Home KONSULTASI SYARIAH

Istri Tidak Shalat, Apakah Suami Ikut Menanggung Dosa?

306
SHARE
menyandingkan nama isteri dan suami

Pertanyaan:

Ustadz, jika istri tidak shalat 5 waktu apakah suami ikut menanggung dosa?

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At Tahrim: 6)

Menjaga keimanan keluarga kita, orang tua, istri dan anak-anak adalah kewajiban seorang laki-laki sekaligus sebagai seorang suami. Dan di antara kewajibannya adalah mengingatkan keluarganya agar senantiasa menjaga shalat yang difardhukan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S. Thaha: 132)

Membina anggota keluarga adalah tanggung jawab seorang suami atau kepala keluarga. Di pundaknya terdapat tanggung jawab untuk memastikan seluruh anggota keluarganya beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun hidayah tetap menjadi hak-Nya. Oleh sebab itu kita harus memaksimalkan peran kita dan menunaikan kewajiban untuk membina anak dan istri.

Jika kita membiarkan anak dan istri kita tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan melalaikan kewajibannya sebagai seorang hamba, maka kita turut berdosa. Namun apabila upaya dan usaha membina mereka sudah kita lakukan dengan maksimal, maka hidayah hanyalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kita tidak bisa memaksakan hidayah datang kepada keluarga kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berupaya menyadarkan mereka. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada ayahnya, Nabi Luth ‘alaihissalam kepada istrinya, Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada anaknya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada pamannya.

Wallahu A’lam.