Home FIQIH IBADAH

Panduan Ibadah Bagi Pemudik (Bag. 1)

302
SHARE

Oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Kewajiban apa saja yang diringankan ketika dalam safar/perjalanan?

Ada beberapa kewajiban yang mendapatkan keringanan saat safar, yaitu:

1. Shalat, bisa dijamak dan diqashar

Untuk Jamak, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا

Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Adalah Rasulullah ﷺ jika dia mengadakan perjalanan sebelum matahari tergelincir (meninggi), maka dia akan akhirkan shalat zhuhur pada waktu Ashar, lalu dia turun dan menjamak keduanya.” (HR. Al Bukhari No. 1111)

Jamak dalam perjalanan merupakan pendapat mayoritas ulama. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

الجمع بين الصلاتين في السفر في وقت إحداهما جائز في قول أكثر أهل العلم لا فرق بين كونه نازلا أو سائرا.

“Menjamak dua shalat dalam perjalanan, pada waktu salah satu dari dua shalat itu, adalah boleh menurut mayoritas para ulama, sama saja baik ketika dalam perjalanannya atau ketika turun (berhenti).” (Fiqhus Sunnah, 1/289)

Untuk Qashar, berdasarkan ayat berikut:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

“Apabila kamu bepergian di permukaan bumi, maka tidak ada salahnya bila kamu mengqshar shalat …” (QS. An Nisa’: 101)

Kebolehan qashar dalam safar adalah ijma’ (kesepakatan) semua ulama. Para ulama mengatakan:

أَجْمَعُ الْفُقَهَاءُ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ قَصْرِ الصَّلاَةِ فِي السَّفَرِ

Para fuqaha telah ijma’, disyariatkannya qashar dalam safar/bepergian. (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 1/527, Hasyiyah Ad Dasuqi, 1/360, Qalyubi wa ‘Amirah, 1/255, Kasysyaaf Al Qinaa’, 1/3)

2. Puasa, bisa diganti dihari lain

Bolehnya tidak berpuasa saat bepergian berdasarkan ayat berikut:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barang siapa yang sakit atau bepergian di antara kamu maka hendaknya dia mengganti sejumlah hari yang ditinggalkannya dihari-hari lain. (QS. Al Baqarah: 184)
Wallahu A’lam

Apa pengertian shalat jamak dan qashar?

Jamak (Al Jam’u) secara bahasa artinya menggabungkan, lawannya At Tafriiq (memisahkan). Ada pun menjamak shalat, dijelaskan sebagai berikut:

وَالْمُرَادُ بِجَمْعِ الصَّلَوَاتِ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ : هُوَ أَدَاءُ الظُّهْرِ مَعَ الْعَصْرِ ، وَالْمَغْرِبِ مَعَ الْعِشَاءِ تَقْدِيمًا أَوْ تَأْخِيرًا .

Maksud jamak menurut para fuqaha (ahli fiqih) adalah menunaikan zhuhur bersamaan ashar, dan menunaikan maghrib bersamaan isya, secara taqdim (diawal waktu) atau ta’khir (diakhir waktu). (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 15/284)

Qashar (Al Qashr) secara bahasa artinya memendekkan atau meringkas. Secara terminologis definisinya adalah:

الْقَصْرُ مَعْنَاهُ : أَنْ تَصِيرَ الصَّلاَةُ الرُّبَاعِيَّةُ رَكْعَتَيْنِ فِي السَّفَرِ ، سَوَاءٌ فِي حَالَةِ الْخَوْفِ ، أَوْ فِي حَالَةِ الأْمْنِ

Qashar maknanya; menjadikan shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat saat bepergian, sama saja baik itu dalam keadaan takut atau aman. (Ibid, 27/273)

Wallahu A’lam

(Bersambung …)