Home KONSULTASI SYARIAH

Membaca Shalawat dengan Mengkhususkan Angka Tertentu

76
SHARE

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, ada group WA khusus membaca sholawat untuk Rasulullah SAW dimana setiap harinya membernya ditarget untuk membaca sholawat (misal senin 100x, selasa 200x, rabu 300x, kamis 400, jumat 1000x dan sabtu 500x) apakah hal tersebut termasuk bid’ah?

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Shalawat itu banyak keutamaannya dan ini sudah sama-sama diketahui.

Shalawat ada dua model:

1. Muqayyad, yaitu shalawat yang terikat oleh waktu atau hal tertentu misal saat disebut nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, masuk hari Jumat, mengawali khutbah, mengawali dan mengakhiri doa, tasyahud, menutup majelis. Semua ini ada dalam sunnah.

2. Muthlaq, yaitu shalawat yang tidak terikat waktu atau hal tertentu. Bebas saja, mau dibaca saat pagi, siang, sore, di jalan, di kendaraan, saat di rumah, di kantor, sendiri, di keramaian, dst.

Ada pun masalah angka-angka shalawat para ulama sepakat sebanyak-banyaknya, sebab itu bagian dari dzikir..

Ada pun mengkhususkan angka tertentu, di hari tertentu diperselisihkan ulama. Sebagian membid’ahkan, sebagian membolehkan, seperti Imam Ibnu Taimiyah. Beliau membolehkan berdzikir dengan angka-angka tertentu, bahkan Beliau sendiri melakukannya, seperti yang diceritakan oleh murid terdekatnya Imam Ibnul Qayyim.

Imam Ibnul Qayyim mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah:

من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر: يا حي يا قيوم، لا إله إلا أنت، برحمتك أستغيث حصلت له حياة القلب، ولم يمت قلبه

Siapa yang getol membaca sebanyak 40 kali setiap pagi antara shalat sunnah fajar (qabliyah subuh) dan fajar (subuh), “Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha Illa Anta, birahmatika astaghits” maka dia akan mendapatkan hati yang hidup, hatinya tidak akan mati. (Madarijus Salikin, 1/446)

Angka 40 dalam ucapan Ibnu Taimiyah di atas tidak ada dalam sunnah, itu adalah ijtihad Beliau. Padahal Beliau dikenal sebagai ulama yang begitu keras terhadap bid’ah.

Sikap kita adalah seperti yang dikatakan oleh Imam Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah:

إذا رأيت الرجل يعمل العمل الذي قد اختلف فيه وأنت ترى غيره فلا تنهه.

“Jika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya.” (Imam Abu Nu’aim Al Asbahany, Hilaytul Auliya, 3/133)

Bagi yang tidak menganggap itu sunnah, maka tinggalkan itu dan jangan mencela pelakunya. Lapang dada terhadap perbedaan fiqih.

Demikian. Wallahu a’lam