Home AKHLAK & ADAB

Mencium Kaki Orang Tua dan Orang Shalih

181
SHARE

Bismillahirrahmanirrahim..

Mencium kaki orang tua, orang shalih, ulama, dalam rangka memuliakan dan menghormatinya adalah boleh. Itu bukan kategori sujud atau membungkuk (ruku’) yang terlarang.

Imam at Tirmidzi Rahimahullah menuliskan dalam Sunan-nya:

بَابُ مَا جَاءَ فِي قُبْلَةِ اليَدِ وَالرِّجْلِ

Bab Tentang Mencium Tangan dan Kaki

Shafwan berkata:

فَقَبَّلُوا يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ

Mereka (orang-orang Yahudi) mencium kedua tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kedua kakinya. (HR. At Tirmidzi no. 2733, katanya: hasan shahih)

Kisah ini menunjukkan bolehnya mencium kaki orang terhormat, selama bukan untuk kesombongan dan kebanggaan.

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan :

قال الأبهرى : وإنما كرهها مالك إذا كانت على وجه التكبر ، والتعظيم لمن فُعِلَ ذلك به ، وأما إذا قبَّل إنسانٌ يدَ إنسانٍ ، أو وجهه ، أو شيئًا من بدنه – ما لم يكن عورة – على وجه القربة إلى الله ، لدينه ، أو لعلمه ، أو لشرفه : فإن ذلك جائز .

Al Abhari berkata: “Imam Malik memakruhkan hal itu jika maksudnya sombong dan pengagungan terhadap orang yang dicium tersebut. Ada pun jika seseorang mencium tangan, wajah, atau bagian tubuh lainnya yang bukan aurat untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena faktor agamanya, ilmunya, kemuliaannya, maka hal itu BOLEH.(Syarh Shahih al Bukhari, 9/46)

Syaikh Abul ‘Ala al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan:

والحديث يدل على جواز تقبيل اليد والرِّجْل .

Hadits ini menunjukkan bolehnya mencium tangan dan kaki. (Tuhfah al Ahwadzi, 7/437)

Syaikh Muhammad bin Shalih al’ Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

الحاصل : أن هذين الرجلين قبَّلا يدَ النبي صلى الله عليه وسلم ، ورِجْله ، فأقرهما على ذلك ، وفي هذا : جواز تقبيل اليد ، والرِّجْل ، للإنسان الكبير الشرَف والعلم ، كذلك تقبيل اليد ، والرِّجْل ، من الأب ، والأم ، وما أشبه ذلك ؛ لأن لهما حقّاً ، وهذا من التواضع .

Alhasil, dua laki-laki ini mencium kaki Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Rasulullah pun membiarkannya. Dari sini menunjukkan bolehnya mencium manusia pada tangannya, kakinya, karena kemuliaan dan ilmunya. Demikian juga mencium tangan dan kaki ayah, ibu, dan semisal mereka, karena mereka berhak disikapi seperti itu, dan itu menunjukkan kerendahan hati. (Syarh Riyadh ash Shalihin, 4/451)

Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr Hafizhahullah ditanya:

أبي – أحياناً – يأمرني بتقبيل رِجله مازحاً ؟ . فأجاب : لا مانع مِن أن تقبلها .

Ayahku kadang saat bergurau memerintahkanku mencium kakinya. Beliau menjawab: “Tidak terlarang menciumnya.” (Syarh Sunan Abi Daud, 29/342)

Hal ini juga dilakukan oleh Imam Muslim kepada Imam Bukhari. Sebagaimana kisah berikut:

عن أحمد بن حمدون القصار قال : سمعت مسلم بن الحجاج وجاء إلى محمد بن إسماعيل البخاري فقبَّل بين عينيه ، وقال : دعني حتى أقبِّل رجليك ، يا أستاذ الأستاذين ، وسيد المحدثين ، وطبيب الحديث في علله .

Ahmad bin Hamdun Al Qishar berkata: aku mendengar Muslim bin Hajaj (Imam Muslim) mendatangi Muhammad bin Ismail al Bukhari. Dia mencium kening diantara kedua matanya, lalu berkata: “Biarkanlah aku mencium kedua kakimu wahai gurunya para guru, pimpinannya ahli hadits, dan dokternya penyakit hadits.” (Tarikh Baghdad, 13/102, Tarikh Dimasyqi, 52/68)

Kisah ini didhaifkan oleh Imam al ‘Iraqi, tapi Beliau dikoreksi oleh Imam Ibnu Hajar bahwa kisah ini shahih, diriwayatkan oleh Imam al Hakim, Imam al Baihaqi, dan lainnya. (An Nukat’ ala Kitab Ibnish Shalah, 2/715-716)

Maka, tidak apa-apa mencium kaki seseorang dengan ketentuan: dia adalah orang tua kita, atau shalih, berilmu, dengan tujuan menghormati kemuliaan dan ilmunya, bukan karena kesombongan mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan hafizhahullah