Home FIQIH FIQIH MUAMALAH

Makan Jeroan, Bolehkah?

110
SHARE

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Ini diperselisihkan ulama, mayoritas ulama membolehkan, sedangkankan Imam Abu Hanifah melarang dengan alasan itu termasuk khabits (kotor lagi menjijikkan) yang terlarang di makan. Tapi, pendapat yang kuat adalah boleh, karena memang tidak ada dalil tegas yang melarangnya, adapun menjijikkan sifatnya relatif, dan dalil yang ada pun justru membolehkannya.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:

أُحِلَّتْ لَنا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Dihalalkan buat kami dua bangkai dan dua darah, dua bangkai yaitu ikan dan belalang, dua darah yaitu hati, dan limpa.” (H.R. Ibnu Majah No. 3314, Ahmad no. 5723. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 5723)

Maka, jeroan baik babat, usus, hati, limpa, paru, setelah dibersihkan dan dimasak dengan baik, sama dengan bagian tubuh lainnya.

Imam Al Hathab Rahimahullah menjelaskan:

قَالَ فِي الْمُدَوَّنَةِ وَمَا أُضِيفَ إلَى اللَّحْمِ مِنْ شَحْمٍ وَكَبِدٍ وَكَرِشٍ وَقَلْبٍ وَرِئَةٍ وَطِحَالٍ وَكُلًى وَحُلْقُومٍ وَخُصْيَةٍ وَكُرَاعٍ وَرَأْسٍ وَشِبْهِهِ فَلَهُ حُكْمُ اللَّحْمِ

Imam Malik berkata dalam Al Mudawanah: apa-apa yang menempel dengan daging baik berupa lemak, hati, perut [babat], jantung, paru-paru, limpa, ginjal, kerongkongan, biji dzakar, betis, kepala, dan semisalnya, maka hukumnya sama dengan hukum daging.” (Imam Al Hathab, Mawahib Al Jalil, 6/204)

Berikut ini fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah:

فى الحديث الشريف أنه صلى الله عليه وسلم قال – بما معناه: (أحلت لكم ميتتان ودمان أما الميتتان فالسمك والجراد، وأما الدمان فالكبد والطحال..الحديث)، فما حكم أكل دماغ الذبيحة وعينها والقلب والكلية واللسان والأمعاء والكبد والطحال، وما الذي يمكن أن نميز به بين ماهو من الدم -فهو حلال- وما هو من اللحم -فهو حرام-؟ وجزاكم الله خيراً.
الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:
فالذبيحة التي يباح أكل لحمها شرعاً إذا تمت تذكيتها بطريقة شرعية حل أكل جميع أجزائها بما في ذلك الأجزاء التي ذكرتها في سؤالك، إلا دمها المسفوح وهو الدم الذي سببه الذبح، وراجع في ذلك الفتوى رقم: 53337، والفتوى رقم: 59171.
وبخصوص الحديث الذي ذكرته فقد رواه ابن ماجه وغيره وصححه الشيخ الألباني، وهو يفيد حرمة الميتة سوى ميتة السمك والجراد، كما يفيد حرمة الدم باستثناء الكبد والطحال، وليس معنى الحديث أن كل ما كان من الدم فهو حلال وكل ما من اللحم فهو حرام. والله أعلم.

Pertanyaan: Dalam sebuah hadits disebutkan: “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah; ikan, belalang, hati, dan limpa.” Jadi, apa hukum otak, mata, jantung, lidah, usus, hati, dan limpa. Apa pula yang bisa dijadikan pembeda antara darah yang halal dan daging yang haram?

Jawaban:

Hasil sembelihan yang disembelih secara sempurna dan sesuai syariat adalah halal dimakan di dagingnya, dan semua bagian-bagiannya, seperti yang Anda tanyakan dalam soal, kecuali darah mengalir, yaitu darah yang keluar disebabkan oleh penyembelihan. Untuk masalah ini silahkan cek fatwa No. 53337, 59171.
Khusus hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Makna hadits tersebut bukan semua bangkai itu halal, tapi ada pengecualian yaitu ikan dan belalang. Dan bukan semua darah itu haram, tapi ada pengecualian, hati dan limpa. Wallahu A’lam. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah No. 78709)

Fatwa serupa juga disampaikan oleh Syaikh Bin Baaz, dan lainnya.

Kesimpulan:

– Mayoritas ulama membolehkan memakan jeroan hewan yang halal di makan, karena itu sama dengan daging dan tidak ada dalil yang melarangnya, kecuali Imam Abu Hanifah yang memakruhkannya dengan alasan itu khabits (kotor).

– Namun jika memakannya melahirkan dharar (bahaya), berupa penyakit tertentu maka jauhi makan jeroan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu jatuhkan [dirimu sendiri] ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri. (Q.S. Al-Baqarah, Ayat 195)

Demikian. Wallahu A’lam.

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah