Home FIQIH FIQIH MUAMALAH

Menjenguk Orang Kafir yang Sakit

36
SHARE

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Tidak mengapa menjenguk nonmuslim yang sakit, apalagi jika dia masih ada hubungan famili atau tetangga. Ini masalah interaksi sosial yang Islam lapangkan. Kebolehan ini khususnya bagi nonmuslim yang dzimmi, dan bukan kafir harbi.

Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. Al Mumtahanah: 8)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan:

“Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjenguk orang sakit dari kalangan sahabatnya, dan menjenguk seorang anak yang menjadi pelayannya yang seorang Ahli Kitab (Yahudi). Pernah juga menjenguk pamannya (Abu Thalib) dan dia musyrik. Keduanya diajak untuk masuk Islam. Maka, si Yahudi masuk Islam namun pamannya tidak.”

Lalu beliau (Ibnul Qayyim) melanjutkan:

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendekati yang sakit, dan duduk di sisi kepala yang sakit. Beliau bertanya keadaanya: “Bagaimana keadaanmu?” Diceritakan bahwa beliau juga menanyakan apa yang diingkankan oleh yang sakit.

Beliau bertanya: “Apakah kamu butuh sesuatu?” Jika yang sakit membutuhkan sesuatu dan beliau tahu itu tidak membahayakan maka dia memerintahkan seseorang untuk mengambilnya. Beliau juga mengusap tangan kanannya kepada yang sakit lalu berdoa: “Allahumma Rabban Naas, Adzhibil Ba’sa, wasyfih anta syaafiy laa syifa’a illa syifaa’uka syifaa’an laa yughadiru saqama.” [1]

Imam Al Buhuti Rahimahullah mengatakan:

. (وَعَنْهُ تَجُوزُ الْعِيَادَةُ) أَيْ: عِيَادَةُ الذِّمِّيِّ (إنْ رُجِيَ إسْلَامُهُ فَيَعْرِضُهُ عَلَيْهِ وَاخْتَارَهُ الشَّيْخُ وَغَيْرُهُ) لِمَا رَوَى أَنَسٌ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَادَ يَهُودِيًّا، وَعَرَضَ عَلَيْهِ الْإِسْلَامَ فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ بِي مِنْ النَّارِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَلِأَنَّهُ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ.

Boleh menjenguk sakitnya kafir dzimmi apabila diharapkan Islamnya dan hendaknya mengajak masuk Islam. Karena, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Nabi ﷺ pernah iyadah (menjenguk) pada orang Yahudi dan mengajaknya masuk Islam lalu si Yahudi masuk Islam lalu berkata, “Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan aku dari neraka.” Dan karena menjenguk orang sakit termasuk akhak mulia. [2]

Demikianlah yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lakukan saat menjenguk orang sakit, termasuk nonmuslim, dia menjenguk dan mendoakannya.

Kesimpulan:

– Boleh menjenguk orang kafir yang sakit apalagi jika dia kafir dzimmi atau memiliki kerabat, yang dengan itu bisa diharapkan masuk Islam.

– Boleh pula mendoakan kesembuhan dan hidayah baginya.

Demikian. Wallahu A’lam.

___________________________________________________

[1] Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibaad, 1/494

[2] Imam Al Buhuti, Kasysyaaf Al Qinaa’, 1/131

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah