Home KONSULTASI SYARIAH TJ FIQIH MUAMALAH

Kredit Syariah

132
SHARE

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya ingin bertanya. Suami saya ingin meminjam ke kantor sebanyak Rp 100 juta, selama 3 tahun, margin per tahunnya Rp 5 juta. Bagaimana agar bisa dijadikan [kredit yang sesuai] syariah?

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tergantung akad yang dibuat antara dia dengan kantornya.

Jika akadnya:

1) QARDH, pinjaman, maka margin itu adalah riba. Tidak sepantasnya mencari untung dari pinjaman. Pinjaman itu menolong, bukan mencari margin. Mencari margin itu adanya pada: jual beli, investasi, dan sewa menyewa.

Masalah PINJAM, kaidahnya seperti yang Allah Ta’ala tetapkan:

فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zhalim [merugikan] dan tidak dizhalimi [dirugikan]. (Q.S. Al-Baqarah: 279)

Jadi, hanya pokoknya saja. Tidak boleh ada yang dizhalimi dan menzhalimi, mesti sama antara peminjaman dan pengembalian.

Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni Hafizhahullah mengatakan, RIBA adalah:

زيادة على أصل المال يأخذها الدائن من المدين

Tambahan atas harta pokok yang diambil oleh pemberi utang kepada yang berutang.” (Shafwatut Tafasir, 1/143)

2) MURABAHAH, jual beli.

Yaitu kita ingin beli sesuatu -misal mobil seharga Rp 100 juta- tapi tidak ada uang. Akhirnya kantorlah yang membelikan sehingga mobil itu jadi milik kantor. Lalu kantor menjual ke kita dengan cara kredit, dan kantor ambil untung/margin sebesar Rp 5 juta, ini tidak apa-apa. Sebab jual beli memang boleh ambil untung.

3) MUDHARABAH, bagi hasil.

Misal, kita butuh modal Rp 100 juta, ingin buka usaha X. Maka, kantor berinvestasi Rp 100 juta, kitalah yang mengelola. Dengan perjanjian bagi hasil persentase (bukan nominal), misal buat pengelolaan 70 persen dan pemilik modal 30 persen, tiap tahun. Ini tidak apa-apa.

Dan jika terjadi kerugian atau bahkan bangkrut, maka ditanggung bersama.
Pengelola tidak dikatakan berutang, sebab ini menjadi tanggung jawab bersama. Demikianlah syariah UNTUNG-RUGI ditanggung bersama, tidak benar untung ditanggung bersama tapi begitu rugi hanya tanggung jawab pengelola, si pemodal tidak mau tahu.

KECUALI jika pengelolanya tidak amanah, maka dia harus tanggung jawab atas kerugian atau kebangkrutan itu, dia wajib ganti.

Demikian. Wallahu A’lam.