Home FIQIH IBADAH

Kaifiyat Shalat Ringkas – Ruku’

26
SHARE

6. Ruku’

Ini adalah salah satu rukun shalat, tanpanya shalat tidak sah. Bahkan dalam Al Quran, istilah shalat kadang menggunakan kata ruku’. Ini menunjukkan kedudukannya yang sangat penting.

Di antaranya:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang yang ruku’. (QS. Al-Baqarah, Ayat 43)

Ayat lainnya:

يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (Q. Ali ‘Imran, Ayat 43)

Ada pun tentang syariat ruku’ dalam shalat, ditegaskan dalam banyak hadits, di antaranya berikut ini.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا

‘Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’, lalu menghadap ke arah Kiblat, setelah itu bertakbirlah, kemudian bacalah Al Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian ruku’lah hingga kamu benar-benar ruku’ (HR. Bukhari no. 6251, 6252)

Makna Ruku’

Syaikh Hasan bin Ahmad al Kaaf, menjelaskan bahwa secara bahasa, ruku’ artinya al inhina’ (الإنحناء), yaitu membungkuk.

Secara syariat, artinya membungkuknya orang yang shalat tanpa INKHINAS, dengan meletakkan dua telapak tangannya di dua lututnya. (Al Ahammu fi Fiqhi Thalib al ‘Ilmi, Hal. 96)

Inkhinas adalah membungkuk dengan malas, mengangkat/mendongakkan kepala, dan membusungkan dada. Ini haram. (Ibid)

Tata Cara Ruku’

Tentang cara ruku’, disebutkan dalam beberapa hadits berikut:

فَلَمَّا رَكَعَ وَضَعَ رَاحَتَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَجَعَلَ أَصَابِعَهُ مِنْ وَرَاءِ رُكْبَتَيْهِ وَجَافَى إِبْطَيْهِ حَتَّى اسْتَقَرَّ كُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ

“dan ketika hendak ruku’ ia meletakkan kedua telapak tangannya pada dua lututnya dan meletakkan jari-jarinya merenggang di kedua lututnya. la merenggangkan kedua sikunya dari kedua lambungnya...(HR. An Nasa’i no. 1037, shahih)

Tentang posisi kepala:

وكان إذا رَكَع لم يُشْخِصْ رأسَه ولم يُصَوِّبَه ولكن بين ذلك

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika ruku’ tidak meninggikan (mendongakkan) kepala dan tidak juga merendahkannya (terlalu bungkuk), namun di antara keduanya (lurus).” (HR. Muslim no. 498)

Tentang posisi punggung, diceritakan dalam sebuah hadits:

إِذَا رَكَعَ لَوْ وُضِعَ قَدَحٌ مِنْ مَاءٍ عَلَى ظَهْرِهِ لَمْ يُهَرَاقْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila sedang ruku’ kemudian diletakkan bejana air di punggungnya niscaya tidak akan tumpah.” (HR. Ahmad no. 997)

Syaikh Ahmad Syakir mengatakan dhaif. Begitu pula yang dikatakan oleh Syaikh Syu’aib al Arnauth. Namun, Syaikh al Albani menyatakan shahih, karena banyaknya jalur lain yang menguatkan hadits ini.

Kesimpulan:

– Jadi, telapak tangan di lutut dan ini sunnah, bukan meletakkan di tulang kering kaki, lalu dengan jari yang agak direnggangkan

– serta siku yang menjauh dari lambungnya

– kepala tidak terlaku dongak, dan tidak terlalu nunduk

– Punggung diratakan, tegak lurus dengan kaki,

– Pandangan mata ke tempat sujud, sesuai keumuman dalil:

دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم الكعبة ما خلف بصره موضع سجوده حتى خرج منها

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke Ka’bah, pandangannya tidak pernah beralih dari tempat sujudnya sampai dia keluar dari Ka’bah. (HR. Ibnu Hibban, 4/332, Al Hakim, 1/652. Shahih)

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan hafizhahullah