Home FIQIH

Kaifiyat Shalat Ringkas – Niat

34
SHARE

 Niat ingin shalat

Rasulullah ﷺ bersabda:

انما الاعمال بالنيات

Amal itu hanyalah dengan niat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya tidak SAH sebuah amal ibadah tanpa niat, dan shalat termasuk di dalamnya. Tanpa niat maka shalat batal atau tidak sah.

Niat artinya ‘azmul qalbi (tekad di hati), dan al qashdu (maksud).

Maka, tempatnya niat adalah di hati. Semua ulama sepakat ini. Jika seseorang di hatinya sudah ada kehendak dan tekad, ingin shalat secara spesifik (misal subuh, zuhur, dll), maka itu sudah cukup dan sah dikatakan niat.

Ada pun mengucapkan niat di lisan, adalah perselisihan ulama. Sebagian ulama mengatakan sunnah (dianjurkan), ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan (makruh/dibenci), bahkan bid’ah (mengada-ngada). Sikap kita adalah lapang dada atas perbedaan pendapat ini. Namun, yang jelas semua sepakat niat di hati saja sudah cukup dan itu sah. Keluar dari perselisihan adalah lebih baik.

Imam Muhammad bin Hasan Al Hanafi mengatakan:

النِّيَّةُ بِالْقَلْبِ فَرْضٌ ، وَذِكْرُهَا بِاللِّسَانِ سُنَّةٌ ، وَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَفْضَل

“Niat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/100)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah menyebutkan:

ولا يشترط التلفظ بها قطعاً، لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها ؛ لأنه لم ينقل عن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه التلفظ بالنية، وكذا لم ينقل عن الأئمة الأربعة.

“Secara qah’i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi DISUNNAHKAN menurut jumhur (mayoritas) ulama -selain Malikiyah- melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat.”

(Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan hafizhahullah