر وَأَنَّهَا الَّتِي تَشْتَمِل عَلَى ذِكْر اللَّه بِأَنْوَاعِ الذِّكْر الْوَارِدَة مِنْ تَسْبِيح وَتَكْبِير وَغَيْرهمَا وَعَلَى تِلَاوَة كِتَاب اللَّه سُبْحَانه وَتَعَالَى وَعَلَى الدُّعَاء بِخَيْرَيْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة ، وَفِي دُخُول قِرَاءَة الْحَدِيث النَّبَوِيّ وَمُدَارَسَة الْعِلْم الشَّرْعِيّ وَمُذَاكَرَته وَالِاجْتِمَاع عَلَى صَلَاة النَّافِلَة فِي هَذِهِ الْمَجَالِس نَظَر ، وَالْأَشْبَه اِخْتِصَاص ذَلِكَ بِمَجَالِس التَّسْبِيح وَالتَّكْبِير وَنَحْوهمَا وَالتِّلَاوَة حَسْب ، وَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَة الْحَدِيث وَمُدَارَسَة الْعِلْم وَالْمُنَاظَرَة فِيهِ مِنْ جُمْلَة مَا يَدْخُل تَحْت مُسَمَّى ذِكْر اللَّه تَعَالَى

“Maksud dari majelis dzikir adalah mencakup berdzikir kepada Allah dengan berbagai jenis kalimat dzikir yang warid (datangnya dari sunnah) berupa tasbih, takbir, dan selain keduanya. Dan, termasuk membaca Kitabullah, berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Ada pun membaca hadits nabawi, mengkaji ilmu syar’i, dan mendiskusikannya, berkumpul (berjamaah) untuk melakukan shalat sunah, maka memasukan majelis-majelis seperti ini (sebagai majelis dzikir, pen) masih perlu dipertimbangkan (nazhar). Serupa dengan ini adalah mengkhususkan hal itu dengan majelis tasbih, takbir, dan semisalnya, dan membaca Al Quran. Dan, jika sekedar membaca hadits, mengkaji ilmu, dan mendebatkannya dalam artian secara umum, maka tidaklah dia termasuk dari penamaan dzikrullah Ta’ala.” (Imam Abul Fadhl Ahmad bin Hajar, Fathul Bari, 11/212. Darul Fikr, dengan tahqiq; Syaikh Ibnu Baaz. Lihat juga Syaikh Abul ‘Ala bin Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 10/60. Cet. 2. 1963M-1383H. Al Maktabah As Salafiyah)

Tadarusan Malam Hari di Ramadhan

Khusus di bulan Ramadhan, maka tadarusan bersama itu merupakan sunnah Nabi ﷺ dan malaikat Jibril ‘Alaihissalam.

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:

وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Jibril menemuinya pada tiap malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya. (H.R. Bukhari No. 3220)

Wallahu A’lam.

Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah