Home KONSULTASI SYARIAH

Membaca Alqur’an tanpa Berwudhu, Bolehkah?

398
SHARE

Pertanyaan:

Ustadz, membaca Alqur’an kalau tidak berwudhu bagaimana hukumnya? Jika safar, saat di kendaraan kan ingin tilawah tapi sulit berwudhu.

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Membaca saja, tanpa menyentuhnya BOLEH menurut kesepakatan para ulama.

Imam An Nawawi mengatakan:

فإن قرأ محدثا جاز بإجماع المسلمين والأحاديث فيه كثيرة معروفة

Jika seorang dalam kondisi hadats membaca Al Quran maka BOLEH menurut ijma’ kaum muslimin, dan hadits-hadits tentang itu banyak dan telah diketahui.(At Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, Hal. 73. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Kalau membacanya melalui HP, atau Al Qur’an terjemah, maka boleh sambil memegang juga. Sebab hakikatnya itu bukan mushaf.

Adapun menyentuh atau memegang mushaf tanpa bersuci dulu, para ulama berbeda pendapat, mayoritas ulama melarangnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan:

وأما مس المصحف، فالصحيح أنه يجب له الوضوء، كقول الجمهور، وهذا هو المعروف عن الصحابة : سعد، وسلمان، وابن عمر . وفي كتاب عمرو بن حزم عن النبي صلى الله عليه وسلم : ” لا يمس القرآن إلا طاهر ” . وذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يسافر بالقرآن إلى أرض العدو مخافة أن تناله أيديهم

Adapun menyentuh mushaf, yang benar adalah wajib baginya berwudhu sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini telah diketahui dari para sahabat: Sa’ad, Salman, dan Ibnu Umar. Dari ‘Amru bin Hazm, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah menyentuh Al Quran kecuali yang suci.” Dan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga melarang bepergian membawa Al Quran ke negeri musuh (kafir), khawatir mereka menyentuhnya dengan tangan mereka.(Majmu’ Fatawa, 21/288)

Imam Abu Ishaq Asy Syirazi Rahimahullah berkata:

ويحرم عليه مس المصحف لقوله تعالى (لا يمسه الا المطهرون) ولما روى حكيم بن حزام رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قال (لا تمس القرآن الا وأنت طاهر) ويحرم عليه حمله في كمه لانه إذا حرم مسه فلان يحرم حمله

Diharamkan atas orang yang berhadats menyentuh mushaf, karena firman Allah Ta’ala: “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” Juga riwayat Hakim bin Hizam Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah menyentuh Al Quran kecuali jika kamu suci.” Dan diharamkan juga atasnya membawanya di lengan bajunya, sebab jika si Fulan diharamkan menyentuhnya maka membawanya juga diharamkan. (Al Muhadzdzab fi Fiqhil Imam Asy Syafi’i, 1/53-54)

Sementara itu, ulama lain sejak masa sahabat Nabi ﷺ, tabi’in, dan Imam Abu Hanifah, membolehkannya.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وروي عن ابن عباس ، والشعبي ، وجماعة منهم أبو حنيفة ، أنه يجوز للمحدث مسه ، وقد أوضحنا ما هو الحق في هذا في شرحنا للمنتقي ، فليرجع إليه

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Asy Sya’bi, dan segolongan dari mereka seperti Abu Hanifah, bahwa boleh bagi seorang yang berhadats untuk menyentuh Al Quran, dan kami telah menjelaskannya dalam Al Muntaqa’ mana pendapat yang benar, silakan merujuk ke sana.(Fathul Qadir, 7/137)

Ternyata Imam Asy Syaukani termasuk yang lebih menguatkan pendapat bolehnya menyentuh Al Quran bagi yang berhadats, baik hadats besar (junub, haid, dan nifas) dan kecil.

Jadi, tentang menyentuh mushaf bagi yang berhadats masih diperdebatkan para ulama. Sikap yang paling aman adalah wudhu saja dulu, ini paling aman dan keluar dari perdebatan.

Demikian. Wallahu A’lam.