Home FIQIH IBADAH FIQIH HAJI DAN UMRAH

Mencukur Sendiri Walau Saat Tahallul Umrah

27
SHARE
Mencukur Sendiri Walau Saat Tahallul Umrah

Pertanyaan:

Ketika Tahallul, Bolehkah Mencukur Sendiri Walau pada Umrah Pertama?

السؤال
هل يجوز أن يقص الرجل شعره بنفسه للتحلل من العمرة وأيضا بالنسبة للمرأة ؟

Pertanyaan:

Bolehkah seorang laki-laki memotong rambutnya sendiri saat tahallul umrah, begitu juga bagi kaum wanita?

نص الجواب

الحمد لله
يجوز للحاج والمعتمر أن يقص شعره بنفسه للتحلل من حجه أو عمرته ، سواء كان رجلا أو امرأة ، كما يجوز له أن يقص شعر غيره ممن يريد التحلل .

Jawaban:

Dibolehkan bagi orang yang haji dan umrah memotong rambutnya sendiri untuk tahallul dari hajinya atau umrahnya. Sama saja, baik laki-laki atau perempuan. Sebagaimana dibolehkan pula dia memendekkan rambut orang lain yang hendak tahallul.

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ” ويحلق هو بيده ، أو يكلف من يحلقه ، خلافاً لما قاله بعض العلماء : إنه إذا حلق نفسه بنفسه فعل محظوراً، فنقول : لم يفعل محظوراً ، بل حلق للنسك ” انتهى من “الشرح الممتع” (7/328).

Syaikh Utsaimin Rahimahullah mengatakan: “Dia (boleh) memotongnya dengan tangannya sendiri, atau dia menugasi orang lain yang memotongnya. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama: “Jika seorang mencukur dirinya sendiri maka dia melakukan perbuatan larangan (dalam umrah).” Kami katakan: “Itu bukan perbuatan terlarang, tapi itu bagian dari nusuk (ibadah).” Selesai. (Syarhul Mumti’, 7/328)

وسئل رحمه الله : المرأة إذا قصرت شعرها بنفسها هل يلزمها شيء؟

Beliau Rahimahullah juga ditanya: jika seorang wanita mencukur rambutnya sendiri apakah ada konsekuensi tertentu bagi dia?

فأجاب : “لا ، إذا قصرت المرأة شعرها بنفسها ، أو حلق الرجل رأسه بنفسه ، أو حلقه له مُحْرِم ، أو حلقه له مُحِلٌّ ، كل هذا جائز ” انتهى من “لقاء الباب المفتوح” (224/42).
والله أعلم .

Beliau menjawab: “Tidak ada, jika seorang wanita mencukur rambutnya sendiri. Atau seorang laki-laki mencukur rambutnya sendiri. Atau seorang yang Ihram mencukurnya, atau orang yang tahallul yang mencukurnya, maka semua ini BOLEH.” Selesai. (Liqoo Bab Al Maftuuh, 42/224)

Sumber: Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid, Al Islam Su’aal wa Jawaab No. 104197

🖋Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah