Home FIQIH IBADAH FIQIH SHALAT

Panduan Ibadah bagi Para Pemudik (Bag. 4)

254
SHARE

Apakah boleh menjamak/qashar shalat dengan alasan macet lalu lintas?

Jika memang macetnya luar biasa dan melahirkan kesulitan baginya untuk shalat secara normal, sulit baginya untuk berhenti, sulit mendapatkan masjid, maka ini masyaqqah (kesulitan) yang membuat dirinya mendapatkan rukhshah (keringanan).

Hal ini sesuai beberapa kaidah fiqih:

الْمَشَقَّةُ تَجْلُبُ التَّيْسِيرَ

Kesulitan membawa pada kemudahan. (Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 75. 1400 H-1980 M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Atau seperti yang dikatakan Imam Tajuddin As Subki Rahimahullah:

المشقة نجلب التيسير وإن شئت قلت : إذا ضاق الأمر اتسع

Kesulitan membawa pada kemudahan, dan jika anda mau, anda bisa katakan: jika keadaan sempit maka membawa kelapangan. (Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/61. Cet. 1, 1411 H-1991 M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Kaidah-kaidah ini berdasarkan firman Allah ﷻ :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Q.S. Al Baqarah: 185)

Ayat lainnya:

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (Q.S. An Nisa’: 28)

Adapun dalam hadits, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudahlah dan jangan persulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari. (H.R. Al Bukhari No. 69, Muslim No. 1732)

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْه

“Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa, jika ternyata mengandung dosa maka dia adalah orang yang paling jauh darinya.” (H.R. Al Bukhari No. 3560, 6126, 6786, Muslim No. 2327)

Jika kemacetannya terjadi di dalam kota, sebagaimana kemacetan sehari-hari, maka baginya hanya jamak tanpa qashar. Namun, hendaknya dia tidak menjadikan ini sebagai kebiasaan, hendaknya dia menyiasatinya dengan menunda pulangnya sampai dia bisa melakukan shalat secara normal. Lalu, jika kemacetannya saat ke luar kota, maka dia boleh qashar juga jika syarat safarnya sudah terpenuhi sebagaimana pembahasan lalu.

Wallahu A’lam.

(Bersambung)

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah