Home AQIDAH

Menghalalkan Apa-Apa yang Telah Pasti Haramnya

38
SHARE

Dalam Islam, ada perkara yang keharamannya telah jelas, pasti, dan aksiomatik. Artinya tanpa penjelasan bertele-tele, seluruh orang Islam tahu keharamannya seperti zina (seks di luar nikah), makan babi, minum khamr, judi, membunuh secara tidak haq, durhaka kepada kedua orang tua, dan mencuri. Baik tua, muda, pria, wanita, awam, terpelajar, semua tahu keharamannya.

Nah, apa kedudukan dan hukum orang yang menghalalkan perkara itu semua, padahal dia tahu bahwa itu haram? Dia memelintir dalil dan bersilat kata dan lidah untuk menghalalkannya?

Secara normatif, orang seperti dihukumi telah kafir atau murtad.

Kita lihat keterangan para ulama berikut ini:

1) Tertulis dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

فَإِنْ كَانَ فِيهِ تَحْلِيل مَا حَرَّمَهُ الشَّارِعُ : فَهُوَ حَرَامٌ، وَقَدْ يَكْفُرُ بِهِ إِذَا كَانَ التَّحْرِيمُ مَعْلُومًا مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ.
فَمَنِ اسْتَحَل عَلَى جِهَةِ الاِعْتِقَادِ مُحَرَّمًا – عُلِمَ تَحْرِيمُهُ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ – دُونَ عُذْرٍ: يَكْفُرُ.
وَسَبَبُ التَّكْفِيرِ بِهَذَا : أَنَّ إِنْكَارَ مَا ثَبَتَ ضَرُورَةً أَنَّهُ مِنْ دِينِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فِيهِ تَكْذِيبٌ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ ضَرَبَ الْفُقَهَاءُ أَمْثِلَةً لِذَلِكَ بِاسْتِحْلاَل الْقَتْل وَالزِّنَى ، وَشُرْبِ الْخَمْرِ ، وَالسِّحْرِ .

Jika menghalalkan apa yang diharamkan pembuat syariat maka itu perbuatan haram. Dan menjadi kafir jika yang dihalalkan -tanpa ‘udzur- adalah perkara yang sudah jelas dan pasti haramnya dalam agama.

Sebab dihukumi kafir karena dia telah mengingkari apa-apa yang jelas hukumnya dalam agama Muhammad ﷺ, dia telah mendustakan Rasulullah ﷺ. Para pakar hukum Islam memberikan contoh seperti penghalalan terhadap: membunuh, zina, minum khamr, dan sihir. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah)

2) Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah

ومن اعتقد حل شيء أجمع على تحريمه، وظهر حكمه بين المسلمين، وزالت الشبهة فيه للنصوص الواردة فيه كلحم الخنزير، والزنا، وأشباه ذلك مما لا خلاف فيه كفر

Siapa yang meyakini halalnya sesuatu yang telah ijma’ keharamannya, dan telah jelas hukumnya di antara kaum muslimin, dan tidak ada kesamaran hukumnya berdasarkan dalil-dalil yang ada, seperti haramnya babi, zina, dan semisalnya yang tidak ada perselisihan di dalamnya, maka dia kafir. (Al Mughni, 9/11)

3) Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah

وإذا كان الاستحلال في شيء مما أجمع عليه العلماء ، وجاء تحريمه بالنصوص القطعية ، كتحريم الخمر والزنى : فإنه يكون كفرا .
ومثل ذلك : إن كان المستحل يعلم أن الشرع قد جاء بذلك ، وأن الخبر قد صح به عن النبي صلى الله عليه وسلم ، حتى وإن لم يكن مجمعا عليه ، ولا هو من المعلوم من الدين بالضرورة ، لكنه قد علمه من شرع الله ، فلم يقبل ذلك ، ولم يستسلم له ، واستحل هذا الأمر المعين ، فإنه يكفر بذلك الاستحلال لما علم ثبوت الشرع به .

Jika penghalalan itu seputar apa-apa yang telah disepakati para ulama, dan keharamannya ada dalam dalil-dalil yang pasti, seperti haramnya khamr dan zina, maka dia kafir.

Misalnya, dia tahu bahwa syariat telah menjelaskannya, dalilnya pun shahih dari Rasulullah ﷺ, sampai-sampai dalam hal yang belum disepakati, dan bukan pula hal yang aksiomatik dalam Islam, tapi dia tahu itu syariat Allah, namun dia tidak mau menerimanya, lalu dia menghalalkan secara khusus perkara tersebut, maka penghalalan dia itu membuatnya kafir sebab dia tahu kepastian hukum syariat hal tersebut. (Al Islam Su’aal wa Jawaab No. 226086)

4) Syaikh Abdullah Al Qadiriy Al Ahdal

أما الحكم على من أنكر ركنا من أركان الإيمان أومن أركان الإسلام، فليس بخاف على صغار طلبة العلم أنه يكون مرتدا، إذا كان من المسلمين،بل إن من أنكر حكما من أحكام الإسلام معلوما من الدين بالضرورة، كتحريم الربا، أو الخمر، أو الزنى، فإنه يكون مرتدا، فكيف بمن أنكر ركنا من أركان الإيمان؟!

Hukum mengingkari salah satu rukun iman atau rukun Islam maka tidak samar lagi bagi para penuntut ilmu bahwa itu adalah murtad jika dilakukan oleh kaum muslimin, bahkan jika mengingkari hukum-hukum Islam yang telah pasti haramnya seperti khamr, riba, zina, maka itu murtad, maka bagaimana dengan yang mengingkari rukun iman?(https://www.saaid.net/Doat/ahdal/00026.htm)

Demikian masalah ini, namun janganlah sembarang seorang muslim dikafirkan, kecuali jika telah jelas kekafirannya, terpenuhi syarat-syaratnya, tidak ada ‘udzur, dan tidak ada penghalang baginya untuk dikafirkan.

Adapun dalam masalah yang keharamannya masih diperselisihkan, seperti halal haram tentang musik, isbal, minum nabidz, dan hal lain yang masih di debatkan para ulama salaf dan khalaf, bukanlah zona pengkafiran. Bukan pada tempatnya saling mengkafirkan dalam masalah yg masih didiskusikan para ulama.

Demikian. Wallahu A’lam.

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullàh