Home AQIDAH

Ijma’ Ulama Sejak Dahulu: “Bumi Adalah Bulat”, Stop Mendebatkannya!

57
SHARE

Syaikh Muhammad Shalih Al Munjid Hafizhahullah berkata:

الحمد لله
حكى غير واحد من أهل العلم الإجماع على كروية الأرض ، ومن ذلك :
ما نقله شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله عن أبي الحسين ابن المنادي رحمه الله ، حيث قال ” وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة ……
قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل الكرة . قال : ويدل عليه أن الشمس والقمر والكواكب لا يوجد طلوعها وغروبها على جميع من في نواحي الأرض في وقت واحد ، بل على المشرق قبل المغرب ” انتهى من “مجموع الفتاوى” (25/195) باختصار

Segala puji bagi Allah. Lebih dari satu ulama yang menceritakan adanya IJMA’ (konsensus ulama) tentang bulatnya bumi. Di antaranya, apa yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Abul Husain bin Al Munadiy Rahimahullah, ketika dia berkata:

“Berkata Al Imam Abul Husain Ahmad bin Ja’far Al Munadiy- salah satu pentolan ulama yang paham ilmu hadits dan terkenal dengan karya-karyanya yang besar dalam berbagai cabang ilmu agama dan dia generasi kedua dari pengikut Imam Ahmad bin Hambal:

“Tidak ada perselisihan pendapat ulama bahwa langit itu semisal dengan bulatan .. “
Dia berkata: “Demikian juga mereka telah IJMA’ bahwa bumi dengan semua pergerakannya baik lautan dan daratannya seperti bulatan [bola] ..”

Hal itu ditunjukkan oleh bahwa matahari, bulan, bintang-bintang, tidaklah ditemukan bahwa mereka terbit bagi semua orang di bumi dalam satu waktu, tetapi yang terjadi di Timur dulu sebelum di Barat. (Secara ringkas dari Majmu’ Fatawa, 25/195).

Kemudian Syaikh Muhammad Shalih Al Munjid juga berkata:

وبهذا تعلم أن كون الأرض كروية ، لا ينافي كونها كالبيضة ، وإنما القول الباطل هو الزعم بأنها مسطحة كما كانت تعتقد الكنيسة ، ولهذا كانت تلعن وتحرق من يقول بكرويتها من العلماء

Dengan ini Anda mengetahui bahwa bentuk bumi adalah bulat, dan bulatnya itu tidaklah menafikan bahwa bentuknya seperti telur, dan hanyalah pendapat yang bathil yang mengatakan bahwa bentuknya adalah DATAR seperti yang diyakini kaum gerejani, oleh karena itu mereka melaknat dan membakar para cendikiawan yang mengatakan bumi adalah bulat. (Lihat Mawqi’ Al Islam Su’aal wa Jawaab, 9/225)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah berkata:

وأجمعوا على كروية الأرض أو بيضويتها وأنها تدور، ولم يكن في كتاب الله تعالى ولا سنة رسوله صلى الله عليه وسلم ما ينافي ذلك.

Para ulama telah ijma’ tentang bulatnya bumi atau oval, dan bahwa bumi itu berputar, dan tidak ada dalam Al Quran, dan tidak pula dalam As Sunnah Rasulullah ﷺ yang mengingkari hal itu. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, No. 60279)

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah:

الأرض كروية الكل مسطحة الجزء .

Bumi keseluruhannya bulat walau ada bagian yang datar. (Fatwa No. 9544)

Ijma’ Ulama telah Terjamin Kebenarannya

Dalam hadits juga disebutkan:

إن الله تعالى لا يجمع أمتي على ضلالة وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَة

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah meng-ijma’kan umatku dalam kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah.” (H.R. At Tirmidzi No. 2255, Shahih, lihat Shahihul Jami’ No 1848)

Dan, orang-orang yang mengingkari ijma’ adalah penghancur dasar-dasar agama, sebagaimana kata Imam As Sarkhasi dalam kitab Ushul-nya:

Orang-orang yang mengingkari keberadaan ijma sebagai hujjah, maka mereka telah membatalkan ushuluddin [dasar-dasar agama], padalah lingkup dasar-dasar agama dan referensi umat Islam adalah ijma’nya mereka, maka para munkirul ijma [pengingkar ijma’] merupakan orang-orang yang merobohkan dasar-dasar agama.” (Ushul As Sarkhasi, 1/296. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Stop Debat tidak Produktif

Tentang bulatnya bumi, dalam dunia Islam telah berlangsung belasan abad lamanya. Jauh sebelum lahirnya beragam isme-isme yang kita kenal saat ini. Namun, ada segelintir pihak ingin mengembalikan manusia ke masa-masa kegelapan ketika mengatakan bumi itu datar, berbalut kajian ilmiah yang semu, mencomot ayat sepotong dan tidak merujuk kepada para ulama. Hanya bermodal semantik game, clip-clip Youtube, plus menuduh kebohongan kepada para ribuan ahli dan ilmuwan, entah apa target mereka? Apa tujuan mereka? Kepuasan apa yang mereka inginkan?

Sungguh Zionis dan imperialis AS tidak bisa dikalahkan dengan perdebatan ini, sebagaimana Islam tidak bisa dimenangkan dengan perdebatan ini. Ini menguras tenaga, pikiran, waktu, dan persaudaraan. Maka, tinggalkan debat-debat tidak produktif, debat kemunduran, debat yang tidak mendatangkan iman dan amal shalih, tidak mendatangkan keyakinan apa pun kecuali kebingungan. Si miskin tidak memerlukan debat ini, si kaya tidak menyukai ini. Mengetahui tentang ini tidak mendatangkan manfaat, dan tidak tahu pun tidak ada rugi. Maka, kembalilah kepada bimbingan ulama Islam.

Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah memberikan nasihat:

وكل مسألة لا ينبني عليها عمل فالخوض فيها من التكلف الذي نهينا عنه شرعا , ومن ذلك كثرة التفريعات للأحكام التي لم تقع , والخوض في معاني الآيات القرآنية الكريمة التي لم يصل إليها العلم بعد

Memperdalam pembahasan tentang masalah-masalah yang amal tidak dibangun di atasnya [tidak menghasilkan amal nyata] adalah sikap takalluf [memaksakan diri] yang dilarang Islam.
Misalnya memperluas pembahasan tentang berbagai hukum bagi masalah-masalah yang tidak benar-benar terjadi, memperbincangkan makna ayat-ayat Al-Qur’an yang belum dijangkau oleh ilmu pengetahuan. (Ushul ‘Isyrin No. 9)

Beliau juga berkata:

وقد يتناول كل من النظر الشرعي والنظر العقلي ما لا يدخل في دائرة الآخر , ولكنهما لن يختلفا في القطعي , فلن تصطدم حقيقة علمية صحيحة بقاعدة شرعية ثابتة ، ويؤول الظني منهما ليتفق مع القطعي , فإن كانا ظنيين فالنظر الشرعي أولى بالإتباع حتى يثبت العقلي أو ينهار .

Pandangan teori agama dan pandangan akal masing-masing punya domain, dan tidak boleh dicampuradukkan, keduanya tidak akan pernah berselisih dalam masalah yang pasti kebenarannya. Maka, selamanya hakikat teori ilmiah yang shahih tidak akan bertentangan dengan kaidah syar’i yang pasti. Jika salah satu di antara keduanya ada yang bersifat zhanni [dugaan], dan yang lainnya adalah qath’i [pasti], maka yang zhanni mesti ditarik agar sesuai dengan yang qath’i, jika keduanya sama-sama zhanni maka pandangan agama lebih utama diikuti, sehingga akal mendapatkan legalitasnya atau gugur sama sekali. (Ushul ‘Isyrin, No. 19)

Demikian. Wallahu A’lam.

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah