Home LAIN-LAIN DAKWAH

Islam dan Nasionalisme; Mestikah Dipertentangkan?

49
SHARE

Nasionalisme sebagai sebuah isme (paham), baru muncul abad 19 sebagai respon atau perlawanan sebuah negeri terjajah kepada penjajah

Di sisi ini, nasionalisme adalah hal yang baik, karena jiwa merdeka adalah ajaran Islam “membebaskan ketundukan makhluk kepada makhluk menjadi ketundukkan makhluk kepada Sang Khaliq.”

Nasionalisme, jika dianggap ekspresi cinta seseorang kepada tanah air dan kampung halamannya, diiringi keinginan untuk berkarya di atasnya, ini jelas bukan kesalahan. Ini naluriah, dan suatu yang naluriah tidak mungkin dihilangkan oleh Islam, tapi diatur agar berdiri pada tempatnya dengan indah.

Nasionalisme, jika itu adalah semangat untuk membela tanah air, negeri, yang hakikatnya amanah Allah yang mesti dijaga, dari penguasaan asing dan imperialisme modern maka ini pun sejalan dengan Islam sebab Nabi ﷺ berpesan: Siapa yang terbunuh karena membela hartanya sendiri maka dia syahid. Lalu, bagaimana dengan terbunuh membela harta yang merupakan kepentingan orang banyak yaitu tanah air?

Dalam Tsalits Al Majalisah karya Ad Dainuri, dari jalan Al Ashmu’i, dia berkata: Aku mendengar seorang Arab pedalaman berkata:

إذا أردت أن تعرف الرجل فانظر كيف تحننه إلى أوطانه، وتشوقه إلى إخوانه، وبكاؤه على ما مضى من زمانه

Jika engkau ingin mengenal seorang laki-laki, maka lihatlah bagaimana kecintaannya terhadap tanah airnya, dan kerinduannya terhadap saudara-saudaranya serta kesedihannya atas waktu yang telah lalu.(Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, No. 386. Cet. 1. 1405H-1985M. Darul Kitab Al ‘Arabi, Beirut)

Mengingkari rasa cinta kepada negeri sendiri dan rindu kampung halaman, adalah sikap melampaui batas. Sebab secinta apapun Nabi ﷺ terhadap kota Madinah, beliau pun merindukan kampung halamannya, Makkah.

Oleh karena itu ketika Ushail menyebut-nyebut kota Makkah, Nabi pun menitikkan air mata dan berkata kepadanya:

يا أصيل دع القلوب تقر

Wahai Ushail biarkan hati ini tenang …(H.R. Ala’uddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Umal No. 34702, Raudhul Unuf, 3/23. Ibnu Makula dalam Al Ikmal (1/28). Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Ishabah fi Ma’rifatish Shahabah, 1/30. Mawqi’ Al Warraq. Juga Al Marzuqi dalam Al Azmanah wal Amkanah, Hal. 189. Mawqi’ Al Warraq, dan Ibnul Atsir dalam An nihayah fi Gharibil Hadits, 1/209. Al Maktabah Al ‘Ilmiyah).

Untuk menggambarkan kerinduan terhadap tanah airnya (Makkah), Bilal pun bersyair (Ar Rasul war Risalat, Hal. 172):

ألا ليت شعري هل أبيتن ليلة بواد وحولي إذخر وجليـل
وهل أردن يوما ميـاه مجنة وهل يبدون لي شامة وطفيل

Oh angan …

Masih mungkinkah kulalui malam di suatu lembah

Idzkhir mengitariku bersama Jalil

Masih mungkinkah kutandan gemercik air Mijannah

Adakah Syamah dan Thufail menampakkan diri untukku?

Islam hanya menentang qaumiyah dhayyiqah (nasionalisme sempit) yang memandang kemuliaan dan keunggulan sebuah ras di atas ras lainnya, sebuah bangsa di atas bangsa lainnya, sebuah suku di atas suku lainnya, sehingga lahirnya sikap Iblis: ana khairu minhu (aku lebih baik darinya), sebab keunggulan dan kemuliaan yang benar adalah disebabkan taqwanya.

Begitu pula Islam menentang nasionalisme yang menghilangkan kebanggaan dan identitas seorang muslim kepada agamanya, lebih mengunggulkan fanatisme daerah, ras, dan kelompok di atas keislamannya. Inilah fanatisme jahiliyah yang tercela.

Oleh karena itu Nabi ﷺ mengkritik kaum Anshar (Madinah) yang hampir perang saudara antara mereka lagi setelah mereka sudah disatukan oleh Islam, karena muncul kembali kesombongan suku di antara mereka: Aus dan Khazraj

Maka, benarkah Islam bertentangan dengan Nasionalisme?

Wallahu yahdina ilaa sawaa’is sabiil.

✍ Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah