Home FIQIH IBADAH

Panduan Ramadhan 10: Hukum Mencium Istri dan Tidur Berlebihan Saat Puasa

551
SHARE
Panduan Ramadhan 10: Hukum Siwak, Mencicipi Makanan, Menelan Ludah Dan Junub Pagi Hari

f). Mencium istri selama mampu menahan diri

Sebelum saya bahas dari sisi dalil, saya sampaikan secara global apa yang dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berikut:

قال ابن المنذر رخص في القبلة عمر وابن عباس وأبو هريرة وعائشة، وعطاء، والشعبي، والحسن، وأحمد، وإسحاق. ومذهب الاحناف والشافعية: أنها تكره على من حركت شهوته، ولا تكره لغيره، لكن الاولى تركها. ولا فرق بين الشيخ والشاب في ذلك، والاعتبار بتحريك الشهوة، وخوف الانزال، فإن حركت شهوة شاب، أو شيخ قوي، كرهت. وإن لم تحركها لشيخ أو شاب ضعيف، لم تكره، والاولى تركها. وسواء قبل الخد أو الفم أو غيرهما. وهكذا المباشرة باليد والمعانقة لهما حكم القبلة.

Berkata Ibnul Mundzir: Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, Atha’, Asy Sya’bi, Ahmad, dan Ishaq, mereka memberikan rukhshah (keringanan) dalam hal mencium (istri).

Madzhab Hanafi dan Asy Syaf’i: Mencium itu makruh jika melahirkan syahwat, dan tidak makruh jika tidak bersyahwat, tetapi lebih utama meninggalkannya.

Dalam hal ini, tak ada perbedaan antara anak muda dan orang tua, yang menjadi pelajaran adalah munculnya syahwat (rangsangan) itu, dan kekhawatiran terjadinya inzal (keluarnya mani). Maka, munculnya syahwat, baik anak muda dan orang tua yang masih punya kekuatan, adalah makruh. Namun, jika tidak menimbulkan syahwat, baik untuk orang tua atau anak muda yang lemah, maka tidak makruh, dan lebih utama adalah meninggalkannya.

Sama saja, baik mencium pipi, atau mulut, atau lainnya. Begitu pula mubasyarah (hubungan cumbu) dengan tangan atau berpelukan, hukumnya sama dengan mencium. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/461)

Jika dilihat dalil-dalil yang ada, dari berbagai perbedaan pendapat dalam hal ini, maka akan kita dapatkan bahwa mencium istri adalah mubah bagi orang yang berpuasa. Inilah pendapat yang lebih kuat. Hal ini ditunjukkan langsung oleh perilaku Rasulullah terhadap istrinya, begitu pula perilaku para sahabat terhadap istri mereka di antaranya Umar, Ibnu Mas’ud, Saad bin Abi Waqash, dan fatwa Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhum. Bahkan mereka melakukan ‘lebih’ dari sekedar mencium sebagaimana yang akan nanti saya sampaikan. Sedangkan alasan bagi pihak yang memakruhkan, biasanya adalah karena dzari’ah (preventif, mencegah perbuatan yang mubah agar tidak jatuh ke yang haram), atau jika karena melampau batas. Jadi, dilihat dari sisi dalil, maka pihak yang memubahkan lebih rajih (kuat) landasannya.

Berikut ini adalah bukti-buktinya
1. Perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha

Rasulullah adalah laki-laki yang paling mampu menahan hawa nafsunya, namun diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha dia berkata:

كان يقبلني و هو صائم و أنا صائمة

Rasulullah mencium saya dan dia sedang puasa dan aku juga berpuasa.

Syaikh Al Albany berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari.” (Syaikh Al Albani, As Silsilah Ash Shahihah No. 219)

Dalam hadits lain, juga dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

كان يباشر و هو صائم ، ثم يجعل بينه و بينها ثوبا . يعني الفرج

Rasulullah bermubasyarah padahal sedang puasa, lalu dia membuat tabir dengan kain antara dirinya dengan kemaluan (‘Aisyah).” (H.R. Ahmad No. 24314, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24314)

Tentang hadits ini, berkata Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah:

و هذا سند جيد ، رجاله كلهم ثقات رجال مسلم ، و لولا أن طلحة هذا فيه كلام يسير من قبل حفظه ، لقلت : إنه صحيح الإسناد ، و لكن تكلم فيه بعضهم ، و قال الحافظ في ” التقريب ” : ” صدوق يخطىء ” . قلت : و في هذا الحديث فائدة هامة و هو تفسير المباشرة بأنه مس المرأة فيما دون الفرج ، فهو يؤيد التفسير الذي سبق نقله عن القاري ، و إن كان حكاه بصيغة التمريض ( قيل ) : فهذا الحديث يدل على أنه قول معتمد ، و ليس في أدلة الشريعة ما ينافيه ، بل قد وجدنا في أقوال السلف ما يزيده قوة ، فمنهم راوية الحديث عائشة نفسها رضي الله عنها ، فروى الطحاوي ( 1 / 347 ) بسند صحيح عن حكيم بن عقال أنه قال : سألت عائشة : ما يحرم علي من امرأتي و أنا صائم ؟ قالت : فرجها و حكيم هذا وثقه ابن حبان و قال العجيلي : ” بصري تابعي ثقة ” . و قد علقه البخاري ( 4 / 120 بصيغة ا
لجزم : ” باب المباشرة للصائم ، و قالت عائشة رضي الله عنها : يحرم عليه فرجها ” . و قال الحافظ : ” وصله الطحاوي من طريق أبي مرة مولى عقيل عن حكيم بن عقال …. و إسناده إلى حكيم صحيح ، و يؤدي معناه أيضا ما رواه عبد الرزاق بإسناد صحيح عن مسروق : سألت عائشة : ما يحل للرجل من امرأته صائما ؟ قالت . كل شيء إلا الجماع ” .

Sanad hadits ini jayyid (bagus). Semua rijalnya (periwayatnya) tsiqat (terpercaya) dan dipakai oleh Imam Muslim, seandainya Thalhah (salah seorang perawinya) tidak mendapat kritikan, saya akan katakan: hadits ini sanadnya shahih. Namun, sebagian ulama ada yang membicarakannya. Berkata Al Hafizh (Ibnu Hajar) dalam At Taqrib: “Dia jujur tapi melakukan kesalahan.”

Selanjutnya, ada faedah penting dari hadits ini, yakni tafsir tentang arti mubasyarah (bercumbu), yakni menyentuh wanita (isteri) selain kemaluannya. Pemaknaan ini mendukung tafsir yang telah dikutip oleh Al Qari. Walau pun dia dalam mengutipnya dengan bentuk kata tamridh (dikatakan …). Maka hadits ini dapat dijadikan sebagai acuan, dan tidak ada dalil syariat yang menentangnya. Bahkan saya (Syaikh al Albany) telah menemukan perilaku para salaf (generasi terdahulu) yang memperkuat kebolehannya. Di antaranya adalah hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha yang beliau tafsirkan sendiri, Ath Thahawi telah meriwayatkan (1/347) dengan sanad yang shahih dari Hakim bin Iqal, bahwa dia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: ‘Apa yang haram bagiku terhadap isteriku saat aku sedang puasa?’, Dia menjawab: ‘Kemaluannya.’

Hakim bin Iqal ini dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hibban. Berkata Al ‘Ijili: “Dia (Hakim) adalah orang Bashrah (nama kota di Irak), generasi tabi’in, dan tsiqah (terpercaya).” Sedangkan Imam Bukhari telah mengomentari hadits ini (4/120) dalam bab khusus dengan bentuk kata pasti: “Bab Mubasyarah (bercumbu) bagi orang yang berpuasa dan perkataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: Haram bagi suaminya, kemaluannya.”

Sementara Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Ath Thahawi menyambungkan sanad hadits itu melalui Abu Murrah, bekas pelayan Uqail, dari Hakim bin Iqal …”

Penyandaran kepada Hakim bin Iqal ini adalah shahih. Hal serupa juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dengan sanad yang shahih dari Masruq: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apa sajakah yang dihalalkan bagi suami yang sedang puasa atas istrinya?” Dia menjawab: “Semuanya halal kecuali jima’ (bersetubuh).” (Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah, No. 221)

2. Perbuatan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu

Diriwayatkan dari Umar Radhilallahu ‘Anhu:

عنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ هَشَشْتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ قُلْتُ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفِيمَ

Suatu hari bangkitlah syahwat saya, lalu saya mencium istri, saat itu saya sedang puasa. Maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya berkata: “Hari ini, Aku telah melakukan hal yang besar, aku mencium istri padahal sedang puasa.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa pendapatmu jika kamu bekumur-kumur dengan air dan kamu sedang berpuasa?”, Saya (Umar) menjawab: “Tidak mengapa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Lalu, mengapa masih ditanya?” (H.R. Ahmad No. 138. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih, sesuai syarat Muslim. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 138)

3. Perilaku Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu

Dia adalah seorang sahabat Nabi yang termasuk mubasysyiruna bil jannah (dijamin masuk surga) oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Dia adalah tokoh utama perang Al Qadisiyah melawan Persia. Namun demikian, itu semua tidak membuatnya malu untuk tetap romantis dengan istrinya. Walau pun dia sedang berpuasa, tidak menghalanginya untuk mubasyarah dengan isterinya.

Imam Ibnu Hazm Al Andalusi berkata:

و من طريق صحاح عن سعد بن أبي وقاص أنه سئل أتقبل و أنت صائم ؟ قال : نعم ، و أقبض على متاعها

Dari jalan yang shahih dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa dia ditanya: “Apakah Engkau mencium (istri) ketika sedang puasa?” Dia menjawab: “Ya, bahkan aku menggenggam kemaluannya segala.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 6/212. Darul Fikr. Tahqiq: Ustadz Ahmad Muhammad Syakir)

4. Perbuatan Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu

Dia ahli membaca Al Qur’an dan tafsirnya, dan menjadi manusia pertama yang berani membaca Al Qur’an di depan Ka’bah ketika masa-masa awal Islam.

عَنْ عَمْرِو بن شُرَحْبِيلَ،”إِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يُبَاشِرُ امْرَأَتَهُ نِصْفَ النَّهَارِ، وَهُوَ صَائِمٌ”.

Dari ‘Amru bin Syurahbil: “Sesungguhnya Ibnu Mas’ud pernah mubasyarah dengan istrinya pada tengah siang, padahal dia sedang puasa.” (H.R. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 9573. Imam Abdurrazzaq, Al Mushannaf, Juz. 4, Hal. 191, No. 8442. Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 6, Hal. 212. Katanya: “Ini adalah jalan yang paling shahih dari Ibnu Mas’ud.”)

Semua atsar (riwayat) di atas, baik Ibnu Abbas, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ibnu Mas’ud adalah shahih, maka bersenang-senang dengan istri ketika berpuasa adalah boleh, namun bagi orang yang tidak mampu meredam hawa nafsunya, lebih baik ditinggalkan. Tetapi, kita tidak dibenarkan mengingkari pendapat yang memakruhkan mencium istri atau lebih dari itu, sebab para ulama yang memakruhkan itu juga para imam agama yang mendalam ilmunya (lihat pembahasan dari Syaikh Sayyid Sabiq sebelumnya).

Pendapat Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu

Beliau adalah maha gurunya para mufassir (ahli tafsir). Ia dijuluki Hibrul Ummah (tintanya umat ini). Dan dia memiliki pandangan yang amat moderat dalam hal ini.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah meriwayatkan:

عن سعيد بن جبير أن رجلا قال لابن عباس : إني تزوجت ابنة عم لي جميلة ، فبني بي في رمضان ، فهل لي – بأبي أنت و أمي – إلى قبلتها من سبيل ؟ فقال له ابن عباس : هل تملك نفسك ؟ قال : نعم ، قال : قبل ، قال : فبأبي أنت و أمي هل إلى مباشرتها من سبيل ؟ ! قال : هل تملك نفسك ؟ قال : نعم ، قال : فباشرها ، قال : فهل لي أن أضرب بيدي على فرجها من سبيل ؟ قال : و هل تملك نفسك؟ قال : نعم ، قال : اضرب . ” و هذه أصح طريق عن ابن عباس ” .

Dari Said bin Jubeir bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas: ‘Aku menikahi seorang putri anak paman saya, ia seorang yang cantik. Saya membawanya pada bulan Ramdhan. Maka bolehkah bagi saya menciumnya?’ maka Ibnu Abbas menjawab: “Apakah engkau bisa menahan hawa nafsu?’ dia menjawab: ‘Ya,’
Ibnu Abbas berkata: “Ciumlah!”
Laki-laki itu betanya lagi: ‘Bolehkah saya bercumbu dengannya?’
Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’
Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’
Ibnu Abbas berkata: ‘Bercumbulah.”
Laki-laki itu bertanya lagi: ‘Bolehkah tangan saya memegang kemaluannya?’
Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’
Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’
Ibnu Abbas berkata: ‘Peganglah.”

Ibnu Hazm berkata: “Ini adalah sanad yang paling shahih dari Ibnu Abbas.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 6, Hal. 212 Darul Fikr)

Komentar Al ‘Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddn Al Albani Rahimahullah

Beliau menguatkan riwayat-riwayat di atas, baginya kebolehan mencium bahkan mubasyarah dengan istri adalah pendapat yang lebih kuat, walau sebaiknya dihindarkan bagi yang tidak mampu meredam hawa nafsu.

أثر ابن مسعود هذا أخرجه ابن أبي شيبة ( 2 / 167 / 2 ) بسند صحيح على شرطهما ، و أثر سعد هو عنده بلفظ ” قال : نعم و آخذ بجهازها ” و سنده صحيح على شرط مسلم ، و أثر ابن عباس عنده أيضا و لكنه مختصر بلفظ : ” فرخص له في القبلة و المباشرة و وضع اليد ما لم يعده إلى غيره ” . و سنده صحيح على شرط البخاري . و روى ابن أبي شيبة ( 2 / 170 / 1 ) عن عمرو بن هرم قال : سئل جابر بن زيد عن رجل نظر إلى امرأته في رمضان فأمنى من شهوتها هل يفطر ؟ قال : لا ، و يتم صومه ” . و ترجم ابن خزيمة للحديث بقوله : ” باب الرخصة في المباشرة التي هي دون الجماع للصائم ، و الدليل على أن اسم الواحد قد يقع على فعلين أحدهما مباح ، و الآخر محظور ” .

Atsar (segala perbuatan dan perkataan sahabat dan tabi’in) dari Ibnu Mas’ud ini telah juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/167) dengan sanad yang shahih, sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Sedangkan atsar dari Sa’ad bin Abi Waqqash juga diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan redaksi: “Benar, bahkan aku memegang juga kemaluannya.” Sanad ini shahih, sesuai syarat Imam Muslim. Sedangkan atsar Ibnu Abbas oleh Ibnu Abi Syaibah juga disebutkannya, tetapi dengan redaksi yang agak ringkas, yakni:

“Dia (Ibnu Abbas) memberikan keringanan kepada orang itu (yang bertanya) untuk mencium istrinya, bermubasyarah, dan meletakkan tangannya di atas kemaluan istrinya, selama tidak mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih dari itu.”

Sanad atsar ini shahih sesuai syarat Bukhari. Ibnu Abi Syaibah (2/170/1) meriwayatkan dari Amru bin Haram: bahwa Jabir bin Zaid ditanya tentang laki-laki yang melihat istrinya pada bulan Ramadhan sampai keluar maninya karena syahwatnya, apakah batal puasanya? Beliau menjawab: “Tidak, hendaknya dia menyempurnakan puasanya.”

Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, dalam pokok bahasan:

“Bab rukhshah (keringanan) dalam bermubasyarah (bercumbu) yang tanpa disertai jima’ (setubuh) bagi orang yang berpuasa.”

Disertai pula dalil mengenai satu kata yang bisa menghasilkan dua macam perbuatan, ada yang mengatakannya mubah (boleh) dan yang lainnya mengatakan mahzhur (terlarang). (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, Hal. 220, No. 221)

Riwayat-riwayat shahih ini menunjukkan bahwa mencium istri adalah mubah, bahkan ada yang melakukan ‘lebih’, selama tidak sampai jima’. Itulah yang dilakukan para sahabat Nabi yang paling tahu tentang Islam dan paling bisa menahan diri

Demikianlah hal-hal yang diperbolehkan bagi orang yang puasa. Namun demikian, bukan berarti hal-hal di atas menjadi sebuah kelaziman bagi para shaimin, sehingga mereka menganggap ringan hal ini.

Sebab, menahan dari dari hal-hal yang bisa merusak kualitas puasa adalah hal yang utama, walau belum tentu perbuatan itu membatalkan puasa atau dibenci.

Ini lebih sedikit, yang pada dasarnya karena dzari’ah (tindakan preventif) demi menjaga kualitas puasa di sisi Allah Ta’ala.

g). Tidur berlebihan

Hadits-hadits tentang ‘tidurnya orang berpuasa adalah ibadah’ tidaklah valid, alias dhaif

Berikut pembahasannya:

عن عبد الله بن أبي أوفى ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، وعمله مضاعف ، ودعاؤه مستجاب ، وذنبه مغفور »

Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampunkan.” (H.R. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3937)

Dalam sanad hadits ini diriwayatkan oleh Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amru an Nakha’i.

Imam Al Baihaqi berkata tentang mereka berdua:

معروف بن حسان ضعيف وسليمان بن عمرو النخعي أضعف منه

Ma’ruf bin Hisan adalah dha’if, dan Sulaiman bin ‘Amru an Nakha’i, lebih dha’if darinya.” (Syu’abul Iman No. 3939)

Dalam Takhrijul Ihya’ disebutkan:

وفيه سليمان بن عمرو النخعي أحد الكذابين .

Dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amru an Nakha’i, salah seorang pendusta.” (Imam Zainuddin al ‘Iraqi, Takhrijul Ihya’, Juz. 2, Hal. 23, No. 723)

Syaikh al Albany mendha’ifkan hadits ini. (Lihat Shahih wa Dha’if Jami’ush Shaghir, Juz. 26, Hal. 384,No. 12740)

Hadits lainnya:

الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه

Orang yang berpuasa senantiasa dinilai ibadah, walaupun sedang berbaring di atas ranjangnya.

Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

ضعيف . رواه تمام ( 18 / 172 – 173 ) : أخبرنا أبو بكر يحيى بن عبد الله بن الزجاج قال : حدثنا أبو بكر محمد بن هارون بن محمد بن بكار بن بلال : حدثنا سليمان بن عبد الرحمن : حدثنا هاشم بن أبي هريرة الحمصي عن هشام بن حسان عن ابن سيرين عن سلمان بن عامر الضبي مرفوعا . و هذا سند ضعيف يحيى الزجاج و محمد بن هارون لم أجد من ذكرهما . و بقية رجاله ثقات غير هاشم بن أبي هريرة الحمصي ترجمه ابن أبي حاتم ( 4 / 2 / 105 ) و لم يذكر فيه جرحا و لا تعديلا . قال : “و اسم أبي هريرة عيسى بن بشير ” . و أورده في ” الميزان ” و قال : ” لا يعرف ، قال العقيلي : منكر الحديث ” . و الحديث أورده السيوطي في ” الجامع الصغير ” برواية الديلمي في ” مسند الفردوس ” عن أنس . و تعقبه المناوي بقوله : ” و فيه محمد بن أحمد بن سهل ، قال الذهبي في ” الضعفاء ” : قال ابن عدي : [ هو ] ممن يضع الحديث ” .

Diriwayatkan oleh Tamam (18/172-173): Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Yahya bin Abdullah bin Az Zujaj, dia berkata: berkata kepadaku Abu Bakar Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakar bin Bilal, berkata kepadaku Sulaiman bin Abdurrahman, berkata kepadaku Hasyim bin Abi Hurairah al Himshi, dari Hisyam bin Hisan, dari Ibnu Sirin, dari Salman bin ‘Amir adh dhabi secara marfu’. Sanad ini dha’if karena Yahya az Zujaj dan Muhammad bin Harun tidak saya (Syaikh al Albany) temukan biografinya tentang mereka berdua. Sedangkan yang lainnya tsiqat (terpercaya), kecuali Hasyim bin Abi Hurairah al Himshi, Imam Abu Hatim (4/2/105) telah menulis tentangnya tetapi tidak memberikan pujian atau kritik atasnya.

Dia berkata: “Nama asli dari Abi Hurairah al Himshi adalah ‘Isa bin Basyir.”

Dalam Al Mizan disebutkan tentang dia: “Tidak diketahui.” Berkata Al ‘Uqaili: “Munkarul hadits.’ Hadits ini juga ada dalam Jami’ush Shaghir-nya Imam As Suyuthi, diriwayatkan oleh Ad Dailami dalam Musnad al Firdaus dari jalur Anas bin Malik. Al Munawi ikut menerangkan dengan ucapannya: “Di dalamnya terdapat Muhammad bin Ahmad bin Sahl, berkata Adz Dzahabi dalam Adh Dhu’afa: berkata Ibnu ‘Adi: “Dia (Muhammad bin Ahmad bin Sahl) termasuk di antara pemalsu hadits.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 230

Wallahu A’lam.

✍ Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah