Home TJ FIQIH IBADAH TJ FIQIH HAJI DAN UMRAH

Krim Pelembab Wajah bagi Jamaah Haji

37
SHARE

Pertanyaan:

Apakah boleh jamaah haji memakai krim pelembab wajah?

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Bismillahirrahmanirrahim.

Memakai pelembab wajah bagi jamaah haji ada dua keadaan:

1. Saat di luar aktivitas ihram, di luar seluruh aktivitas haji. Maka, ini tidak masalah sama sekali.

2. Ketika sudah niat ihram, sudah pakai ihram.

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat:

أما عن الادهان بالكريمات ونحوها: فقد ذهب الحنفية والمالكية إلى أن المحرم ممنوع منه قياساً على الطيب، وذهب الشافعية إلى أن المحرم ممنوع منها في شعر الرأس والوجه دون سائر البدن. وذهب الحنابلة إلى جواز ذلك مطلقاً إذا خلت من الطيب.

Adapun memakai krim dan semisalnya:

– Hanafiyah dan Malikiyah mengatakan terlarang, diqiyaskan dengan larangan memakai parfum.

– Syafi’iyah mengatakan tidak boleh untuk rambut dan wajah, selainnya boleh.

– Hambaliyah mengatakan boleh secara mutlak, selama tidak mengandung parfum. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah No. 43631)

Nah, untuk krim yang lebih pas dikatakan obat, untuk mencegah kerusakan kulit seperti iritasi, lecet, dan sejenisnya, maka dia bukan minyak wangi atau parfum yang terlarang.

Dalam fatawa Al Lajnah Ad Daimah, disebutkan dibolehkannya memakai krim di paha bagian dalam, bagi jamaah yang biasanya paha bagian dalamnya lecet karena sering bergesek saat thawaf dan sa’i.

Mereka mengatakan:

لا مانع منه ، ولا محذور فيه ؛ لأنه نوع من العلاج ، وليس من أنواع الطيب ، فلا يأخذ حكمه

Hal tersebut tidak terlarang, dan tidak masalah, karena itu salah satu jenis obat, bukan jenis parfum, maka tidaklah itu dihukumi parfum. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 10/157)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

وعليه ، فيجوز للمحرم أن يضع الكريمات في ذلك الموضع لمنع التسلخات ؛ لأن المقصود منها العلاج .

Atas dasar itu, maka boleh bagi yang ihram memakai krim bagian tersebut untuk mencegah lecet, karena maksud krim tersebut adalah sebagai obat. (Al Islam Su’aal wa Jawaab No. 212287)

Demikian. Wallahu A’lam.

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa’ ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam.