Home KONSULTASI SYARIAH

Najis Hukmiyah dan Najis ‘Ainiyah

101
SHARE

Pertanyaan‬:

Assalamu’alaikum, Ustadz. Apakah benar kalau najis hukmiyah itu ada setelah najis ‘ainiyah dihilangkan. Jadi, tidak mungkin ada najis hukmiyah kalau tidak ada najis ‘ainiyah, benarkah demikian? Kemudian, (maaf) jika menceboki anak setelah kencing, kemudian airnya terciprat, apakah najis? Termasuk najis apakah (hukmiyah/’ainiyah)? Karena air cucian itu melarutkan air kencing. Syukran.


Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah.

Najis hukmiyah itu, sederhananya, misal kain sarung kena kotoran manusia. Nah, itu kain statusnya najis hukmiyah yaitu benda suci yang kena najis, sehingga dia juga menjadi najis, sedangkan kotoran tersebut adalah najis ‘ainiyah (najis zatnya).

Sampai di sini paham ya?

Sehingga najis hukmiyah tidak akan terjadi tanpa ada najis ‘ainiyah yang menimpanya.

Najis hukmiyah, itu bisa disucikan, yaitu ketika najis ‘ainiyah yang ada biasanya dihilangkan dengan sebersih-bersihnya sehingga dia jadi suci lagi.

Sedangkan najis ‘ainiyah, tidak berubah menjadi suci, seperti tinja selamanya najis, di manapun dia berada tetap najis. Ketika dia lenyap dari sebuah tempat, maka yang suci adalah tempatnya, bukan tinja tersebut.

Begitu ya .

Adapun air cebokan, itu istilahnya air ghusaalah. Bisa najis jika berubah sifat dasar air sucinya yaitu rasa, warna, dan aroma. Tapi kalau tidak berubah sama sekali, maka tetap suci.

Tentang air ghusaalah, bisa dibaca artikel lain di website ini di link berikut:

Status Air Ghusaalah (Air Bekas Pakai Bersuci)