Home KONSULTASI SYARIAH

Mabit Disertai Tahajjud Berjamaah

40
SHARE
Dzikir Bersama Imam Setelah Selesai Shalat

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh ustadz.

Saya dapat video seorang ustadz ketika ditanya apa hukumnya mengadakan acara mabit disertai tahajjud berjamaah?
Jawaban ustadz tersebut itu bid’ah. Bagaimana dengan pendpat tersebut Ustadz?
Bagaimana sebetulnya pandagan fiqh nya? Karena beberapa kali ikut atau adakan kegiatan demikian. Jazakallah khoir.

Jawaban Ustadz Farud Numan Hasan Hafizhahullah

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Sebagian orang menuduh acara mabit menyerupai orang kafir ( tasyabbuh bil kuffar) yaitu para biarawan/biarawati yang bermalam dan beribadah di kuil mereka, dan bid’ ah.

Tuduhan itu sangat tidak benar dan bertabrakan dengan dalil-dalil umum dan perilaku salaf.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At Taubah (9): 108)

Inilah esensi acara mabit yaitu mensucikan diri, mempautkan hati dengan masjid, dan memakmurkannya. Semua ini syar’i.

Memakmurkan masjid adalah ciri orang beriman, bukan tasyabbuh bil kuffar

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At Taubah (9): 14)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Al Quran, mengkajinya di antara mereka, melainkan akan turun ketenangan kepada mereka, dan mereka diliputi rahmat, dan malaikat mengelilingi mereka, dan mereka menyebut namanya di sisiNya.” (HR. Muslim no. 2699)

Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa berkumpul di masjid, membaca Al Quran dan mengkajinya, sebagaimana yang dilakukan para peserta mabit. Sebagaimana yang dilakukan para mabiters. Bagaimana mungkin mabit – yang pada hakikatnya adalah i’tikaf di masjid- dituduh menyerupai orang kafir?

Secara khusus, perilaku salaf pun menjadi teladan dalam hal ini. Dari Al Harits bin Abdirrahman bin Abi Dzubab, dia berkata:

سألت سليمان بن يسار عن النوم في المسجد ، فقال : « كيف تسألون عن هذا وقد كان أصحاب الصفة ينامون فيه ويصلون فيه ؟ »

“Aku bertanya kepada Sulaiman bin Yasar tentang tidur di masjid, maka dia menjawab: “Bagaimana kalian bertanya tentang hal ini, padahal Ashhabush Shuffah tidur di masjid dan mereka shalat di dalamnya?” (Al Fakihi, Akhbar Makkah, No. 1199)

Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri ikut hadir dalam majelisnya Ahlush Shuffah.

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

وَقَدْ رُوِيَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ وَمِنْهُمْ وَاحِدٌ يَقْرَأُ فَجَلَسَ مَعَهُمْ } وَقَدْ رُوِيَ فِي الْمَلَائِكَةِ السَّيَّارِينَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ الْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ .

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ keluar rumah menuju Ahlush Shuffah (para sahabat yang tinggal di masjid nabawi, pen), ada salah seorang mereka yang membaca Al Quran dan dia berada bersama mereka. Diriwayatkan pula bahwa para malaikat berkeliling mencari majelis-majelis dzikir, dan hadits ini telah dikenal. (Majmu Al Fatawa, 23/133)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

فقد الصحابة الراشدون يجتمعون فى بيوتهم و فى مساجدهم و بينهم نبيهم ﷺ و يتناشدون الأشعار ويتذاكرون الأخبار و يأكلون و يشربون

Dahulu para sahabat Nabi ﷺ berkumpul di rumah-rumah mereka, di masjid, dan Nabi ﷺ masih di sisi mereka, mereka menyenandungkan syair, saling mengingatkan dengan Khabar (hadits), serta makan dan minum. (Ar Rasaail As Salafiyyah, Hal. 46)

Ada pun buat muslimah, Imam Bukhari telah membuat Bab Naumil Mar’ati fil Masjid (Tidurnya Kaum Wanita di Masjid). Namun, itu jika aman dari fitnah, berpakaian syari, dan dapat izin dari wali atau suaminya bagi yang sudah nikah.

Demikian…