Home AKHLAK & ADAB

Menista Cadar dan Adzan

93
SHARE

Menyebut cadar dengan bahasa nyinyir, dan membandingkannya serta mengunggulkannya dengan rambut yang tidak menutup aurat, adalah bentuk istihza’ (mengolok-olok) yang bisa membuat pelakunya kufur.

Apalagi menyinyirkan adzan, suara panggilan shalat yang dirindukan miliaran umat Islam. Dianggapnya tidak semerdu nyanyian seorang ibu.

Bisa jadi memang ada muadzin yang tidak bagus suaranya, tapi dia masih lebih baik dari orang-orang yang nyinyir itu, karena dia yang mengingatkan orang yang lalai dan lupa untuk mengingat Allah dan masjid

Dia berkilah dengan mengatakan bahwa itu suara hati seorang budayawati, saya katakan: “Itu bukan perbuatan makhluk berbudaya.” Apakah mentang-mentang sebagai budayawan atau seniman lantas bebas melecehkan agamanya sendiri?

Imam An Nawawi Rahimahullah memberikan peringatan kepada kita untuk hati-hati dengan semua sikap olok-olok kepada Islam:

والفعل المكفر ما تعمده استهزاء صرحيا بالدين او جحوداله

Perbuatan yang menjadikan seseorang dinilai kafir adalah sengaja dengan nyata-nyata meledek/mengolok ajaran agama
atau karena menentangnya. (Imam An Nawawi, Minhaj At Thalibin, 1/293)

Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al Jazairiy mengatakan:

و كل من أظهر استخفافا بالدين فى فرائضه أو سننه أو تهكم بذلك أو احتقره أو رمى بالمصحف فى قذر أو داسه برجله اهانة له و احتقارا فقد كفر

Setiap orang yang nyata-nyata merendahkan ajaran agama:

  • baik dalam hal kewajiban,
  • atau merendahkan sunnah-sunnah,
  • atau melemparkan Al Qur’an ketempat kotor,
  • atau menginjaknya dengan kaki untuk menghinanya,

Sungguh dia telah kafir. (Minhajul Muslim, Hal. 379)

Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya dan kita semua. Aamiin.

✍ Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah