Home KONSULTASI SYARIAH

Memindahkan dan Menembok Kuburan

99
SHARE

Pertanyaan:

Assalamualaikum, Ustadz. Apa hukum memindahkan tulang belulang jenazah yang ada di dalam kubur ke kubur yang lain? Dan jika boleh, adakah cara yang sesuai dengan syariat agama kita?

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah

Pertama. Memindahkan Kuburan

Membongkar mayat di kuburnya dan memindahkannya tanpa keperluan syar’i adalah terlarang menurut para ulama. Sebab pemindahan itu dapat menyakiti dan menghinakan mayat tersebut. Larangan ini berdasarkan hadits-hadits berikut:

إِنَّ كَسْرَ عَظْمِ الْمُؤْمِنِ مَيْتًا مِثْلُ كَسْرِهِ حَيًّا

Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mu’min yang sudah wafat sama seperti mematahkannya saat hidupnya. (H.R. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616, Ahmad No. 24308, dan lain-lain. Syaikh Syu’aib Al Arna’uth mengatakan para perawinya terpercaya. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24308)

Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan hadits ini:

ويستفاد منه أن حرمة المؤمن بعد موته باقية كما كانت في حياته

Dari hadits ini terdapat faedah, bahwa kehormatan seorang mu’min setelah wafatnya masih ada sebagaimana dahulu saat dia masih hidup. (Fathul Bari, 9/113)

Ath Thayyibiy Rahimahullah berkata:

إشارة إلى أنه لا يهان ميتا كما لا يهان حيا

Ini adalah isyarat bahwa tidak boleh menghinakan mayat, sebagaimana tidak boleh menghinanya saat hidup. (‘Aunul Ma’bud, 9/18)

Dalil lainnya, ‘Amru bin Hazm Radhiallahu ‘Anhu bercerita: Nabi ﷺ melihatku sedang bersandar di kuburan, beliau bersabda:

لا تؤذ صاحب القبر

Jangan sakiti penghuni kubur. (H.R. Ath Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar No. 2944, Alauddin Muttaqi dalam Kanzul ‘Umal No. 42988. Al Hafzih Ibnu Hajar mengatakan: sanadnys shahih. [Fathul Bari, 3/225]. Lihat juga Syarh Az Zarqani ‘alal Muwaththa, 2/97)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah menjelaskan:

نهى عن أذية المقبور من المؤمنين، وأذية المؤمن محرمة بنص القرآن {وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُبِيناً}

Dilarang menyakiti penghuni kubur dari kalangan orang-orang beriman. Menyakiti seorang mu’min diharamkan berdasarkan nash Al Quran: Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [Q.S. Al Ahzab: 58]. (Subulus Salam, 2/120)

Demikianlah alasan terlarangnya memindahkan mayit yang sudah kubur jika tanpa keperluan syar’iy. Tapi jika ada alasan yang dibenarkan, atau darurat, tidak apa-apa. Seperti adanya perluasan kawasan pemukiman penduduk yang semakin banyak, dan amat diperlukan umat Islam, sebab kepentingan yang masih hidup diutamakan terlibih dahulu. Atau pemindahan karena tanah kubur longsor, kebanjiran, dan sebab lainnya.

Dalam madzhab Syafi’iy, disebutkan:

يحرم نقله بعد دفنه إلا لضورة كمن دفن في أرض مغصوبة فيجوز نقله إن طالب بها مالكها

Diharamkan memindahkan mayat setelah dikuburnya kecuali darurat seperti mayat yang dikuburkan di tanah yang dirampas, maka boleh memindahkannya atas permintaan pemiliknya. (Al Fiqhu ‘Alal Madzahib Al Arba’ah, 1/843)

Sementara dalam madzhab Malikiy, disebutkan – dan ini lebih lengkap lagi:

يجوز نقل الميت قبل الدفن وبعده من مكان إلى آخر بشروط ثلاثة : أولها : أن لا ينفجر حال نقله ثانيها : أن لا تهتك حرمته بأن ينقل على وجه يكون فيه تحقير له ثالثها : أن يكون نقله لمصلحة كأن يخشى من طغيان البحر على قبره أو يراد نقله إلى مكان له قيمة أو إلى مكان قريب من أهله أو لأجل زيارة أهله إياه فإن فقد شرط من هذه الشروط الثلاثة حرم النقل

Dibolehkan memindahkan mayat sebelum dan sesudah dikubur dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan tiga syarat:
1. Mayat tidak rusak ketika dipindahkan
2. Tidak sampai menodai kehormatannya, yaitu memindahkan dengan cara yang dapat menghinakannya
3. Kepindahan itu karena ada sesuatu maslahat, seperti takut kubur tersapu oleh lautan, atau memindahkan ke tempat yang memiliki nilai tersendiri, atau tempat yang lebih dekat dengan keluarganya, atau karena supaya dekat diziarahi keluarganya.

Jika satu syarat dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka haram memindahkannya. (Ibid)

Pembolehan ini berdasarkan riwayat berikut:

عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ دُفِنَ مَعَ أَبِي رَجُلٌ فَلَمْ تَطِبْ نَفْسِي حَتَّى أَخْرَجْتُهُ فَجَعَلْتُهُ فِي قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ

Dari Abu Nadhrah, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu ia berkata: ada seorang laki-laki dimakamkan bersama mayat ayahku, namun jiwaku tidak enak, hingga akhirnya aku keluarkan beliau dari kuburan dan aku kuburkan beliau dalam satu kubur sendiri. (H.R. Al Bukhari No. 1352)

Demikian. Wallahu A’lam.

Kedua. Menembok Kubur

Membangun kuburan atau mendirikan tembok di sisi kubur adalah terlarang, sebagaimana hadits berikut:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه

Rasulullah ﷺ melarang mengecat/mengapur kubur, duduk di atasnya, dan membangunnya. (H.R. Muslim No. 970)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي. وذهب الجمهور إلى أن النهي في البناء والتجصيص للتنزيه.

Hadits ini merupakan dalil haramnya tiga hal tersebut, karena hukum asal dari larangan adalah haram. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan membangun dan mengapur adalah untuk tanzih [sesuatu yang sepantasnya ditinggalkan]. (Subulus Salam, 2/111)

Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:

(وأن يبني عليه) قبة أو غيرها فيكره كل من الثلاثة تنزيها

Nabi melarang (membangun bangunan atasnya) yaitu kubah dan selainnya, maka dimakruhkan tiga hal itu sebagai hal yang selayaknya ditinggalkan (tanzih).

Lalu beliau juga berkata:

قال ابن القيم : والمساجد المبنية على القبور يجب هدمها حتى تسوى الأرض إذ هي أولى بالهدم من مسجد الضرار الذي هدمه النبي صلى الله عليه وسلم وكذا القباب والأبنية التي على القبور وهي أولى بالهدم من بناء الغاصب اه.
وأفتى جمع شافعيون بوجوب هدم كل بناء بالقرافة حتى قبة إمامنا الشافعي رضي الله عنه التي بناها بعض الملوك

Imam Ibnul Qayyim berkata: masjid yang dibangun di atas kubur wajib dihancurkan sampai rata dengan tanah, bahkan dia lebih utama dihancurkan dibanding masjid dhirar yang pernah dihancurkan Nabi ﷺ , demikian juga kubah-kubah di atas kubur dia lebih layak dihancurkan dibandingkan bangunannya, dan seterusnya. Ulama Syafi’iyah memfatwakan wajib menghancurkan semua bangunan di qarafah (tanah kuburan) sampai-sampai kubah imam kita sendiri, Imam Asy Syafi’iy, yang telah dibangun oleh pihak kerajaan. (Faidhul Qadir, 6/402)

Namun, Imam Asy Syafi’i membolehkan meninggikan kuburan tidak sampai melebihi sejengkal, sebagai tanda itu adalah kubur agar tidak terinjak-injak manusia. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/286-287)

Jadi, kalau membangunnya tidak sampai melebihi sejengkal tidak apa-apa, sebagai tanda itu adalah kubur. Selebihnya terlarang.

Wallahu A’lam.