Home KONSULTASI SYARIAH TJ AKHLAK & ADAB

Memberi Makan dan Minum Anjing

63
SHARE

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz. Di kompleks saya ada seekor anjing yang dirantai di pohon tapi saya tidak tahu siapa yang punya. Saya kasihan karena saya lihat dia jarang sekali diberi makan. Yang saya mau tanyakan, bolehkah saya memberi makan dan minum anjing itu? Apakah saya berdosa kalau memberi makan dan minum? Karena dalam Islam kan anjing itu haram. Terima kasih.


Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain. Wa ba’d.

Memberikan makan atau minum kepada hewan yang kelaparan adalah perbuatan yang mulia bahkan diperintahkan agama, termasuk kepada anjing. Haramnya anjing adalah untuk dikonsumsi, itulah mayoritas pendapat ulama, begitu pula kemakruhan memelihara anjing untuk hobi, semua itu adalah satu hal. Sedangkan memberikan makan kepada anjing yang kelaparan yang kita jumpai di jalan adalah hal yang lain, itu adalah amal shalih yang bisa menghapuskan dosa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menceritakan, adanya seorang laki-laki yang menjumpai anjing di padang pasir sedang menggonggong sambil makan debu karena kehausan. Lantas laki-laki itu menuju sebuah sumur dan mengambilkan air sepenuh sepatunya untuk anjing tersebut, hingga anjing tersebut minum sampai puas. Setelah itu Beliau bersabda:

فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَه

Maka Allah berterima kasih kepadanya, lalu mengampuni dosa orang itu.” (H.R. Al Bukhari No. 2363)

Imam Al Qurthubi Rahimahullah menerangkan -seperti yang dikutip Al Hafizh Ibnu Hajar:

معنى قوله فشكر الله له أي أظهر ما جازاه به عند ملائكته ووقع في رواية عبد الله بن دينار بدل فغفر له فأدخله الجنة

Arti dari sabdanya “Allah berterima kasih kepadanya” yaitu Allah menampakkan balasan-Nya di hadapan para malaikat. Sedangkan yang tertera dalam riwayat Abdullah bin Dinar kalimat “lalu Dia memasukannya ke surga” ganti dari “lalu mengampuni dosa orang itu.” (Fathul Bari, 5/42)

Demikian. Wallahu A’lam.

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.