Home HADITS

Kumpulan Hadits-Hadits Dha’if (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu) Seputar Puasa dan Bulan Ramadhan

615
SHARE
Panduan Ramadhan 10: Hukum Siwak, Mencicipi Makanan, Menelan Ludah Dan Junub Pagi Hari

Mukadimah          

Bulan Ramadhan adalah bulan agung yang memiliki banyak keutamaan. Segenap umat Islam menyambutnya dengan antusias dengan berbagai macam ibadah. Hanya saja, tidak sedikit umat Islam yang terjebak pada rutinitas ibadah yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam agama. Oleh karena tu, Nampak perlu bagi kami untuk mengumpulkan berbagai hadits (semampu kami) yang sering digunakan untuk dasar beribadah dan untuk menghidupkan Ramadhan, baik yang dha’if (lemah, tidak autentik, invalid), dan shahih. Dengan harapan umat Islam bisa beribadah dan mengamalkan agamanya menurut dasar yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Memang, sebagian ulama ada yang membolehkan menggunakan hadits dha’if dalam rangka menggalakkan amal shalih (Fadha’ilul A’mal) seperti Imam Ahmad, Imam Yahya bin al Qaththan, Imam Abdurrahman bin al Mahdi, Imam an Nawawi, Imam As Suyuthi, dan lain-lain, itu pun dengan syarat tidak terlalu dha’if, tidak bertentangan dengan kaidah umum agama Islam, dan tidak boleh dianggap amalan tersebut adalah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Namun, tidak sedikit ulama yang menentang menggunakan hadits dha’if untuk semua masalah agama, baik aqidah, fiqih ibadah dan mu’amalah, dan fadha’ilul a’mal. Seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Hazm, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, umumnya ulama madzhab Hambali kontemporer, dan lain-lain. Bagi mereka, selama masih ada hadits shahih maka hendaknya kita menggunakan yang shahih saja, sebab itulah yang benar-benar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ibarat membaca koran, tentunya kita lebih percaya dengan berita yang kuat kebenarannya (shahih), dibanding berita yang jelas-jelas ketidakbenarannya (Dha’if/lemah).

Secara ringkas, hadits dinilai dha’if (lemah) jika, pertama, sanad (jalur periwayatannya) terputus (munqathi’), tidak bersambung satu periwayat ke periwayat lainnya, baik tidak bertemu atau tidak mendengar langsung. Kedua, para perawinya (biasa disebut rijalul hadits) adalah orang yang lemah (dha’if) hafalannya, tidak jujur alias pembohong, ahli maksiat (fasiq), pemalsu hadits atau tertuduh pemalsu hadits, riwayatnya bertentangan dengan rijal lain yang lebih terpercaya darinya, atau majhul (tidak diketahui identitasnya).

Jika satu saja dari dua hal di atas terjadi pada sebuah hadits, maka itu bisa membuat hadits tersebut tidak dapat dipercaya. Apa lagi jika kedua-duanya terjadi.

Apa yang saya lakukan ini merupakan nasihat untuk diri sendiri dan segenap pembaca yang mulia, agar senantiasa berpegang kepada As Sunnah Ash Shahihah, dalam menjalankan ajaran agama serta tidak tertipu dengan hadits-hadits lemah dan palsu yang banyak beredar di masyarakat, buku-buku, dan disebarkan oleh para penceramah yang belum memahami seluk beluk kerumitan ulumul hadits (ilmu-ilmu hadits).

******

Hadits-Hadits Dha’if seputar Puasa dan Ramadhan

Hadits  Pertama: Doa,  “Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’ban wa balighna fi Ramadhan.”

Hadits ini sangat terkenal, sering terdapat dalam spanduk dan majalah-majalah Islam menjelang datangnya Ramadhan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika masuk bulan Rajab, dia berkata: “Allahumma Barik lanaa fii Rajaba wa Sya’ban wa Barik lanaa fii Ramadhan.” (Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban wa Berkahilah kami di bulan Ramadhan). (H.R. Ahmad, No. 2346. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath,  No. 4086, dengan teks agak berbeda yakni, “Wa Balighnaa fii Ramadhan.” Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3654)

Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: “Munkarul hadits.” (haditsnya munkar) (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 165. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam An Nasa’i berkata: “Aku tidak tahu siapa dia.”  Imam Adz Dzahabi sendiri mengatakan: “Dha’if.”  Sedangkan tentang Ziyad an Numairi beliau berkata: “Ziyad dha’if juga.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 2, Hal. 65)

Imam Abu Daud berkata tentang Zaidah bin Abi   Ruqad: “Aku tidak mengenal haditsnya.” Sementara Imam An Nasa’i dalam kitabnya yang lain, Adh Dhu’afa, mengatakan: “Munkarul hadits.” Sedangkan dalam Al Kuna dia berkata: “Tidak bisa dipercaya.” Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: “haditsnya tidak kokoh.” (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz. 3, Hal. 305)

Imam al Haitsami berkata tentang Ziyad an Numairi: “Dia dha’if menurut jumhur (mayoritas ahli hadits).” (Majma’ az Zawaid, Juz. 10, Hal. 388. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Imam Ibnu Hibban  mengatakan bahwa penduduk Bashrah meriwayatkan dari Ziyad hadits-hadits munkar. Imam Yahya bin Ma’in  meninggalkan hadits-haditsnya, dan tidak menjadikannya sebagai hujjah (dalil). Imam Yahya bin Ma’in juga berkata tentang dia: “Tidak ada apa-apanya.” (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 1, Hal. 306)

Sementara dalam Al Jarh wat Ta’dil, Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Dha’if.” (Imam Abu Hatim ar Razi, Al jarh Wat Ta’dil, Juz. 3, Hal. 536)

Syaikh Al Albany mendha’ifkan hadits ini. (Misykah al Mashabih, Juz. 1, Hal. 306, No. 1369. Lihat juga Dhaiful jami’ No. 4395), begitu pula Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu dhaif (isnadnya dhaif). (Lihat Musnad Ahmad No. 2346. Muasasah Ar Risalah)

Catatan:

Jika doa ini dibaca dengan tanpa menyandarkan kepada Rasulullah, tidak menganggapnya sebagai ucapan Nabi, hanya ‘meminjam’ redaksinya, maka tidak mengapa. Sebab, berdoa walau dengan susunan kalimat sendiri memang diperbolehkan. Tetapi, sebagusnya tidak membudayakannya, sebab pada akhirnya manusia menyangka sebagai hadits yang valid dari Nabi. Wallahu A’lam.

Hadits  Kedua: khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang berbagai keutamaan bulan Ramadhan

عن سلمان قال : خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر يوم من شعبان فقال : « أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر مبارك ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، وقيام ليله تطوعا ، من تقرب فيه بخصلة من الخير ، كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، وهو شهر الصبر ، والصبر ثوابه الجنة ، وشهر المواساة ، وشهر يزداد فيه رزق المؤمن ، من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار ، وكان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء » ، قالوا : ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم ، فقال : « يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة ، أو شربة ماء ، أو مذقة لبن ، وهو شهر أوله رحمة ، وأوسطه مغفرة ، وآخره عتق من النار ، من خفف عن مملوكه غفر الله له ، وأعتقه من النار ، واستكثروا فيه من أربع خصال (1) : خصلتين (2) ترضون بهما ربكم ، وخصلتين لا غنى بكم عنهما ، فأما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم : فشهادة أن لا إله إلا الله ، وتستغفرونه ، وأما اللتان لا غنى بكم عنهما : فتسألون الله الجنة ، وتعوذون به من النار ، ومن أشبع فيه صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة »

Dari Salman, dia berkata: “Rasulullah khutbah di depan kita pada akhir bulan Sya’ban, katanya: “Wahai manusia, telah menaungi kalian bulan agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya fardhu, shalat malamnya adalah sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaNya dengan kebaikan, maka ia bagaikan menjalankan kewajiban pada selain bulan tersebut. Barangsiapa yang menjalankan kewajiban ia laksana menjalankan tujuh puluh kewajiban pada selain bulan itu. Dia adalah bulan kesabaran, dan kesabaran ganjarannya adalah surga. Bulan kesantunan, dan bulan ditambahkannya rezeki bagi orang mu’min. Barangsiapa yang memberi buka orang yang berpuasa maka ia mendapat ampunan dari dosa-dosanya dan pembebasan dari api neraka dan baginya pahala sebagaimana pahala orang yang diberinya buka tanpa mengurangi pahala mereka.” Para sahabat bertanya: “Tidak semua kami mampu memberi makan berbuka puasa.” Rasulullah menjawab: “Allah memberikan pahala kepada siapa saja yang memberi makan berupa korma, air putih, atau susu yang dicampur dengan air. Bulan itu, awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah, dan akhirnya adalah dibebaskan dari api neraka. Barang siapa meringankan budaknya maka dia akan diampuni dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah empat hal; dua hal sangat diridhai Tuhan kalian, dua hal lain kalian tidak akan merasa cukup dengannya. Ada pun dua hal yang Tuhan sangat ridha adalah mengucapkan syahadat Laa Ilaha Illallah dan istighfar kepadaNya. Sedangkan dua hal yang kalian tidak akan merasa cukup adalah permintaan kalian terhadap surga kepada Allah, dan kalian minta perlindungan kepadaNya dari neraka. Barangsiapa yang mengenyangkan orang puasa maka Allah akan mengenyangkannya dengan sekali minum di telaga yang tidak akan merasa haus selamanya, hingga ia masuk ke surga.” (H.R. Ibnu Khuzaimah, Juz.7, Hal. 115, No hadits. 1780)

Hadits ini sangat terkenal dan sering dibaca ketika bulan Ramadhan. Padahal hadits ini munkar. Di dalam sanadnya ada perawi bernama Ali bin Zaid bin Jud’an.

Imam Sufyan bin Uyainah mendha’ifkannya. Begitu pula Imam Ahmad bin Hambal. Sedangkan Imam Musa bin Isma’il mengatakan bahwa dia tidak terjaga hafalannya.  Sementara Imam Hammad bin Zaid mengatakan bahwa dia meriwayatkan hadits-hadits yang terbalik. Sedangkan Yazid bin Zari’ mengatakan bahwa Ali bin Zaid bin Jud’an adalah seorang rafidhi (syi’ah). Imam Yahya bin Ma’in  mengatakan bahwa dia tidak kuat hafalannya dan bukan apa-apa. Sementara Imam Ahmad al ‘Ijili mengatakan bahwa dia tasyayyu’ (condong ke Syi’ah) dan tidak kuat hafalannya. Imam Bukhari dan Imam Abu Hatim ar Razi mengatakan: dia tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Imam Ibnu Khuzaimah sendiri mengatakan bahwa Ali bin Zaid bin Jud’an ini tidak bisa dijadikan hujjah karena buruk hafalannya. (Lihat semua dalam kitab  Mizanul I’tidal, Imam Adz Dzahabi, Juz. 3 hal. 127)

Dalam Kitab Al Jarh wat Ta’dil disebutkan bahwa Imam Yahya bin Ma’in mengatakan Ali bin Zaid bin Jud’an tidaklah bisa dijadikan hujjah. Imam Abu Zur’ah mengatakan bahwa dia tidak kuat hafalannya. (Imam Abu Hatim ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 6 Hal. 187)

Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albany Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini munkar. (As Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2 Hal. 370, No hadits. 871)

Demikian. Wallahu A’lam.

Hadits ketiga: Ucapan,Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.”

Ini hadits, walau tidak secara langsung berhubungan dengan puasa atau Ramadhan, namun amat sering dibaca ketika bulan Ramadhan. Hadits itu berbunyi:

رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبرقالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: جهاد القلب.

“Kita kembali dari Jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad paling besar itu?” Beliau bersabda: “Jihad hati.”

Berkata Imam Zainuddin Al ‘Iraqi:

أخرجه البيهقي في الزهد من حديث جابر وقال : هذا إسناد فيه ضعف .

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab az Zuhd dari hadits Jabir, dia berkata: “Di dalam sanadnya dha’if.” (Imam Al ‘Iraqi, Takhrijul Ahadits Al Ihya’, No. 2567)

Begitu pula disebutkan dalam Tadzkirah Al Maudhu’at, bahwa hadits ini dhaif. (Al ‘Allamah Muhammad Thahir bin Ali Al Hindi Al Fatani, Tadzkirah Al Maudhu’at, Hal. 191)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Tasdidul Qaus bahwa ini adalah ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ablah seorang tabi’in, sebagaimana dikatakan Imam An Nasa’i dalam Al Kuna. (Imam As Suyuthi, Ad Durar Muntatsirah fil Ahadits Musytahirah, Hal. 11. Mawqi’ Al Warraq. Imam Al Ajluni, Kasyful Khafa, No. 1362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan komentar terhadap hadits itu sebagai berikut:

فَلَا أَصْلَ لَهُ وَلَمْ يَرْوِهِ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ بِأَقْوَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَفْعَالِهِ وَجِهَادُ الْكُفَّارِ مِنْ أَعْظَمِ الْأَعْمَالِ ؛ بَلْ هُوَ أَفْضَلُ مَا تَطَوَّعَ بِهِ الْإِنْسَانُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا }

Tidak ada dasarnya, dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun ahli ma’rifah (ulama) sebagai ucapan dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam. Dan, jihad melawan orang kafir termasuk amal yang paling agung, bahkan dia adalah tathawwu’ (anjuran) yang paling utama bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa memiliki udzur (alasan yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya. Allah mengutamakan satu derajat bagi orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk saja. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (Q.S. An Nisa: 95). (Majmu’ Fatawa, 2/487. Mawqi’ Al Islam)

Imam Al ‘Iraqi mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam kitab Az Zuhd, namun setelah dicek ke kitab Zuhd Al Kabir-nya Imam Al Baihaqi, ternyata tidak ada hadits dengan redaksi seperti di atas (Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar). Tetapi yang ada adalah:

قدمتم خير مقدم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : مجاهدة العبد هواه

Kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad besar itu?” Beliau bersabda: “Mujahadahnya seorang hamba terhadap hawa nafsunya.” (H.R. Al Baihaqi, Zuhd Al Kabir, No. 384, hadits dari Jabir bin Abdullah. Al Baihaqi mengatakan: sanadnya Dhaif. Imam Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 6/171. Lihat Alauddin Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal, No. 11260)

Hadits ini juga dhaif, bahkan dengan kedhaifan yang parah. Lantaran dalam sanadnya terdapat beberapa perawi yang dhaif. Yakni ‘Isa bin Ibrahim, Yahya bin Ya’la, dan Laits bin Abi Sulaim.

Tentang ‘Isa bin Ibrahim ini, dia adalah ‘Isa bin Ibrahim bin Siyar, disebut juga Ibnu Dinar Asy Sya’iri Abu Ishaq, disebut juga Abu Umar, ada juga yang mengatakan Abu Yahya Al Bashri, lebih dikenal dengan Al Barki. (Tahdzibut Tahdzib, 8/183). Disebutkan tentang dia: shaduq lahu awham (jujur tetapi ada keraguan). (Al Hafizh Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, 1/768. Al Hafizh Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 3/310). Abu Hatim mengatakan: shaduq (jujur). An Nasa’i mengatakan: tidak apa-apa. (Mizanul I’tidal, 3/310)

Sementara Yahya bin Ya’la, dia adalah Yahya bin Ya’la Al Aslami Al Qathuwani Al Kufi. Imam Ibnu Ma’in ditanya tentang dia, katanya: bukan apa-apa. Al Bukhari mengatakan: mudhtharibul hadits (haditsnya guncang). Abu Hatim mengatakan: dhaiful hadits laisa bil qawwi (haditsnya lemah dan tidak kuat). Ibnu Abi mengatakan, dia adalah orang Kufah dan Syi’ah. (Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzbut Tahdzib, 11/266. Lihat juga Mizanul I’tidal, 4/415)   

Ada pun tentang Laits bin Abi Sulaim, Imam Ahmad berkata tentangnya: “sangat lemah dan banyak kesalahan.”  Yahya bin Ma’in mengatakan: dhaif. (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 2/232). Sufyan bin ‘Uyainah mendhaifkannya, sedangkan Abu Zur’ah ditanya tentang Laits ini, katanya: “haditsnya lemah dan tidak bisa berhujjah dengan haditsnya.” (Tahdzibut Tahdzib, 8/418)

Maka, jelaslah sudah kelemahan hadits ini, dengan kelemahan yang sangat. Dan, Syaikh Al Albani mengatakannya sebagai hadits munkar. (As Silsilah Adh Dha’ifah, No. 2460).

Wallahu A’lam.

Catatan:

Walau hadits-hadits di atas lemah, bahkan tidak ada dasarnya. Islam mengakui bahwa jihad terhadap hawa nafsu memang ada. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 المجاهد من جاهد نفسه

 Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap hawa nafsunya.” (H.R. At Tirmidzi No. 1621, katanya: hasan shahih. Abu Daud No. 1258)

Hadits ini shahih. (Misykah Al Mashabih No. 3823. As Silsilah Ash Shahihah No. 549. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1258)

Perlu diketahui, kelemahan hadits-hadits tentang jihad melawan hawa nafsu yang kita bahas lalu (bahkan tidak ada dasarnya), tidak berarti mengurangi derajat jihad melawan hawa nafsu. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

وَلَا رَيْبَ أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ مَأْمُورٌ بِهَا وَكَذَلِكَ قَهْرُ الْهَوَى وَالشَّهْوَةِ كَمَا ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذَاتِ اللَّهِ وَالْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ } لَكِنْ الْمُسْلِمَ الْمُتَّبِعَ لِشَرِيعَةِ الْإِسْلَامِ هُوَ الْمُحَرِّمُ مَا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَلَا يُحَرِّمُ الْحَلَالَ وَلَا يُسْرِفُ فِي تَنَاوُلِهِ ؛ بَلْ يَتَنَاوَلُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ طَعَامٍ أَوْ لِبَاسٍ أَوْ نِكَاحٍ وَيَقْتَصِدُ فِي ذَلِكَ وَيَقْتَصِدُ فِي الْعِبَادَةِ ؛ فَلَا يُحَمِّلُ نَفْسَهُ مَا لَا تُطِيقُ .

Tidak diragukan bahwa berjihad mengendalikan diri adalah diperintahkan, begitu pula menguasai hawa nafsu dan syahwat. Sebagaimana telah tsabit (kuat) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dia bersabda:

“Mujahid adalah orang yang berjihad melawan nafsunya di jalan Allah, dan orang pintar adalah orang mampu menguasai dirinya dan berbuat untuk hari setelah kematiannya, dan orang lemah adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan kepada Allah.”

Tetapi seorang muslim hanya mengikuti syariat Islam, dia mengharamkan apa yang Allah dan RasulNya haramkan, dia tidak mengharamkan yang halal dan tidak berlebihan dalam menikmatinya, tetapi dia menggunakannya sesuai kebutuhan saja baik berupa makanan, nikah, dia sederhana dalam hal itu, dan sederhana pula dalam hal ibadah, dia tidak membebani dirinya dengan apa-apa yang tidak dia mampu.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 3/302)

Bahkan seorang ulama mujahid, perawi hadits terpercaya, Imam Abdullah bin Mubarak mengomentari ayat:

وَجَاهِدُوا فِي اللّهِ حَقّ جِهَادِه

“Berjihadlah kalian di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad.”

Beliau berkata:

هُوَ مُجَاهَدَةُ النّفْسِ وَالْهَوَى

“Itu adalah berjihad  terhadap jiwa dan hawa nafsu.” (Imam Ibnu Qayyim, Zaadul Ma’ad, 3/8. Muasasah Ar Risalah).

Imam Ibnul Qayyim sendiri telah membahas panjang masalah ini, dan dia membuat maratibul jihad (urutan jihad) bahwa jihad ada empat urutan, yakni jihad terhadap hawa nafsu, jihad melawan syetan, jihad melawan orang kafir dan jihad melawan orang munafik. Jihad terhadap hawa nafsu juga terbagi atas empat, yakni: Pertama, jihad untuk mempelajari petunjuk dan agama yang benar. Kedua, jihad mengamalkan ilmu tersebut. Ketiga, jihad mendakwahkan dan mengajarkan ilmu tersebut agar tidak termasuk orang yang menyembunyikan ilmu. Keempat, jihad bersabar ketika mendakwahkannya atas segala bentuk kesulitan dan peneritaan yang akan menimpanya. (Ibid, 3/9). Selesai.

Ada pun riwayat yang shahih tentang jihad yang paling afdhal adalah sebagai berikut, dari Abu Said Al Khudri, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

Jihad paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa yang zhalim atau pemimpin yang zhalim.” (H.R. Abu Daud No. 4344. At Tirmidzi No. 2265, katanya: hasan gharib. Ahmad No. 10716, dalam  lafaz Ahmad tertulis: “Kalimatul haq ..(perkataan yang benar). Ibnu Majah No. 4011)

Hadits ini shahih. (Misykah Al Mashabih, No. 3705. As Silsilah Ash Shahihah, No. 491. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4344)

Sedangkan jihad paling utama bagi wanita adalah haji yang mabrur. Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ أَفَلَا نُجَاهِدُ قَالَ لَا لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Ya Rasulullah, kami melihat jihad adalah amal yang paling utama, apakah kami juga boleh berjihad?” Nabi bersabda: “Tidak, tetapi sebaik-baiknya jihad adalah haji yang mabrur.” (H.R. Bukhari No. 1448, 1762, 2632, 2720, 2721)

Wallahu A’lam.

Hadits keempat: Doa berbuka puasa (memiliki beberapa versi)

Versi 1:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwa dia menyampaikan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; jika berbuka puasa dia membaca Allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizqika afthartu.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh:

  • Imam Abu Daud, dalam kitab Sunan Abi Daud, Juz. 6, Hal. 309. Bab Qaul ‘Indal Ifthar, No. 2011, dari Mu’adz bin Zuhrah. Syamilah
  • Imam al Baihaqi, dalam kitab As Sunan Al Kubra, 4, Hal. 239, dari Mu’adz bin Zuhrah. Syamilah
  • Imam ath Thabarani, dalam kitab Al Mu’jam al Awsath, Juz. 16, Hal. 338, No. 7762, dari Anas bin Malik. Lihat juga kitabnya yang lain Al Mu’jam Ash Shaghir, Juz. 3, Hal. 52, No. 912, dari Anas bin Malik. Syamilah
  • Imam al Baihaqi, dalam kitab Syu’abul Iman, 8, Hal. 430, No. 3747, dari Mu’adz bin Zuhrah. Syamilah

Jadi, hadits di atas diriwayatkan oleh dua jalur; yakni Anas bin Malik dan Mu’adz bin Zuhrah.

Penilaian:

  • Dalam Jalur Anas bin malik, terdapat perawi bernama Isma’il bin Amru al Bajali dan Daud bin Az Zibiriqan. Hadits ini Dha’if. Berkata seorang Imam Ahli hadits masa kini (w. 1999), Asy Syaikh al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin al Albany Rahimahullah:

قلت : وهو ضعيف قال الذهبي في ( الضعفاء ) : ( ضعفه غير واحد ) . قلت : وشيخه داود بن الزبرقان شرمنه قال الذهبي : ( قال أبو داود : متروك وقال البخاري : مقارب الحديث ) وقال الحافظ في ( التقريب ) : ( متروك كذبه الازدي )  . والحديث قال الهيثمي في ( المجمع ) : ( رواه الطبراني في ( الاوسط ) وفيه داود بن الزبرقان وهو ضعيف )

                “Aku (Syaikh al Albany) berkata: Dia (Isma’il bin Amru al Bajali) adalah dha’if (lemah). Berkata Imam Adz Dzahabi dalam kitab Adh Dhu’afa: “Yang mendha’ifkan lebih dari satu orang.” Aku (Syaikh al Albany) berkata: “Gurunya, yaitu Daud bin Az Zibriqan lebih buruk darinya. Berkata Imam Adz Dzahabi: Berkata Abu Daud: “Dia (Daud bin Az Zibriqan) adalah  matruk (haditsnya ditinggalkan).” Imam Bukhari berkata: “Haditsnya pertengahan/sedang-sedang saja”. Imam Al hafizh Ibnu Hajar dalam kitab At Taqrib berkata: “Haditsnya ditinggalkan, dan Al Azdi menganggapnya sebagai pendusta.” Menurut Imam al Haitsami dalam Al Majma’: “Diriwayatkan Ath Thabarani dalam Al Ausath, dalam sanadnya terdapat Daud bin Az Zibriqan, dia adalah dha’if.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Irwa’ al Ghalil fii Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Juz. 4, Hal. 37-38. Cet. 2, 1985M-1405H. Maktab Islami, Beirut-Libanon)

  • Jalur Mu’adz bin Zuhrah, juga dha’if. Hadits ini mursal (riwayatnya tanpa melalui sahabat Nabi). Berkata Syaikh al Albany:

قلت : وهذا سند ضعيف فانه مع إرساله فيه جهالة معاذ هذا

            “Aku (Syaikh al Albany) berkata: “Sanad hadits ini dha’if, karena mursal, dan Mu’adz ini adalah tidak dikenal biografinya.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Irwa’ al Ghalil fii Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Juz. 4, Hal. 38. Cet. 2, 1985M-1405H. Maktab Islami, Beirut-Libanon. Lihat juga dalam kitab Shahih wa Dha’if Al Jami’ Ash Shaghir, Juz. 20, Hal. 402. No. 9830)

Hadits mursal adalah hadits yang terputus sanad (periwayatannya)  setelah generasi tabi’in. Mu’adz bin Zuhrah ini seorang tabi’in, yang tidak langsung mendengar hadits ini dari sahabat nabi.

Doa berbuka puasa Versi 2:

بسم الله و الحمد لله اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت و عليك توكلت سبحانك و بحمدك تقبل مني إنك أنت السميع العليم .

          “Bismillah wal hamdulillah, Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, wa ‘alaika tawakkaltu, subhanaka wa bihamdika taqabbal minni innaka antas samii’ul ‘aliim.”

Hadits ini juga dha’if, dari Anas bin Malik. (Lihat Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Shahih wa Dha’if al Jami’ Ash Shaghir, Juz. 5, Hal. 91, No. 1644)

Doa berbuka puasa Versi 3:

                Dari Ibnu ‘Abbas:

كان إذا أفطر قال : اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم .

                “Adalah Rasululah jika berbuka, dia mengucapkan: “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, fataqabbal minni innaka antas samii’ul ‘Aliim.”

Hadits ini juga dha’if. (Syaikh al Albany, Shahih wa Dha’if Al jami’ Ash Shaghir, Juz. 20, Hal. 402, No. 9831)

                Jika doa-doa di atas dha’if semua, lalu  bagaimanakah dengan doa yang sangat terkenal berikut ini:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

                “Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar.” (HR. Malik,   no.1465. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Juz.5, Hal. 565, Ahmad,  No. 1244, pada riwayat Ahmad lafazhnya berbeda: “Bismillahi Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa.”  Ibnus Sunni, ‘Amalul Yaum wal Lailah,   No. 456. Teks riwayat  Ibnus Sunni agak berbeda:” Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar, bismillah.”)

                Imam Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

والصواب قال البخاري منكر الحديث جداً

                “Yang benar, menurut Imam Bukhari hadits ini sangat munkar.” (Imam Ibnu Hajar al Asqalani,  Lisanul Mizan, Juz.2, Hal. 385)

Apakah hadits mungkar itu? Secara ringkas, hadits mungkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang buruk hafalannya, banyak salah dan lalainya, dan nampak kefasikannya, serta bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh orang terpercaya, dan termasuk kelompok hadits dha’if jiddan (sangat lemah). (Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan, Taisir al Mushthalah al Hadits, Hal. 80-81)

                Sedangkan Prof.Dr. Ali Mushthafa Ya’qub, MA, mengatakan bahwa hadits mungkar adalah hadits paling buruk peringkat ketiga, setelah hadits maudhu’ (palsu) dan hadits matruk (semi palsu). Demikianlah.

Jika doa berbuka puasa adalah dha’if, tak satu pun yang shahih, begitu pula doa hendak makan, maka dengan apa kita membaca doa hendak makan?

Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah Radhiallahu ‘Anhu:

فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

                “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Wahai anak! sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.” (HR. Bukhari, No. 5062, 5063. Muslim,  No. 2022. Ibnu Majah, No. 3267. Ahmad, No. 15740)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

          “Beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala, jika lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka katakanlah: “Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.” (HR. Abu Daud,  No. 3767.  At Timidzi,  No. 1858. Dalam teks Imam At Tirmidzi agak berbeda yakni: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka katakanlah, “Bismillah,” jika lupa membaca di awalnya, maka bacalah, “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Beliau berkata: hadits ini hasan shahih. Dengan teks serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah,  No. 3264.  Ahmad,   No. 23954. Al Hakim dalam Mustadrak ‘Alas Shahihain, Juz. 16, No. 412, No. 7087, katanya sanad hadits ini shahih, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Syaikh al Albany berkata tentang hadits di atas: shahih. Lihat Tahqiq Misykat al Mashabih,  No. 4202)

Dalam hadits lain:

كان إذا قرب إليه الطعام يقول : بسم الله ، فإذا فرغ قال : اللهم أطعمت

و أسقيت و أقنيت و هديت و أحييت ، فلله الحمد على ما أعطيت

          “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika disuguhkan kepadanya makanan, dia membaca: “Bismillah,” setelah makan ia membaca,”Allahumma Ath’amta, wa asqaita, wa aqnaita, wa hadaita, wa ahyaita, falillahil hamdi ‘ala maa a’thaita.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih, seluruh periwayatnya tsiqah (kredibel) sesuai syarat Imam Muslim, Lihat Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, hal. 70, pembahasan hadits no.71)

Inilah doa yang shahih, yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika kita hendak menyantap makanan atau minuman, baik pada bulan puasa atau tidak.

Komentar Syaikh al Albany.

و في هذا الحديث أن التسمية في أول الطعام بلفظ ” بسم الله ” لا زيادة فيها ،

و كل الأحاديث الصحيحة التي وردت في الباب كهذا الحديث ليس فيها الزيادة ، و لا

أعلمها وردت في حديث ، فهي بدعة عند الفقهاء بمعنى البدعة ، و أما المقلدون

فجوابهم معروف : ” شو فيها ؟ ! ” .

فنقول : فيها كل شيء و هو الاستدراك على الشارع الحكيم الذي ما ترك شيئا يقربنا

إلى الله إلا أمرنا به و شرعه لنا ، فلو كان ذلك مشروعا ليس فيه شيء لفعله و لو

مرة واحدة ، و هل هذه الزيادة إلا كزيادة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم

من العاطس بعد الحمد .

و قد أنكرها عبد الله بن عمر رضي الله عنه كما في ” مستدرك الحاكم ” ، و جزم

السيوطي في ” الحاوي للفتاوي ” ( 1 / 338 ) بأنها بدعة مذمومة  

                “Dalam hadits ini menunjukkan bahwa doa tasmiyah pada awal makan dengan lafaz “bismillah” tanpa ada tambahan apa-apa, semua hadits shahih yang membicarakan bab ini juga demikian tanpa ada tambahan, dan saya tidak mengetahui adanya tambahan itu dalam hadits, dan tambahan itu menurut istilah para fuqaha (ahli fiqih) adalah bid’ah, namun bagi orang-orang yang sudah terlanjur menggunakannya akan mengatakan perkataan yang sudah bisa diketahui: “Bukankah doa ini telah banyak dipakai?!”

Kami katakan: “Segala tambahan yang diberikan kepada pembuat syariat, berupa amalan yang jika memang benar itu bisa mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, pastilah akan diperintahkan oleh syariat, seandainya itu disyariatkan pasti hal itu dilakukan oleh Rasulullah walau cuma sekali.  Hal ini seperti menambahkan shalawat kepada Nabi, bagi orang yang membaca Alhamdulillah setelah bersin.

Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu telah mengingkari tambahan ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Mustadrak-nya Imam al Hakim, dan ditegaskan oleh Imam as Suyuthi dalam Al Hawi Lil Fatawa (1/338), bahwa tambahan itu adalah bid’ah tercela.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, No. 71)

Ternyata, tidak semua dha’if

                Untuk doa yang nabi ucapkan ketika ifthar (berbuka puasa), ada yang biasa beliau praktekkan yakni:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

                   “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika sedang berbuka puasa dia membaca: “Dzahaba Azh Zhama’u wab talatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (HR. Abu Daud, Juz. 6, Hal. 308, No. 2010, As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz. 4, Hal. 239, Al Hakim dalam Mustadrak ‘alas Shahihain, Juz. 4, Hal. 67, No. 1484, katanya shahih, sesuai syarat Bukhari-Muslim. Menurut Syaikh al Albany hadits ini hasan, dalam kitab Misykat Al Mashabih, Juz.1, Hal. 450, No. 1993)

Kesimpulan

                Jadi, doa hendak makan atau berbuka puasa yang sesuai sunah shahihah adalah membaca “bismillah”, sedangkan ketika berbuka puasa  ada tambahannya yakni “Dzahaba Azh Zhama’u wab talatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” Wallahu A’lam

(Catatan: setelah diperiksa ke lebih dari 50 kitab hadits yang terdapat dalam Al Maktabah Asy Syamilah, belum ditemukan do’a terkenal dengan redaksi,  “Allahumma laka shumtu, wa bika amantu, wa ‘ala rizqika afthartu, birahmatika yaa arhama ar raahimin.” Bisa jadi redaksi seperti ini merupakan tambahan dari sebagian manusia, tidak bersumber dari kitab-kitab hadits yang bisa dipercaya)

Hadits Kelima: hadits tentang pembatal puasa karena benda masuk ke lubang tubuh

                Berikut haditsnya:

إنما الإفطار مما دخل ، و ليس مما خرج

            “Sesungguhnya yang membuat batalnya puasa hanyalah karena sesuatu yang masuk bukan sesuatu yang keluar.”

Bagaimanakah status hadits ini? Berikut pembahasan dari Al Muhaddits al ‘Allamah Syaikh al Albany Rahimahullah:

ضعيف . أخرجه أبو يعلى في ” مسنده ” : حدثنا أحمد بن منيع : حدثنا مروان بن

معاوية عن رزين البكري قال : حدثنا مولاة لنا يقال لها : سلمى من بكر بن وائل

أنها سمعت عائشة تقول : ” دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال :

يا عائشة هل من كسرة ؟ فأتيته بقرص ، فوضعه في فيه و قال : يا عائشة هل دخل

بطني منه شيء ؟ كذلك قبلة الصائم ، إنما الإفطار …. ” . قلت : و هذا سند ضعيف

، من أجل سلمى هذه ، فإنها لا تعرف كما في ” التقريب ” ، و رزين البكري إن كان

هو الجهني فثقة ، و إلا فمجهول . و قد أشار إلى ذلك الهيثمي في ” المجمع ” ( 3

/ 167 ) قال : ” رواه أبو يعلى و فيه من لم أعرفه ” . و الصواب في الحديث أنه

موقوف على ابن عباس كما سبق بيانه قبل حديث .

 

Dhaif.  Dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam “Musnad”-nya: Berkata kepadaku Ahmad bin Mani’, bercerita kepadaku Marwan bin Mu’awiyah, dari Razin al Bakri, dia berkata: Bercerita kepadaku pembantuku yang wanita, bernama Salma binti Bakr bin Wail, bahwa dia mendengar ‘Aisyah berkata: Rasulullah masuk  …dan seterusnya, (hingga hadits di atas). Berkata Syaikh al Albany: sanad ini dhaif, lantaran perawi bernama Salma. Dia tidak dikenal sebagaimana dikatakan dalam “At Taqrib”. Sedangkan, Razin al Bakri, jika dia adalah Al Juhni maka dia tsiqah (bisa dipercaya), jika bukan  maka dia majhul (tidak dikenal). Al Hatsami telah mengisyaratkan hal itu dalam Al Majma’ (3/167), dia berkata: “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan di dalamnya ada yang aku tidak kenal.” Yang benar hadits ini mauquf (terhenti) pada Ibnu Abbas sebagaimana penjelasan sebelum ini. (Syaikh al Albany, Silsilah Ad Dhaifah, Juz. 2, Hal. 460. No. 961. Al Maktabah Asy Syamilah).

                Demikianlah jadi, tidak mengapa ada benda masuk ke lubang tubuh kita, baik mulut, hidung, atau telinga, lantaran kedhaifan hadits yang mengatakan itu. Lagi pula, hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits yang menunjukkan kebolehan berkumur dan  istinsyaq (menghirup air ke hidung ketika wudhu), tentu kumur dan istinsyaq, merupakan perbuatan yang membuat ‘benda’ masuk lubang tubuh bukan?

Hadits Keenam: Sedekah paling afdhal adalah saat Ramadhan

وروى صدقة بن موسى ، عن ثابت ، عن أنس قال : قيل يا رسول الله ، أي الصدقة أفضل ؟ قال : « صدقة في رمضان »

                “Diriwayatkan dari Shadaqah bin Musa, dari Tsabit, dari Anas, dia berkata: “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling utama?”, Beliau menjawab: “Shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. At Tirmidzi, No. 663. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3476)

                Imam at Tirmidzi berkata tentang Shadaqah bin Musa (Nama Kun-yahnya Abul Mughirah):

لَيْسَ عِنْدَهُمْ بِذَاكَ الْقَوِيِّ

                “Menurut mereka (para Imam Ahli hadits), dia tidak kuat (lemah).” (Sunan At Tirmidzi,  No. 663)

Dalam kitab Mizanul I’tidal disebutkan tentang Shadaqah bin Musa:

ضعفه ابن معين، والنسائي، وغيرهما.

 

“Imam Yahya bin Ma’in mendha’ifkannya, begitu pula Imam An Nasa’i, dan selain mereka berdua.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal fii Naqdir Rijal, Juz. 2, Hal. 312. Darul Ma’rifah li Thiba’ah wan Nasyr, Beirut-Libanon)

عبد الرحمن قال سألت ابى عن صدقة ابى المغيرة قال: لين الحديث، يكتب حديثه ولا يحتج به، ليس بقوى.

“Abdurrahman (bin Abi Hatim) berkata: aku bertanya kepada ayahku (Imam Abu Hatim)  tentang Shadaqah bin Musa (Abu al Mughirah), dia menjawab: “Haditsnya lemah, haditsnya sekedar ditulis, tetapi tidak bisa dijadikan hujjah (dalil/argument).” (Imam Adz Dzahabi,  Mizanul I’tidal, Juz.4, Hal. 432)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany telah mendha’ifkan hadits di atas dalam berbagai kitabnya. (Irwa’ al Ghalil, Juz. 3, Hal. 397. Dha’if at Targhib wat Tarhib, Juz. 1, Hal. 155, No. 618.  Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi,  No. 663)

Catatan:

Walaupun hadits di atas dha’if, namun bukan berarti meniadakan nilai dan arti penting bersedekah pada bulan Ramadhan. Sebab beramal shalih, termasuk bersedekah, pada bulan Ramadhan memang dianjurkan untuk digalakkan. Yang jelas, pada bulan apa pun, jika bersedekah dilakukan secara ikhlas dan benar, maka Allah Ta’ala akan memberikan ganjarannya yang setimpal. Tetapi, jika bershadaqah dilakukan tidak ikhlas dan pamer, walau dilakukan pada bulan Ramadhan, tentulah ditolak, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal shalih.

Hadits Ketujuh: Doa orang puasa pasti dikabulkan

عن أبي مجاهد عن أبي مدل  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوم

“Dariِ  Abu Mujahid, dari Abu Madal, dari Abu Hurairah, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Orang puasa sampai dia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dianiaya.” (HR. At Tirmidzi,  No. 3598, katanya hadits ini hasan)

Dalam kitab Silsilah Adh Dha’ifah, Syaikh al Albany berkata:

و قال الترمذي :

” حديث حسن ، و أبو مدلة هو مولى أم المؤمنين عائشة ، و إنما نعرفه بهذا الحديث

” .

قلت : إذا كان كذلك فالقواعد تقتضي أنه رجل مجهول ، و ذلك ما صرح به بعض الأئمة

، فقال ابن المديني :

” لا يعرف اسمه ، مجهول ، لم يرو عنه غير أبي مجاهد ” .

قلت : فمثله لا يحسن حديثه ، و لا سيما أنه مخالف لحديث آخر عن أبي هريرة خرجته

Berkata Imam at Tirmidzi: “Hadits hasan, Abu Madalah adalah pelayan Ummul Mu’minin ‘Aisyah, dan kami hanya mengenalnya pada hadits ini.”

Saya (Syaikh al Albany) berkata: “Jika demikian keadaannya, maka kaidah yang memenuhi hal ini adalah bahwa dia adalah seorang yang majhul (tidak dikenal), demikian itu sebagaimana yang diterangkan para imam. Berkata Imam Ibnu al Madini (tentang Abu Madalah): “Namanya tidak diketahui, majhul (tidak diketahui identitasnya), yang meriwayatkan darinya hanya Abu Mujahid.”

Saya (Syaikh al Albany) berkata: “Maka, yang seperti ini bukanlah hasan haditsnya, apalagi hadits ini bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang telah saya teliti sebelumnya.” (Syaikh al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah,  No. 1358)

Kedha’ifan hadits ini juga diterangkannya dalam kitab Syaikh al Albany lainnya. (Misykat al Mashabih, Juz.  No. 2249. Dha’if   Targhib wat tarhib,  No. 583)

  

Catatan:

Kedha’ifan hadits ini tidak berarti kita mengingkari doa bagi orang yang berpuasa. Sebab pada prinsipnya, berdoa pada waktu kapan pun, berpuasa atau tidak, selama ikhlas dan memenuhi adab-adabnya, Insya Allah akan dikabulkanNya, sesuai janjinya: Ud’uni astajib lakum, “Berdoalah kepadaku, niscaya akan Aku kabulkan.”

Lagi pula, dalam riwayat At Tirmidzi lainnya (hadits No. 2526) disebutkan hadits serupa dengan di atas dengan sanad yang shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2526)

Hadits Kedelapan: Tidur orang puasa adalah ibadah (1)

عن عبد الله بن أبي أوفى ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، وعمله مضاعف ، ودعاؤه مستجاب ، وذنبه مغفور »

                Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampunkan.” (HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, Juz.8, Hal. 462,No. 3778)

Dalam sanad hadits ini diriwayatkan oleh Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amru an Nakha’i.

                Imam al Baihaqi berkata tentang mereka berdua:

معروف بن حسان ضعيف وسليمان بن عمرو النخعي أضعف منه

 

“Ma’ruf  bin Hisan adalah dha’if, dan Sulaiman bin ‘Amru an Nakha’i, lebih dha’if darinya.” (Syu’abul Iman,  No, 3780)

Dalam Takhrijul Ihya’ disebutkan:

وفيه سليمان بن عمرو النخعي أحد الكذابين .

 

“Dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amru an Nakha’i, salah seorang pendusta.” (Imam Zainuddin al ‘Iraqi, Takhrijul Ihya’, Juz. 2, Hal. 23, No. 723. Syamilah)

Syaikh al Albany mendha’ifkan hadits ini. (Lihat  Dha’if Jami’ush Shaghir,  No. 5972)

Hadits kesembilan: Tidur orang puasa adalah ibadah (2)

الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه

“Orang yang berpuasa senantiasa dinilai ibadah, walau pun sedang berbaring di atas ranjangnya.”

Berkata Syaikh al Albany Rahimahullah:

ضعيف . رواه تمام ( 18 / 172 – 173 ) : أخبرنا أبو بكر يحيى بن عبد الله بن

الزجاج قال : حدثنا أبو بكر محمد بن هارون بن محمد بن بكار بن بلال : حدثنا

سليمان بن عبد الرحمن : حدثنا هاشم بن أبي هريرة الحمصي عن هشام بن حسان عن ابن

سيرين عن سلمان بن عامر الضبي مرفوعا . و هذا سند ضعيف يحيى الزجاج و محمد

بن هارون لم أجد من ذكرهما . و بقية رجاله ثقات غير هاشم بن أبي هريرة الحمصي

ترجمه ابن أبي حاتم ( 4 / 2 / 105 ) و لم يذكر فيه جرحا و لا تعديلا . قال : “

و اسم أبي هريرة عيسى بن بشير ” . و أورده في ” الميزان ” و قال : ” لا يعرف ،

قال العقيلي : منكر الحديث ” . و الحديث أورده السيوطي في ” الجامع الصغير “

برواية الديلمي في ” مسند الفردوس ” عن أنس . و تعقبه المناوي بقوله : ” و فيه

محمد بن أحمد بن سهل ، قال الذهبي في ” الضعفاء ” : قال ابن عدي : [ هو ] ممن

يضع الحديث ” .

Dhaif. Diriwayatkan oleh Tamam (18/172-173): Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Yahya bin Abdullah bin Az Zujaj, dia berkata: berkata kepadaku Abu Bakar Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakar bin Bilal, berkata kepadaku Sulaiman bin Abdurrahman, berkata kepadaku Hasyim bin Abi Hurairah al Himshi, dari Hisyam bin Hisan, dari Ibnu Sirin, dari Salman bin ‘Amir adh dhabi secara marfu’. Sanad ini dha’if  karena Yahya az Zujaj dan Muhammad bin Harun tidak saya (Syaikh al Albany) temukan biografinya tentang mereka berdua. Sedangkan yang lainnya tsiqat (terpercaya),  kecuali Hasyim bin Abi Hurairah  al Himshi, Imam Abu Hatim (4/2/105) telah menulis tentangnya tetapi tidak memberikan pujian atau kritik atasnya. Dia berkata: “Nama asli dari Abi Hurairah al Himshi adalah ‘Isa bin Basyir.”  Dalam Al Mizan disebutkan tentang dia: “Tidak diketahui.” Berkata Al ‘Uqaili: “Munkarul hadits.’  Hadits ini juga ada dalam Jami’ush Shaghir-nya Imam As Suyuthi, diriwayatkan oleh Ad Dailami dalam Musnad al Firdaus dari jalur Anas bin Malik. Al Munawi  ikut menerangkan dengan ucapannya: “Di dalamnya terdapat Muhammad bin Ahmad bin Sahl, berkata Adz Dzahabi dalam Adh Dhu’afa: berkata Ibnu ‘Adi: “Dia (Muhammad bin Ahmad binSahl) termasuk di antara pemalsu hadits.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 230, No hadits. 653)

Catatan:

Dengan demikian, memastikan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah sebagai ibadah merupakan pemahaman yang tidak berdasar. Tidur, kapan pun kita lakukan, baik ketika puasa atau tidak jika dilatarbelakangi oleh niat yang mulia yakni menghindar hal-hal yang tidak bermanfaat, mengumpukan tenaga untuk bisa melakukan ketaatan, dan lain-lain, maka itu semua bernilai ibadah walau tidak sedang puasa, demikianlah tidurnya orang-orang shalih.

Sebaliknya walau pun sedang puasa, namun tidurnya diniatkan untuk ‘menghindar’ rasa lapar sampai-sampai ia meninggalkan hal-hal yang lebih utama karena tidurnya, dan hal ini menunjukkan kemalasannya, maka sama sekali tidak bernilai ibadah. Jadi ibadah atau tidaknya tidur seseorang, dilihat dari apa yang melatarbelakangi atau motivasi dari tidurnya. Selesai.

Wallahu A’lam

Hadits kesepuluh: Nabi tidak pernah menyentuh wajah ‘Aisyah selama berpuasa.

                Dari Muhammad bin Asy’at, bahwa ‘Aisyah berkata:

 كان لا يمس من وجهي شيئا و أنا صائمة

 

“Rasulullah tidak pernah menyentuh wajahku sekalipun saat aku sedang puasa.” (HR. Ahmad, No. 24600)

Secara ringkas saya ambil keterangan dari Syaikh al Albany, beliau berkata: “Mungkar.” Ada dua hal yang membuat cacat hadits ini: pertama, rawi bernama  Shalih bin Abi Shalih al Asady, dia adalah majhul (tidak diketahui identitasnya) sebagaimana yang diisyaratkan oleh Imam Adz Dzahabi: “Zakaria bin Abi Zaidah meriwayatkan darinya secara menyendiri.” Kedua, hadits ini bertentangan dengan hadits shahih bahwa Rasulullah pernah mencium isterinya padahal keduanya sedang puasa, lihat Silsilah ash Shahihah no. 219. (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 457, No. 958)

                Adapun tentang Muhammad bin al Asy’ats dia juga seorang yang keadaannya tidak dikenal (majhul al hal) (Imam Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, Juz.1, Hal. 587. Darul Maktabah Al ‘Ilmiah.)

Kesimpulan:

Jadi, larangan mencium isteri ketika puasa adalah tidak berdasar. Justru dalam riwayat shahih disebutkan bahwa hal itu dibolehkan, namun bagi yang tidak bisa menguasai diri sebaiknya dihindari.

Diriwayatkan dari Umar Radhilallahu ‘Anhu:

عنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

هَشَشْتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ قُلْتُ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفِيمَ

                Suatu hari bangkitlah syahwat saya, lalu saya mencium isteri, saat itu saya sedang puasa. Maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya berkata: “Hari ini, Aku telah melakukan hal yang besar, aku mencium isteri padahal sedang puasa.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa pendapatmu jika kamu bekumur-kumur dengan air dan kamu sedang berpuasa?”, Saya (Umar) menjawab: “Tidak mengapa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Lalu, kenapa masih ditanya?” (HR. Ahmad,  No. 132, 350. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra,  Juz.4, Hal. 218)

                Hadits di atas menerangkan bahwa mencium isteri dan berkumur-kumur hukumnya sama yakni boleh, kecuali berlebihan hingga bersyahwat, apalagi mengeluarkan air mani.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

كان يقبلني و هو صائم و أنا صائمة

            “Rasulullah mencium saya dan dia sedang puasa dan aku juga berpuasa.”

Syaikh al Albany berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari.” (Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah,  No. 219)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

قال ابن المنذر رخص في القبلة عمر وابن عباس وأبو هريرة وعائشة، وعطاء، والشعبي، والحسن، وأحمد، وإسحاق.

ومذهب الاحناف والشافعية: أنها تكره على من حركت شهوته، ولا تكره لغيره، لكن الاولى تركها.

ولا فرق بين الشيخ والشاب في ذلك، والاعتبار بتحريك الشهوة، وخوف الانزال، فإن حركت شهوة شاب، أو شيخ قوي، كرهت.

وإن لم تحركها لشيخ أو شاب ضعيف، لم تكره، والاولى تركها.

وسواء قبل الخد أو الفم أو غيرهما.

وهكذا المباشرة باليد والمعانقة لهما حكم القبلة.

                Berkata Ibnul Mundzir: Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah,  Aisyah, Atha’, Asy Sya’bi, Ahmad dan Ishaq, mereka memberikan rukhshah (keringanan) dalam hal mencium (isteri).

Madzhab Hanafi dn Asy Syaf’i: Mencium itu makruh jika melahirkan syahwat, dan tidak makruh jika tidak bersyahwat, tetapi lebih utama meninggalkannya.

Dalam hal ini, tak ada perbedaan antara anak muda dan orang tua, yang menjadi pelajaran adalah munculnya syahwat (rangsangan) itu, dan kekhawatiran terjadinya inzal (keluarnya mani). Maka, munculnya syahwat, baik anak muda dan orang tua yang masih punya kekuatan, adalah makruh.. Namun, jika tidak menimbulkan syahwat, baik untuk orang tua atau anak muda yang lemah, maka tidak makruh, dan lebih utama adalah meninggalkannya. Sama saja, baik mencium pipi, atau mulut, atau lainnya. Begitu pula mubasyarah (hubungan-cumbu) dengan tangan atau berpelukan, hukumnya sama dengan mencium. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah , Juz. 1, Hal. 461. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Perhatian!

                Sebenarnya para ulama terbagi atas empat pendapat dalam hal mencium isteri ketika berpuasa, namun pandangan yang lebih kuat adalah yang menetapkan kebolehannya berdasarkan dalil-dalil shahih yang ada, hanya saja bagi yang dikhawatiri tidak bisa menguasai diri lebih baik ditinggalkan.

Keterangan tambahan

Untuk menguatkan pendapat ini saya akan paparkan berbagai riwayat berkenaan tentang itu. Bahwa para orang-orang mulia, yakni Rasulullah, para sahabat dan tabi’in pernah mencium isterinya ketika berpuasa, bahkan lebih dari itu mereka bermubasyarah (bercumbu) pada siang hari, bahkan –maaf- sampai memegang kemaluan isterinya.

Perbuatan Rasulullah dan ‘Aisyah

                Rasulullah adalah laki-laki yang paling mampu menahan hawa nafsunya, namun diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha dia berkata:

كان يباشر و هو صائم ، ثم يجعل بينه و بينها ثوبا . يعني الفرج

                “Rasulullah bermubasyarah padahal sedang puasa, lalu dia membuat tabir dengan kain antara dirinya dengan kemaluan (‘Aisyah).” (HR. Ahmad, No. 23178)

                Tentang hadits ini, berkata Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin al Albany Rahimahullah:

و هذا سند جيد ، رجاله كلهم ثقات رجال مسلم ، و لولا أن طلحة هذا فيه

كلام يسير من قبل حفظه ، لقلت : إنه صحيح الإسناد ، و لكن تكلم فيه بعضهم ،

و قال الحافظ في ” التقريب ” : ” صدوق يخطىء ” .

قلت : و في هذا الحديث فائدة هامة و هو تفسير المباشرة بأنه مس المرأة فيما

دون الفرج ، فهو يؤيد التفسير الذي سبق نقله عن القاري ، و إن كان حكاه بصيغة

التمريض ( قيل ) : فهذا الحديث يدل على أنه قول معتمد ، و ليس في أدلة الشريعة

ما ينافيه ، بل قد وجدنا في أقوال السلف ما يزيده قوة ، فمنهم راوية الحديث

عائشة نفسها رضي الله عنها ، فروى الطحاوي ( 1 / 347 ) بسند صحيح عن حكيم

بن عقال أنه قال : سألت عائشة : ما يحرم علي من امرأتي و أنا صائم ؟ قالت :

فرجها و حكيم هذا وثقه ابن حبان و قال العجيلي : ” بصري تابعي ثقة ” .

و قد علقه البخاري ( 4 / 120 بصيغة الجزم : ” باب المباشرة للصائم ، و قالت

عائشة رضي الله عنها : يحرم عليه فرجها ” .

و قال الحافظ :

” وصله الطحاوي من طريق أبي مرة مولى عقيل عن حكيم بن عقال …. و إسناده إلى

حكيم صحيح ، و يؤدي معناه أيضا ما رواه عبد الرزاق بإسناد صحيح عن مسروق : سألت

عائشة : ما يحل للرجل من امرأته صائما ؟ قالت . كل شيء إلا الجماع ” .

            “Sanad hadits ini jayyid (bagus). Semua rijalnya (periwayatnya) tsiqat (terpercaya) dan dipakai oleh Imam Muslim, seandainya Thalhah (salah seorang perawinya) tidak mendapat kritikan, saya akan katakan: hadits ini sanadnya shahih. Namun, sebagian ulama ada yang membicarakannya. Berkata Al Hafizh (Ibnu Hajar) dalam At Taqrib: “Dia jujur tapi melakukan kesalahan.”

Selanjutnya, ada faedah penting dari hadits ini, yakni tafsir tentang arti mubasyarah (bercumbu), yakni menyentuh wanita (isteri) selain kemaluannya. Pemaknaan ini mendukung tafsir yang telah dikutip oleh Al Qari. Walau pun dia dalam mengutipnya dengan bentuk kata tamridh (dikatakan ..). Maka hadits ini dapat dijadikan sebagai acuan, dan tidak ada dalil syariat yang menentangnya. Bahkan saya (Syaikh al Albany) telah menemukan prilaku para salaf (generasi terdahulu) yang memperkuat kebolehannya. Di antaranya adalah hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha yang beliau tafsirkan sendiri, Ath Thahawi telah meriwayatkan (1/347) dengan sanad yang shahih dari Hakim bin Iqal, bahwa dia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: ‘Apa yang haram bagiku terhadap isteriku saat aku sedang puasa?’, Dia menjawab: ‘Kemaluannya.’

Hakim bin Iqal ini dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hibban. Berkata Al ‘Ijili: “Dia (Hakim) adalah orang Bashrah (nama kota di Irak), generasi tabi’in, dan tsiqah (terpercaya).” Sedangkan Imam Bukhari telah mengomentari hadits ini (4/120)  dalam bab khusus dengan bentuk kata pasti: “Bab Mubasyarah (bercumbu) bagi orang yang berpuasa dan perkataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: Haram bagi suaminya, kemaluannya.”

Sementara Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Ath Thahawi menyambungkan sanad hadits itu melalui Abu Murrah, bekas pelayan Uqail, dari Hakim bin Iqal …” Penyandaran kepada Hakim bin Iqal ini adalah shahih. Hal serupa juga diriwayatlan oleh Abdurrazzaq dengan sanad yang shahih dari Masruq: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apa sajakah yang dihalalkan bagi suami yang sedang puasa atas isterinya?” Dia menjawab: “Semuanya halal kecuali jima’ (bersetubuh).” (Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz.1, Hal. 220, No. 221)

Pendapat Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu

                Beliau adalah maha gurunya para mufassir (ahli tafsir). Ia dijuluki Hibrul Ummah (tintanya umat ini). Namun dia memiliki pandangan yang amat moderat dalam hal ini.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah meriwayatkan:

  عن سعيد بن جبير أن رجلا قال لابن عباس : إني تزوجت ابنة عم لي

جميلة ، فبني بي في رمضان ، فهل لي – بأبي أنت و أمي – إلى قبلتها من سبيل ؟

فقال له ابن عباس : هل تملك نفسك ؟ قال : نعم ، قال : قبل ، قال : فبأبي أنت

و أمي هل إلى مباشرتها من سبيل ؟ ! قال : هل تملك نفسك ؟ قال : نعم ، قال :

فباشرها ، قال : فهل لي أن أضرب بيدي على فرجها من سبيل ؟ قال : و هل تملك نفسك

؟ قال : نعم ، قال : اضرب . ” و هذه أصح طريق عن ابن عباس ” .

          “ Dari Said bin Jubeir bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas: ‘Aku menikahi seorang putrid anak paman saya, ia seorang yang cantik. Saya membawanya pada bulan Ramdhan. Maka bolehkah bagi saya menciumnya?’ maka Ibnu Abbas menjawab: “Apakah engkau bisa menahan hawa nafsu?’ dia menjawab: ‘Ya,’

Ibnu Abbas berkata: “Ciumlah!”

Laki-laki itu betanya lagi: ‘Bolehkah saya bercumbu dengannya?’

Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’

Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’

Ibnu Abbas berkata: ‘Bercumbulah.”

Laki-laki itu bertanya lagi: ‘Bolehkah tangan saya memegang kemaluannya?’

Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’

Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’

Ibnu Abbas berkata: ‘Peganglah.”

Imam Ibnu Hazm berkata: “Ini adalah sanad yang paling shahih dari  Ibnu Abbas.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz.  6, Hal. 212 Darul Fikr. Tahqiq: Ustadz Ahmad Muhammad Syakir)

Perilaku Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu

                Dia  adalah seorang sahabat nabi yang termasuk  mubasysyiruna bil jannah (dijamin masuk surga) oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Dia adalah tokoh utama perang Al Qadisiyah melawan Persia. Namun demikian, itu semua tidak membuatnya malu untuk tetap romantis dengan isterinya. Walau pun dia sedang berpuasa, tidak menghalanginya untuk mubasyarah dengan isterinya.

Imam Ibnu Hazm al Andalusi berkata:

  ” و من طريق صحاح عن سعد بن أبي وقاص أنه سئل أتقبل و أنت صائم ؟

قال : نعم ، و أقبض على متاعها

                “Dari jalan yang shahih dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa dia ditanya: “Apakah engkau mencium (isteri) ketika sedang puasa?” Dia menjawab: “Ya, bahkan aku menggenggam kemaluannya segala.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz.6, Hal. 212.Darul Fikr. Tahqiq: Ustadz Ahmad Muhammad Syakir)

Perbuatan Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu

                Dia ahli membaca Al Qur’an dan tafsirnya, dan menjadi manusia pertama yang berani membaca Al Qur’an di depan ka’bah ketika masa-masa awal Islam.

عَنْ عَمْرِو بن شُرَحْبِيلَ،”إِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يُبَاشِرُ امْرَأَتَهُ نِصْفَ النَّهَارِ، وَهُوَ صَائِمٌ”.

          “Dari ‘Amru bin Syurahbil: “Sesungguhnya Ibnu Mas’ud pernah mubasyarah dengan isterinya pada tengah siang, padahal dia  sedang puasa.” (Imam ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir,   No. 9458. Imam Abdurrazzaq, Al Mushannaf, Juz. 4, Hal. 191, No. 8442. Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 6, Hal. 212. Katanya: “Ini adalah jalan yang paling shahih dari Ibnu Mas’ud.”)

                Semua atsar (riwayat) di atas, baik Ibnu Abbas, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ibnu Mas’ud  adalah shahih, maka bersenang-senang dengan isteri ketika berpuasa adalah boleh, namun bagi orang yang tidak mampu meredam hawa nafsunya, lebih baik ditinggalkan. Tetapi, kita tidak dibenarkan mengingkari pendapat yang memakruhkan mencium isteri atau lebih dari itu, sebab para ulama yang memakruhkan itu juga para imam agama yang mendalam ilmunya (lihat pembahasan dari Syaikh Sayyid Sabiq sebelumnya).

Komentar Al ‘Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddn al Albany Rahimahullah

Beliau menguatkan riwayat-riwayat di atas, baginya kebolehan mencium bahkan mubasyarah dengan isteri adalah pendapat yang lebih kuat, walau sebaiknya dihindarkan bagi yang tidak mampu meredam hawa nafsu.

                أثر ابن مسعود هذا أخرجه ابن أبي شيبة ( 2 / 167 / 2 ) بسند صحيح على

شرطهما ، و أثر سعد هو عنده بلفظ ” قال : نعم و آخذ بجهازها ” و سنده صحيح على

شرط مسلم ، و أثر ابن عباس عنده أيضا و لكنه مختصر بلفظ :

” فرخص له في القبلة و المباشرة و وضع اليد ما لم يعده إلى غيره ” .

و سنده صحيح على شرط البخاري .

و روى ابن أبي شيبة ( 2 / 170 / 1 ) عن عمرو بن هرم قال :

سئل جابر بن زيد عن رجل نظر إلى امرأته في رمضان فأمنى من شهوتها هل يفطر ؟

قال : لا ، و يتم صومه ” .

و ترجم ابن خزيمة للحديث بقوله :

” باب الرخصة في المباشرة التي هي دون الجماع للصائم ، و الدليل على أن اسم

الواحد قد يقع على فعلين أحدهما مباح ، و الآخر محظور ” .

Atsar (segala perbuatan dan perkataan sahabat dan tabi’in) dari Ibnu Mas’ud ini telah juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/167) dengan sanad yang shahih, sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Sedangkan atsar dari Sa’ad bin Abi Waqqash juga diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan redaksi: “Benar, bahkan aku memegang juga kemaluannya.” Sanad ini shahih, sesuai syarat Imam Muslim.  Sedangkan atsar Ibnu Abbas  oleh Ibnu Abi Syaibah juga disebutkannya, tetapi dengan redaksi yang agak ringkas, yakni:

“Dia (Ibnu Abbas) memberikan keringanan kepada orang itu (yang bertanya) untuk mencium isterinya, bermubasyarah, dan meletakkan tangannya di atas kemaluan isterinya, selama tidak mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih dari itu.”

Sanad atsar ini shahih sesuai syarat Bukhari. Ibnu Abi Syaibah (2/170/1)  meriwayatkan dari Amru bin Haram: bahwa Jabir bin Zaid ditanya tentang laki-laki yang melihat isterinya pada bulan Ramadhan sampai keluar mani-nya karena syahwatnya, apakah batal puasanya? Beliau menjawab: “Tidak, hendaknya dia menyempurnakan puasanya.”

 

Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, dalam pokok bahasan:

“Bab rukhshah (keringanan) dalam bermubasyarah (bercumbu) yang tanpa disertai jima’ (setubuh) bagi orang yang berpuasa.”

Disertai pula dalil mengenai satu kata yang bisa menghasilkan dua macam perbuatan, ada yang mengatakannya mubah (boleh) dan yang lainnya mengatakan mahzhur (terlarang). (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, Hal. 220, No. 221)

Demikian. Wallahu A’lam

Hadits kesebelas: berbuka puasa dengan tiga butir kurma

عن أنس ، قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم « يحب أن يفطر على ثلاث تمرات أو شيء لم تصبه النار »

Dari Anas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai berbuka puasa dengan tiga butir kurma atau apa saja yang tidak terpanggang api.” (HR. Abu Ya’la,  No. 3217. Al Uqaili, Adh Dhu’afa, Juz.3, Hal. 50)

Dalam rangkaian sanad hadits ini ada perawi bernama Abdul Wahid bin Tsabit al Bahili. Imam Bukhari berkata tentang beliau: “Munkarul Hadits.” (hadits darinya mungkar) (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 2, Hal. 671. Darl Ma’rifah Lithiba’ah wan Nasyr, Beirut-Libanon)

Tentang hadits di atas, Imam Al ‘Uqaili berkata:

قال العقيلي لا يتابع عليه

“Hadits ini tidak memiliki penguat/tidak ada yang memutaba’ahkannya. ” (Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Lisanul Mizan, Juz. 2, Hal. 135)

Tentang hadits di atas, Imam Nuruddin al Haitsami berkata:

رواه أبو يعلي وفيه عبد الواحد بن ثابت وهو ضعيف.

“Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, di dalamnya ada Abdul Wahid bin Tsabit, dia itu dha’if.” (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawaid, Juz. 3, Hal. 155. Darul Kutub al ‘Ilmiyah, Beirut-Libanon. 1988M-1408H)

Sedangkan Syaikh al Albany berkata tentang hadits di atas:

و هذا سند ضعيف جدا

“Sanad ini dha’if jiddan (lemah sekali).” (Syaikh al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 495, No. 996)

Kesimpulan:

Maka setelah kita  mengetahui kedha’ifan hadits tersebut, hendaknya tidak membatasi diri dengan kurma tiga butir atau dengan yang tidak terpanggang. Justru dalam hadits yang hasan, disebutkan bahwa Rasulullah berbuka dengan kurma basah, jika tidak ada maka dengan kurma kering, jika tidak ada maka dengan air. (HR. At Tirmidzi, Insya Allah pada Babnya nanti akan  kami bahas)  Hadits yang bisa diandalkan ini, tidak menyebutkan jumlah kurma sama sekali. Jadi, hal ini diberi kebebasan. Wallahu A’lam

Hadits kedua belas: Menyembelih unta betina bagi yang sehari tidak berpuasa Ramadhan

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِى الْحَضَرِ فَلْيُهْدِ بَدَنَةً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُطْعِمْ ثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ لِلْمَسَاكِينِ »

Dari Jabir bin Abdullah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak puasa sehari pada bulan Ramadhan, padahal dia sedang tidak bepergian, maka hendaknya dia menyembelih seekor unta betina. Apabila tidak memilikinya maka hendaklah ia member makan fakir miskin tiga puluh sha’ kurma.” (HR. Sunan Ad Daruquthni, Juz. 6, Hal. 75, No. 2333. Ibnul Jauzi, Al Maudhu’at, Juz. 2, Hal. 196)

Hadits ini maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Khalid bin Amru, Al Harits bin ‘Abidah dan Muqatil bin Sulaiman.

Kata Imam Ad Daruquthni, bahwa Al Harits bin ‘Abidah dan Muqatil bin Sulaiman adalah dha’ifan (dua orang yang lemah). (Sunan Ad Daruquthni, Juz. 6, Hal. 75, No. 2333)

Imam Ibnu Hajar  mengatakan hadits ini batil, ada tiga hal penyebabnya: yakni, Khalid bin Amru adalah layyin (lemah), gurunya pun juga dha’if. Sedangkan Muqatil adalah laisa bi tsiqah (tidak bisa dipercaya). (Imam Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, Juz. 1, Hal. 362. Lihat juga Imam Adz Dzahabi,  Mizanul I’tidal, Juz. 1, Hal. 636)

Imam Waki’, Imam An Nasa’i, dan Imam As Saji mengatakan bahwa Muqatil adalah seorang pendusta, sedangkan Al Harits adalah dha’if (lemah). (Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Al Maudhu’at, Juz. 2, Hal. 196)

Berkata Abdurrahman yakni Ibnu Abdil Hakim al Basyir tentang Muqatil bin Sulaiman, dia menjawab: “Tukang cerita, manusia meninggalkan haditsnya.” Sedangkan Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang Muqatil: “Haditsnya tidak ada apa-apanya.” Abdurrahman berkata,”Aku mendengar ayahku berkata tentang Muqatil, “Dia adalah matrukul hadits.” (Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 8, Hal. 355)

Matruk adalah semi palsu/ditinggalkan haditsnya.

Syaikh al Albany menilai bahwa hadits ini palsu. (As Silsilah Adh Dha’ifah,  No. 623)

Demikianlah kepalsuan hadits ini.

Hadits ketiga belas: Larangan memakai celak mata bagi yang berpuasa

Dari Nufaili, dari Ali bin Tsabit, dari Abdurrahman bin An Nu’man bin Ma’bad bin Haudzah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia memerintahkan memakai celak ketika tidur, dan bersabda:

لِيَتَّقِهِ الصَّائِمُ

“Jauhilah celak mata bagi yang sedang berpuasa.” (HR. Abu Daud,  No. 2377. Al Baihaqi, As Sunan al Kubra, Juz. 4, Hal. 262, tetapi lafaz dalam riwayat Al Baihaqi aga berbeda: “Janganlah kalian memakai celak mata siang hari pada saat puasa, pakailah pada malam hari, karena dapat menerangkan mata dan menumbuhkan rambut.”)

Imam Abu Daud berkata: “Yahya bin Ma’in berkata kepadaku, hadits ini munkar.” (Sunan Abi Daud, No. 2377)

Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang Abdurrahman bin An Nu’man bin Ma’bad bin Haudzah: “Dha’if.” (Imam Abu Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 5 Hal. 294)

 Syaikh al Albany telah menyebutkan bahwa hadits ini munkar, lantaran kedha’ifan Abdurrahman bin An Nu’man, dan kemajhulan ayahnya. Majhul artinya tidak dikenal identitasnya.

Berkata Syaikh al Albany Rahimahullah:

جهالة أبيه النعمان بن معبد ، و قد أشار إلى ذلك شيخ الإسلام ابن

تيمية في رسالة ” الصيام ” فقال ( ص 49 بتحقيقنا ) عقب ما سبق عن المنذري :

لكن من الذي يعرف أباه و عدالته و حفظه ؟ ! ، و لهذا قال الذهبي فيه :

غير معروف ، و قال الحافظ : مجهول .

Ayah An Nu’man bin Ma’bad adalah majhul (tidak dikenal), hal itu telah diisyaratkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalah “Shiyam” (Hal. 9, berdasarkan penyelidikan kami), setelah ia menyebutkan pernyataan Al Mundziri: “Tetapi, siapa yang mengenal ayahnya, keadilannya, hafalannya?!” Oleh karena itu Adz Dzahabi berkata: “Dia tidak diketahui.” Berkata Al hafizh Ibnu Hajar: “Majhul.” (As Silsilah Adh Dha’ifah,  No. 1014)

Catatan:

Sebenarnya perihal apa hukumnya memakai celak mata (juga suntikan), para ulama berselisih pendapat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang hal itu, sebagaimana yang dikutip oleh Syaikh al Albany berikut:

فمنهم من لم يفطر بشيء من ذلك ، فإن الصيام من دين المسلمين الذي يحتاج إلى

معرفته الخاص و العام ، فلو كانت هذه الأمور مما حرمها الله و رسوله في الصيام

و يفسد الصوم بها ، لكان هذا مما يجب على الرسول بيانه ، و لو ذكر ذلك لعلمه

الصحابة و بلغوه الأمة كما بلغوا سائر شرعه ، فلما لم ينقل أحد من أهل العلم عن

النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك حديثا صحيحا مسندا و لا مرسلا ، علم أنه لم

يذكر شيئا من ذلك ، و الحديث المروي في الكحل ضعيف ، رواه أبو داود ، و لم يروه

غيره و لا هو في مسند أحمد و لا سائر الكتب .

“Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa celak mata dan suntikan bagi orang berpuasa tidaklah membatalkan puasa, sesungguhnya puasa adalah salah satu ajaran agama kaum muslimin yang harus diketahui tentangnya baik secara khusus atau umum. Seandainya permasalahan ini diharamkan Allah dan RasulNya, dan dapat merusak puasa, niscaya hal itu akan Rasulullah  berikan penjelasannya, dan memberikan penjelasan ilmunya kepada para sahabat dan menyampaikannya kepada umat sebagaimana mereka sampaikan seluruh aturan lainnya. Namun, belum ada satu pun ulama yang mengutip dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hal itu, secara shahih baik yang musnad atau mursal. Telah diketahui bahwa hal itu tidak terbukti. Hadits yang menyebutkan tentang celak pun dha’if, diriwayatkan oleh Abu Daud dan tidak diriwayatkan oleh selainnya, baik musnad Imam Ahmad atau seluruh kitab hadits lainnya.” (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 3, Hal. 13, No. 1014)

Wallahu A’lam

Hadits keempat belas: Larangan bersiwak sore hari bagi orang yang puasa

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

” إِذَا صُمْتُمْ فَاسْتَاكُوا بِالْغَدَاةِ وَلا تَسْتَاكُوا بِالْعَشِيِّ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ صَائِمٍ تَيْبَسُ شَفَتَاهُ بِالْعَشِيِّ إِلا كَانَ نُورًا بَيْنَ عَيْنَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “

“Jika kalian puasa maka bersiwaklah pada pagi hari dan jangan bersiwak pada sore hari, karena tidaklah bagi mulut orang berpuasa yang menjadi kering pada sorenya, melainkan Allah akan memancarkannya cahaya antara kedua matanya kelak pada hari kiamat.” (HR. Ath Thabarani, Mu’jam al Kabir, No. 3608. Sunan Ad Daruquthni, No. 2397)

Dalam sanad hadits ini terdapat Kaisan Abu Amr  dan Yazid bin Bilal.  Kaisan Abu Amr ini oleh Imam Ibnu Hibban disebut: “Munkarul Hadits (haditsnya munkar).” (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 3, Hal. 105. Tahqiq: Mahmud Ibrahim Zaid)

Begitu juga Imam Al Azdi berkata tentang dia: “Munkarul hadits.” (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz.11, Hal. 177)

 Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Ma’in mendha’ifkan dia. (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 3, Hal. 417)

Dalam Takhrijul Hidayah disebutkan bahwa Kaisan ini sangat dha’if. Sedangkan Ibnu Hajar mengatakan para ulama mendha’ifkan dia. (Imam al Munawi, Faidhul Qadir,  No. 736. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah )

Sementara Yazid bin Bilal disebut oleh Imam Adz Dzahabi: “Haditsnya tidak shahih.” (Mizanul I’tidal, Juz. 4 Hal. 420, No. 9677)

Imam al Munawi mengatakan: “Al Iraqi berkata dalam Syarh at Tirmidzi: “Hadits ini sangat dha’if.” (Imam al Munawi, Faidhul Qadir,   No. 736. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah )

Syaikh al Albany  juga mendha’ifkan hadits ini. (Syaikh al Albany, As Silsilah Ash Shahihah,   No. 401)

Demikianlah, sangat jelas kelemahan hadits ini.

Catatan:

Yang benar dalam masalah ini, bersiwak ketika berpuasa pagi sampai sore adalah tidak apa-apa sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i, sebab justru riwayat shahih menunjukkan kebolehannya.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ويستحب للصائم أن يتسوك أثناء الصيام، ولا فرق بين أول النهار وآخره.

قال الترمذي: ” ولم ير الشافعي بالسواك، أول النهار وآخره بأسا “.

وكان النبي صلى الله عليه وسلم يتسوك، وهو صائم.

Disunahkan bersiwak bagi orang yang berpuasa ketika ia berpuasa, tak ada perbedaan antara di awal siang dan akhirnya. Berkata At Tirmidzi: “Imam Asy Syafi’i menganggap tidak mengapa bersiwak pada awal siang dan akhirnya.” Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersiwak, padahal dia sedang puasa. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1,Hal. 459. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Beliau melanjutkan:

والصائم والمفطر في استعماله أول النهار وآخره سواء، لحديث عامر بن ربيعة رضي الله عنه

Dan disunnahkan bagi orang yang berpuasa dan tidak, untuk bersiwak baik di awal siang atau di akhirnya, sama saja. Diriwayatkan dari Amir bin Rabi’ah Radhiallahu ‘Anhu:

وَيُذْكَرُ عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ مَا لَا أُحْصِي أَوْ أَعُدّ

Disebutkan dari Amir bin Rabi’ah, dia berkata: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersiwak, dan dia sedang puasa, dan tidak terhitung jumlahnya.” (HR. Bukhari,  Bab As Siwak Ar rathbi wa Yabis Lish Shaim. Ahmad No. 15124)

Imam Al Bukhari membuat judul Bab dalam kitab Jami’ush Shahih-nya:

بَاب سِوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ لِلصَّائِمِ

“Siwak dengan  kayu basah dan yang kering bagi orang Berpuasa”

Imam Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath:

وَأَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَةِ إِلَى الرَّدِّ عَلَى مَنْ كَرِهَ لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ ، وَقَدْ تَقَدَّمَ قَبْلُ بِبَابِ قِيَاسِ اِبْنِ سِيرِينَ السِّوَاكَ الرَّطْبَ عَلَى الْمَاء الَّذِي يُتَمَضْمَضُ بِهِ

“Keterangan ini mengisyaratkan bantahan atas pihak yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa, yakni bersiwak dengan  kayu  basah, seperti kalangan Malikiyah dan Asy Sya’bi, dan telah dikemukakan sebelumnya tentang qiyas-nya Ibnu Sirin,bahwa bersiwak dengan ‘kayu basah’ itu seperti air yang dengannya kita berkumur-kumur (yakni boleh, pen).” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/158. Darul Fikr)

Dalam Tuhfah al Ahwadzi disebutkan:

( إِلَّا أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا السِّوَاكَ لِلصَّائِمِ بِالْعُودِ الرَّطْبِ )

كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ فَإِنَّهُمْ كَرِهُوا لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ لِمَا فِيهِ مِنْ الطَّعْمِ ، وَأَجَابَ عَنْ ذَلِكَ اِبْنُ سِيرِينَ جَوَابًا حَسَنًا ، قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ : قَالَ اِبْنُ سِيرِينَ : لَا بَأْسَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ ، قِيلَ لَهُ طَعْمٌ ، قَالَ وَالْمَاءُ لَهُ طَعْمٌ وَأَنْتَ تُمَضْمِضُ بِهِ اِنْتَهَى . وَقَالَ اِبْنُ عُمَرَ : لَا بَأْسَ أَنْ يَسْتَاكَ الصَّائِمُ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، قُلْت هَذَا هُوَ الْأَحَقُّ

(Sesungguhnya sebagian ahli ilmu ada yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa dengan menggunakan dahan kayu yang basah) seperti kalangan Malikiyah dan Imam Asy Sya’bi, mereka memakruhkan orang berpuasa bersiwak dengan dahan kayu basah karena itu bagian dari makanan. Ibnu Sirin telah menyanggah itu dengan jawaban yang baik. Al Bukhari berkata dalam Shahihnya: “Berkata Ibnu Sirin: Tidak mengapa bersiwak dengan kayu basah, dikatakan “ bahwa itu adalah makanan”, Dia (Ibnu Sirin) menjawab: Air baginya juga makanan, dan engkau berkumur kumur dengannya (air).” Selesai. Ibnu Umar berkata: “Tidak mengapa bersiwak bagi yang berpuasa baik dengan kayu basah atau kering,” diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Aku (pengarang Tuhfah Al Ahwadzi) berkata: Inilah yang lebih benar.(Syaikh Abdurrahman al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 3/419. Al Maktabah As Salafiyah)

Dengan demikian tidak mengapa bahkan sunah kita bersiwak ketika berpuasa, baik, pagi, siang, atau sore secara mutlak sebagaimana yang dikatakan dalam Tuhfah al Ahwadzi:

وَبِجَمِيعِ الْأَحَادِيثِ الَّتِي رُوِيَتْ فِي مَعْنَاهُ وَفِي فَضْلِ السِّوَاكِ فَإِنَّهَا بِإِطْلَاقِهَا تَقْتَضِي إِبَاحَةَ السِّوَاكِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ وَهُوَ الْأَصَحُّ وَالْأَقْوَى

“Dan dengan semua hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ini dan keutamaan bersiwak, bahwa keutamaannya adalah mutlak, dan kebolehannya itu pada setiap waktu, setiap keadaan, dan itu lebih shahih dan lebih kuat.” (Ibid)

Adapun pasta gigi, dihukumi sama dengan kayu basah, karena sama-sama mengandung air dan rasa. Dan Imam An Nawawi mengatakan bahwa dengan alat apa pun selama tujuan ‘membersihkan’ telah tercapai, itu juga dinamakan bersiwak, baik itu dengan jari, kain, atau lainnya selama tidak membahayakan.

Dalam Syarh An Nasa’i disebutkan:

وَهُوَ كُلّ آلَة يُتَطَهَّر بِهَا شُبِّهَ السِّوَاك بِهَا ؛ لِأَنَّهُ يُنَظِّف الْفَم ، وَالطَّهَارَة النَّظَافَة ذَكَرَهُ النَّوَوِيّ

“Yaitu alat apa saja yang bisa mensucikan dengannya maka dia menyerupai siwak, karena dia bisa membersihkan mulut, bersuci dan membersihkan, demikian kata An Nawawi” (Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi, Syarh An Nasa’i, Juz. 1, Hal. 7, No. 5. Mawqi’ Al Islam)

Hadits kelima belas: keutamaan berpuasa sehari di bulan Muharam (1)

عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : « من صام يوم عرفة كان له كفارة  سنتين ، ومن صام يوما من المحرم فله بكل يوم ثلاثون يوما »

          Dari Ibnu Abbas dia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang puasa pada hari Arafah, maka baginya penghapusan dosa selama dua tahun, barangsiapa yang puasa sehari pada bulan Muharam maka baginya sama dengan puasa tiga puluh hari.” (HR. Ath Thabrani,  Al Mu’jam ash Shaghir,  No. 960)

Dalam sanad hadits ini ada periwayat bernama Al Haitsam bin Habib, Salam ath Thawil, dan Laits bin Abi Sulaim. Imam Hakim mengatakan tentang Salam ath Thawil: “Hadits-haditsnya palsu.”

Sedangkan Ibnu Kharasy berkata: “dia pendusta.”

Ada pun Al Haitsam bin Habib ini disebut,”Orang yang tertuduh.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz.4 Hal. 230)

Syaikh al Albany mengatakan bahwa hadits di atas adalah maudhu’ (palsu). Salam ath Thawil adalah seorang tertuduh, sedangkan Ibnu Abi Sulaim adalah dha’if.  Sementara Imam Adz Dzahabi  mengatakan hadits ini batil.”  (As Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 1 hal. 489, No hadits. 412)

Laits bin Sulaim ini pada akhir hayatnya mengalami perubahan, ia banyak lupa dengan haditsnya sendiri. Membolak-balik sanad, memarfu’ kan yang mursal,  Sehingga Para imam seperti Ibnul Qathan, Ibnul Mahdi, Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hambal meninggalkan haditsnya. (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 2 hal. 231)

Marfu’ adalah hadits yang sanadnya dianggap sampai hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mursal adalah hadits yang sanadnya terputus setelah tabi’in, tanpa melalui sahabat nabi.

Catatan:

Sebenarnya untuk puasa Arafah, ada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan para pengarang kitab Sunan. Lebih baik kita mendasarkan ibadah puasa Arafah kepada hadits shahih tersebut, bukan hadits di atas. Hadits tersebut sangat panjang, saya kutip seperlunya saja, yakni:

Dari Abu Qatadah, dia berkata:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَة

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang puasa Arafah, dia menjawab: “Dapat menghapuskan dosa tahun lalu dan setelahnya.” (HR. Muslim,  No. 1162)

Hanya saja keutamaan puasa ‘Arafah ini tidak berlaku bagi yang sedang wukuf di ‘Arafah. Bahkan Imam at Tirmidzi dalam kitab Sunannyamembuat Bab berjudul:

كَرَاهِيَةِ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَةَ

“Dibencinya puasa ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah.”

Selesai.

Hadits keenam belas: Keutamaan berpuasa sehari di bulan Muharam (2)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمَا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلاثِينَ حَسَنَةً.

 “Barangsiapa yang berpuasa  sehari pada Muharam maka baginya tiga puluh kebaikan pada tiap harinya.”  (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam al Kabir,  No. 10919)

Menurut Syaikh al Albany hadits ini maudhu’ (palsu). Para periwayatnya sama dengan hadits di atas. (As Silsilah Adh Dha’ifah, No hadits. 413).

 Imam Al Munawi berkata tentang Al Haitsam bin Habib:

 قال الهيثمي : فيه الهيثم بن حبيب ضعفه الذهبي.

Berkata Imam Nurudin Al Haitsami: “Dalam sanad hadits ini terdapat Al Haitsam bin Habib, Imam Adz Dzahabi telah mendha’ifkannya.” (Imam al Munawi, Faidhul Qadir, Juz.6, Hal. 210. No hadits. 8782. Cet.1, Darul Kutub al ‘Ilmiyah Beirut – Libanon. 1994M-1415H)

Catatan:

Sebenarnya ada dalil shahih tentang puasa bulan Muharam khususnya tanggal Sembilan (puasa tasu’a) dan sepuluh (puasa ‘Asyura). Keduanya sunah.

Dari Al Hakam bin al A’raj dia berkata: bahwa Ibnu ‘Abbas Radhilallahu ‘Anhu berkata kepadaku:

إِذَا رَأَيْتَ هِلَالَ الْمُحَرَّمِ فَاعْدُدْ وَأَصْبِحْ يَوْمَ التَّاسِعِ صَائِمًا قُلْتُ هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ قَالَ نَعَم

“Jika kamu melihat hilal (bulan sabit) bulan Muharam, maka hitunglah, dan hendaklah puasa pada hari ke Sembilan. “ Aku bertanya: “Apakah Rasuluallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpuasa pada hari itu?” Dia menjawab: “Ya.” (HR. Muslim,  No. 1133)

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

قَالَ الشَّافِعِيّ وَأَصْحَابه وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَآخَرُونَ : يُسْتَحَبّ صوم التَّاسِع وَالْعَاشِر جَمِيعًا ؛ لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ الْعَاشِر ، وَنَوَى صِيَام التَّاسِع

“Berkata Asy Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, dan Ishaq, dan lain-lain: “Disunahkan berpuasa pada hari kesembilan dan sepuluh secara bersamaan, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari ke sepuluh, dan berniat berpuasa pada hari kesembilannya.” (Imam An Nawawi, Syarh ‘alas Shahih Muslim, Juz.4 hal. 121)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan puasa pada hari ‘Asyura. Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, itu hanya bagi yang mau saja, jika mau puasa maka puasalah, jika tidak maka berbukalah.” (HR. Bukhari , Kitab Ash Shiyam Bab Shiyam Yaumu ‘Asyura, Juz.7, Hal. 124, No hadits. 1897)

Dari ‘Aisyah Radhilallahu ‘Anha:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Orang-orang Quraisy pada zaman jahiliyah berpuasa pada hari ‘Asyura, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berpuasa. Ketika sampai di Madinah, dia berpuasa dan memerintahkan pada hari itu. Tapi ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, dia meninggalkan puasa tersebut. Jika ada mau maka puasalah, jika tidak maka tinggalkanlah.” (HR. Bukhari,  No. 1898)

Imam Ibnu Hajar berkata:

وَنَقَلَ اِبْن عَبْد الْبَرّ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ الْآن لَيْسَ بِفَرْضٍ وَالْإِجْمَاع عَلَى أَنَّهُ مُسْتَحَبّ

Ibnu Abdil Barr telah mengutip adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa sekarang puasa ‘Asyura tidaklah wajib, mereka ijma’ bahwa itu adalah sunnah. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari,  4/246. Darl Fikr)

Hadits ketujuh belas: Sunahnya puasa Rabu dan Kamis

عن ابن عباس ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من صام الأربعاء والخميس كتب له براءة من النار »

Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang berpuasa hari Rabu dan Kamis, maka dia dihindarkan dari api neraka.” (HR. Musnad Abu Ya’ala, Juz.11, Hal. 393, No hadits. 5506)

Dalam hadits ini ada periwayat bernama Abu Bakar bin Abi Maryam, seorang perawi dha’if. Berkata Imam Nuruddin al Haitsami: “Munkarul hadits (haditsnya munkar).” (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawa’id, Juz. 1, Hal. 188)

 Syaikh Ahmad Muhammad Syakir  berkata tentang dia dalam catatan kaki kitab Al Muhalla: “Dia adalah orang yang buruk hafalannya, banyak keraguan dan haditsnya ditinggalkan, namun tidak satu pun menuduhnya sebagai pendusta.” (Imam Abu Muhammad bin Hazm, Al Muhalla, Juz. 1, Hal. 231. Darul Fikr. Tahqiq: Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Imam Asy Syaukani berkata tentang dia: “Dha’if.” (Nailul Atuthar, Juz. 6, Hal. 241)

Imam Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa dia dha’if, sedangkan Imam Abu Zur’ah mengatakan bahwa dia,  “Dha’iful hadits munkarul hadits.” (Imam Ibnu Hibban, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 2, Hal. 405)

Syaikh al Albany menyatakan kedha’ifan hadits ini. (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 57, No. 480)

Catatan:

Selain secara sanad hadits di atas dha’if, teksnya pun bertentangan dengan hadits shahih yang menyunnahkan berpuasa pada hari Senin dan Kamis, bukan Rabu dan kamis.

Seorang pelayan dari Usamah bin Yazid pergi bersama Usamah menuju Wadi al Qurra dalam rangka memungut kekayaan untuknya, saat itu dia sedang puasa Senin dan Kamis, maka pelayannya bertanya kepadanya (Usamah):

لِمَ تَصُومُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ وَأَنْتَ شَيْخٌ كَبِيرٌ فَقَالَ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ وَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ

“Kenapa Anda berpuasa senin dan kamis, padahal Anda sudah tua?” Dia menjawab: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpuasa hari Senin dan Kamis,” ketika ditanya hal itu dia menajwab: “Sesungguhnya amal para hamba dicatat pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Daud, No. 2436. Syaikh Al Albani berkata: Shahih. Lihat Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, No. 2436)

Berkata Imam Abu Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi:

وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى اِسْتِحْبَاب صَوْم يَوْم الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيس لِأَنَّهُمَا يَوْمَانِ تُعْرَض فِيهِمَا الْأَعْمَال .

“Hadits ini menunjukkan disunahkannya puasa hari Senin dan Kamis, karena kedua hari itu adalah waktu dicatatnya amal.” (Imam Abu Thayyib, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 5 Hal. 316 No hadits. 2080) Selesai

Hadits delapan belas: Puasanya orang bepergian dinilai sama dengan orang yang tidak puasa ketika mukim

Dari Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صَائِمُ رَمَضَانَ فِي السَّفَرِ كَالْمُفْطِرِ فِي الْحَضَرِ

“Puasa Ramadhan bagi orang yang sedang safar, sama halnya dengan yang tidak puasa ketika mukim.” (HR.  An Nasa’i,  No hadits. 2285, 2286.  Ibnu Majah,  No. 1666. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, Juz. 4, Hal. 244)

Imam al Baihaqi berkata:

وهو موقوف وفي اسناده انقطاع وروى مرفوعا واسناده ضعيف

Hadits ini mauquf, sanadnya terputus. Sedangkan yang riwayat marfu’ sanadnya dha’if(Ibid)

Hadits mauquf adalah hadits yang hanya sampai atau terhenti pada sahabat nabi saja, tidak sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.   Sedangkan marfu’ adalah hadits yang sampai pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Syaikh al Albany berkata:

و هذا إسناد ضعيف و له علتان :

الأولى : الانقطاع لأن أبا سلمة لم يسمع عن أبيه كما في ” الفتح ” .

الثانية : أسامة بن زيد في حفظه ضعف ، و قد خالفه الثقة و هو ابن أبي ذئب فرواه

عن الزهري ابن شهاب به موقوفا

“Sanad hadits ini dha’if  karena dua faktor. Pertama, sanadnya terputus, lantaran Abu Salamah tidak pernah mendengar langsung dari Ayahnya sebagaimana diterangkan dalam “Al Fath.”  Kedua, Usamah bin Zaid lemah hafalannya, dan yang lebih terpercaya darinya telah menyelisihi dirinya yakni Ibnu Abi Dzi’b,  dan Ibnu Syihab Az Zuhri telah meriwayatkan darinya secara mauquf. (As Silsilah Adh Dha’ifah,  No. 498)

Imam Ibnu Hajar  juga mengatakan bahwa sanad hadits ini terputus, karena Abu Salamah belum pernah dengar langsung dari ayahnya tentang hadits ini. (Fathul Bari, 4/184. Darul Fikr)

Hadits kesembilan belas: Berpuasa Ramadhan di Madinah lebih baik  …

رمضان بالمدينة خير من ألف رمضان فيما سواها من البلدان ، و جمعة بالمدينة

خير من ألف جمعة فيما سواها من البلدان

“Ramadhan di Madinah lebih baik dibanding seribu Ramadhan di tempat lain dan melakukan shalat Jum’at di Madinah lebih baik seribu kali Jum’at dibanding Jum’at di tempat lain.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir,  No. 1134)

Dalam sanad hadits ini terdapat Abdullah bin Katsir.

Imam Adz Dzahabi berkata: “Dia (Abdullah bin Katsir) tidak diketahui. Hadits di atas batil dan sanadnya sangat gelap (tidak jelas). Imam Dhiya’uddin tidak menempatkan hadits ini dalam hadits-hadits pilihan, karena Abdullah bin Katsir meriwayatkannya secara tunggal dari Abdullah bin Ayyub al Makhrami.” (Imam Adz Dzahabi, Mizan al I’tidal, Juz. 2 Hal. 473. Darul Ma’rifah Lithiba’ah wan Nasyr, Beirut – Libanon.)

Perkataan Imam Adz Dzahabi di atas juga disepakati oleh Imam Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dalam Lisanul Mizan, Juz. 2, Hal. 55)

 Syaikh al Albany Rahimahullah mengkategorikan hadits ini sebagai hadits batil, walau pun ada riwayat lain yang serupa, namun semua riwayat tersebut diriwayatkan oleh perawi  dha’if (lemah hafalannya), majhul (tidak dikenal) bahkan pemalsu hadits. (As Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 330, No. 83) Selesai.

Hadits kedua puluh: Puasa Ramadhan di Mekkah lebih baik …

من أدرك رمضان بمكة فصام و قام منه ما تيسر له ، كتب الله له مائة ألف شهر

رمضان فيما سواها ، و كتب الله له بكل يوم عتق رقبة ، و كل ليلة عتق رقبة ، و

كل يوم حملان فرس في سبيل الله ، و في كل يوم حسنة ، و في كل ليلة حسنة

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan di Mekkah dan shalat malam sesuai kemampuannya, maka dia dicatat seperti melakukan seratus ribu kali puasa Ramadhan di luar Mekkah, dan dicatat baginya setiap hari seperti membebaskan satu budak,  dan malamnya  seperti membebaskan satu budak, dan setiap harinya mendapatkan pahala orang yang mempersiapkan kuda perang fisabilillah, dan setiap hari adalah satu kebaikan dan setiap malam satu kebaikan pula. (HR.  Ibnu Majah No. 3117)

Dalam sanad hadits ini terdapat Abdurrahim bin Zaid al ‘Ammy.

Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang dia: “Dia bukan apa-apa.” Sementara Imam Abu Zur’ah mengatakan: “Dha’iful Hadits (haditsnya lemah).” Abdurrahman bertanya kepada ayahnya tentang dia: “Haditsnya ditinggalkan.” (Imam Abu Hatim ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 5 Hal. 339-340)

Sementara dalam Taqribut Tahdzib, disebutkan bahwa Imam Yahya bin Ma’in menyebut Abdurrahim bin Zaid al ‘Ammy adalah pendusta dan matruk (ditinggalkan haditsnya/semi palsu). (Imam Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, Juz. 1, Hal. 598. Dar al Maktabah al ‘Ilmiyah, Beirut – Libanon)

Sementara Syaikh al Albany mengatakan hadits ini maudhu’ (palsu). Beliau berkata:

و هذا موضوع ، و لوائح الوضع عليه

ظاهرة ، و آفته عبد الرحيم هذا ، فقد قال ابن معين فيه : ” كذاب خبيث ” . و قال

النسائي : ” ليس بثقة و لا مأمون ” . و قال ابن حبان ( 2 / 152 ) : ” يروي عن

أبيه العجائب مما لا يشك من الحديث صناعته أنها معمولة أو مقلوبة كلها ” . ثم

رأيت الحديث في ” العلل ” لابن أبي حاتم ، و قال ( 1 / 250 ) : ” هذا حديث منكر

، و عبد الرحيم بن زيد متروك الحديث ” .

“Ini adalah maudhu’ (palsu), barangkali kepalsuannya sangat nampak, yaitu terlihat pada kecacatan Abdurrahim. Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Pendusta yang busuk.” Imam An Nasa’i berkata: “Tidak bisa dipercaya dan tidak amanah.”  Berkata Ibnu Hibban (2/152): “Dia meriwayatkan dari ayahnnya keanehan-keanehan yang tidak diragukan lagi sebagai hadits buatannya sendiri, dikerjakannya, dan semuanya terbalik.” Kemudian saya (Syaikh al Albany) melihat hadits ini dalam kitab Al ‘Ilal (1/250) karya Abu Hatim dia berkata: “Hadits ini munkar, dan Abdurrahim bin Zaid adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan/tidak dipakai).” (As Silsilah Adh Dha’ifah, No. 832. Lihat juga Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 2 hal. 161)

Catatan:

Dengan jelasnya kelemahan (bahkan palsu) hadits-hadits keutamaan puasa Ramadhan di Mekkah dan Madinah, maka kita simpulkan bahwa keutamaan puasa Ramadhan ditentukan oleh kualitas puasa itu sendiri. Sedangkan, untuk  keutamaan shalat di masjidil haram (Mekkah) dan masjid nabawi (Madinah) telah diterangkan dalam hadits shahih. Hadits shahih itulah yang kita jadikan alasan.

Hadits-hadits tersebut adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Shalat di masjidku ini (masjid nabawi) lebih baik seribu kali shalat di masjid lainnya, kecuali masjidil haram.” (HR. Bukhari, Kitab Al Jum’ah Bab Fahdlush Shalah fi Masjid Makkah wal Madinah, Juz. 4 Hal. 377 No. 1116)

Kenapa dikecualikan masjidil haram? Karena shalat di masjidil haram justru seratus kali lebih utama dibanding di masjid nabawi.  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صلاة في مسجدي هذا أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد إلا المسجد الحرام و صلاة في المسجد الحرام أفضل من صلاة في مسجدي هذا بمائة صلاة .

“Shalat di masjidku (masjid nabawi) ini lebih utama seribu kali shalat dibanding shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil haram. Sedangkan shalat di masjidil haram lebih utama seratus kali shalat di masjidku ini. (HR. Ahmad,  No. 15533. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, lihat Fathul Bari, 3/67. Darul Fikr.  Syaikh al Albany mengatakan: Shahih. Lihat Shahih  Al Jami’ Ash Shaghir,   No. 3841)

Hadits Kedua puluh satu: Puasa Ramadhan tidak sampai Allah Ta’ala tanpa zakat

شهر رمضان معلق بين السماء و الأرض ، و لا يرفع إلى الله إلا بزكاة الفطر

“Bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, tidak sampai kepada Allah kecuali dengan zakat fitrah.”

Hadits ini dha’if.  Imam Ibnul Jauzi berkata dalam Al Wahiyat:

لا يصح فيه محمد بن عبيد البصري مجهول .

“Tidak shahih, di dalamnya ada Muhammad bin ‘Ubaid Al Bashri, dia majhul (tidak dikenal).” (Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, Juz. 4, Hal. 219)

Imam Ibnu Hajar berkata:

لا يتابع عليه .

“Hadits ini tidak ada penguatnya.” (Imam Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, Juz. 2, Hal. 432)

Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Nashirudin al Albany mengatakan hadits ini dha’if. Dia juga mengatakan:

ثم إن الحديث لو صح لكان ظاهر الدلالة على أن قبول صوم رمضان متوقف على إخراج

صدقة الفطر ، فمن لم يخرجها لم يقبل صومه ، و لا أعلم أحدا من أهل العلم يقول

به ، و التأويل الذي نقلته آنفا عن المقدسي بعيد جدا عن ظاهر الحديث ، على أن

التأويل فرع التصحيح ، و الحديث ليس بصحيح .

أقول هذا ، و أنا أعلم أن بعض المفتين ينشر هذا الحديث على الناس كلما أتى شهر

رمضان ، و ذلك من التساهل الذي كنا نطمع في أن يحذروا الناس منه فضلا عن أن

يقعوا فيه هم أنفسهم !

“Jika hadits ini shahih, maka menurut zhahirnya menunjukkan bahwa ibadah puasa baru diterima jika sudah mengeluarkan zakat fitrah, bagi yang belum menunaikan zakat fitrah maka puasanya tidak diterima, saya tidak mengetahui satu pun ulama yang berpendapat demikian. Pemahaman yang saya kutip barusan saya ambil dari Al Muqaddasi adalah takwil yang sangat jauh dari teks hadits, itu jika haditsnya shahih, ternyata haditsnya tidak shahih.

Saya katakan demikian, karena saya mengetahui bahwa sebagian mufti (ahli fatwa) ada yang menyebarkan hadits ini ketika masuknya bulan Ramadhan. Itu adalah salah satu bentuk menggampangkan masalah yang saya khawatirkan, padahal seharusnya mereka hati-hati dalam mengutarakannya!” (As Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 1, Hal. 120, No. 43). Wallahu A’lam

Sekian. Wa Akhiru da’wana an alhamdulillahi rabbil ‘alamin …