Home KONSULTASI SYARIAH

Makna “Kau Memotong Leher Sahabatmu” Dalam Hadits Pujian

31
SHARE

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum Ustadz,

Apa maksud dalam hadits Nabi Muhammad mengatakan, “celaka kamu, kamu telah memenggal leher teman mu” ketika ada sahabat yang memuji sahabat lainnya?

Bahaya apa yang mengancam sehingga diibaratkan ‘memenggal leher temanmu’?

Syukron ustadz. Jazakumullah khair.

Jawaban Ustadz Farid Numan Hasan Hafizhahullah

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah. Bismillah wal Hamdulillah. 

Abu Bakrah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

أَنَّ رَجُلًا ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ يَقُولُهُ مِرَارًا إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ كَذَا وَكَذَا إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ وَحَسِيبُهُ اللهُ وَلَا يُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا

Ada seorang laki-laki menceritakan laki-laki lain dan memuji kebaikannya dihadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Nabi bersabda:

“Tercelalah kamu, kau memotong leher temanmu, kau memotong leher temanmu, ” beliau mengucapkannya berkali-kali, kemudian beliau bersabda: “Bila salah seorang dari kalian memuji temannya -tidak mustahil- hendaklah mengucapkan: ‘Aku kira fulan -bila ia melihat seperti itu- dan aku tidak menyucikan seorang pun atas Allah.” (HR. Muslim No. 5320)

Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam “Bab An Nahyi ‘anil Mad-hi idza kaana fiihi ifraathun wa khiifa minhu fitnah ‘alal Mamduuh” artinya Bab Larangan Memuji Jika Berlebihan dan Khawatir Lahir Fitnah Bagi Orang Yang Dipuji.

Pujian sering melahirkan keburukan bagi yang dipuji, walau dia memang pantas menerimanya. Diantara keburukan itu adalah potensi untuk terpedaya oleh kehebatan diri sendiri, lupa kekurangan, lahirnya sombong, dan hilangnya keikhlasan. Itulah maksud seakan kau memotong lehernya. Oleh karena itu, sebaiknya memuji manusia tidak dihadapannya. Itu lebih aman.

Imam Al Baghawi Rahimahullah menjelaskan:

إنما كره ذلك لئلا يغتر المقول له به ، فيستشعر الكبر ، وذلك جناية عليه ، فيصير كأنه قطع عنقه فأهلكه.

Sesungguhnya dibencinya perbuatan tersebut agar dia tidak terpedaya oleh ucapan (pujian) tersebut, lalu lahir perasaan sombong, dan hal itu merupakan kejahatan kepadanya, sehingga seakan dia telah terpotong lehernya dan membuatnya binasa. (Syarhus Sunnah, 13/150)

Ada juga yang memaknai bahwa dibencinya pujian, jika pada kenyataannya tidak sesuai pujiannya, sehingga pujian tersebut masuk kategori berlebihan. Itulah memotong leher sahabatnya, atau dalam hadits lain memotong punggung seseorang.

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah menjelaskan:

معنى هذا الحديث – والله أعلم – النهى عن أن يفرط فى مدح الرجل بما ليس فيه ؛ فيدخله من ذلك الإعجاب ، ويظن أنه فى الحقيقة بتلك المنزلة ؛ ولذلك قال : قطعتم ظهر الرجل . حين وصفتموه بما ليس فيه . فربما ذلك على العجب والكبر ، وعلى تضييع العمل وترك الازدياد من الفضل ، واقتصر على حاله من حصل موصوفًا بما وصف به

Makna hadits ini – Wallahu A’lam- adalah larangan berlebihan dalam memuji seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Sehingga orang itu dihinggapi ‘ujub (takjub dengan diri sendiri), lalu dia menyangka kedudukan dirinya sesuai dengan pujian itu. Oleh karena itu Nabi bersabda: “Kau telah memotong punggungnya”, saat dia disifatkan dengan apa-apa yang tidak ada padanya.

Bisa jadi hal itu melahirkan ‘ujub, sombong, menghilangkan amal, tidak mau menambah dengan amal utama, dan mencukupkan diri atas keadaan yang ada, merupakan di antara dampak dari pensifatan dengan sifat yang tidak ada pada dirinya. (Syarh Shahih Al Bukhari, 9/254)

Demikian. Wallahu A’lam