Home FIQIH

Madzhabnya Orang Awam adalah Mengikuti Ulama Di Negerinya

175
SHARE

Manusia terbagi menjadi tiga tingkatan:

  1. Para ulama yang mampu berijtihad dan menyimpulkan hukum sendiri atas dalil-dalil yang ada.
  2. Para penuntut ilmu, dia belum sampai derajat mujtahid, tapi dia mampu menghimpun dan menganalisis pendapat-pendapat ulama lalu melakukan tarjih (uji kekuatan dalil) untuk memilih mana yang lebih argumentatif.
  3. Orang awam, baik mualaf, atau bukan mualaf tapi baru belajar, mereka tidak tahu dalil dan tidak mampu pula mengkomparasi perkataan ulama dan dalil-dalilnya.

Bagi yang masih awam maka hendaknya mengikuti para ulama khususnya di negerinya dan yang hidup sezaman dengannya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl, Ayat 43)

Tertulis dalam Tanqih Al Fatawa Al Hamidiyah:

وَظِيفَةُ الْعَوَامّ التَّمَسُّكُ بِقَوْلِ الْفُقَهَاءِ وَاتِّبَاعُهُمْ فِي أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ…

Tugas orang awam adalah bersandar kepada perkataan para fuqaha dan mengikuti mereka dalam ucapan dan perbuatan…

لَا اخْتِيَارَ لِلْعَامِّيِّ فِي أَقْوَالِ الْمَاضِينَ ، وَلَهُ الِاخْتِيَارُ فِي أَقَاوِيلِ عُلَمَاءِ عَصْرِهِ إذَا اسْتَوَوْا فِي الْعِلْمِ وَالصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ

Seorang yang masih awam tidak boleh memilih pendapat-pemdapat terdahulu, dia mesti memilih pendapat para ulama di zamannya jika ulama tersebut punya kapasitas ilmu, jujur, dan amanah.

ومن وقعت له حادثة فأَخْبَرَهُ عُلَمَاءُ عَصْرِهِ بِأَقَاوِيلِ الصَّحَابَةِ لَا يَسَعُ الجاهل أَخْذُ شَيْءٍ مِنْهَا حَتَّى يَخْتَارَ لَهُ الْعَالِمُ بِالدَّلِيلِ

Seorang yang mengalami hal baru, lalu para ulama zamannya mengabarkan kepadanya beragam pendapat para sahabat nabi, maka tidak diperkenankan bagi orang yang jahil (bodoh) mengambil pendapat itu sampai adanya ulama yang memilihkannya berdasarkan dalil. (Tanqih Al Fatawa Al Hamidiyah, 7/431)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan tentang orang awam:

ويلزمهم أن يقلدوا علماء عصرهم ، بل علماء بلدهم ، حتى لا يفتح لهم الباب للاختيار من أقوال العلماء ما شاءوا – وهم ليس عندهم الأهلية للترجيح – فسوف يختارون الأسهل دائما والموافق لهواهم ، وهذا سوف يؤدي إلى كثرة التنازع والاختلاف

Wajib bagi mereka mengikuti para ulama di zamannya bahkan ulama di negerinya, agar tidak ada pintu bagi mereka memilih pendapat ulama seenaknya saja -karena mereka tidak memiliki keahlian melakukan tarjih- dengan itu kelak mereka selalu memilih yang paling mudah dan sesuai hawa nafsunya saja. Inilah yang kemudian paling banyak mengantarkan kepada perselisihan dan pertentangan. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 215535)

Demikian. Wallahu a’lam