Home FIQIH FIQIH MUAMALAH

Perkara Halal dalam Islam (Bag. 1)

30
SHARE

Halal itu jelas – innal halaala bayyin, kata Rasulullah ﷺ dalam hadits Muttafaq ‘Alaih. Dalam menentukan kehalalan, maka ada beberapa jalan yang bisa kita ketahui dan biasa ditempuh para ulama.

I. Lugas dan jelas disebutkan HALAL dalam Al Quran

Berikut ini beberapa contohnya:

1) Kehalalan hasil buruan laut

Allah Ta’ala berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan [yang berasal] dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu. (Q.S. Al Maidah: 96)

Jika kita lihat secara zhahiriyah ayat ini, maka semua yang hidup atau berasal dari laut adalah halal. Termasuk dalam kategori ayat ini adalah semua hewan yang hidupnya di air seperti di sungai, danau, dan lainnya.

Dalam hal ini, bahkan ada ulama yang sangat longgar, sampai-sampai membolehkan memakan buaya karena termasuk hewan air.

Halalnya makan buaya merupakan pendapat resmi Malikiyah. (Ibnu Abdil Bar, Al Istidzkar, 5/284. Hasyiyah Ad Dasuqi, 1/49, Hasyiyah Ash Shawi, 2/182).

Juga salah satu pendapat Syafi’iyah (Zakariya Al Anshari, Asnal Mathalib, 1/566, An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 9/32)

Juga salah satu pendapat dari Hanabilah (Ibnu Muflih, Al Furu’, 10/377, Al Mardawi, Al Inshaf, 10/275)

Serta sebagian ulama salaf seperti Al Auza’i. (Al Istidzkar, 5/284), Sa’id bin al Musayyab (An Nawadir Waz Ziyadat, 4/358).

Ini juga pendapat Ibnu ‘Utsaimin (Syarh Al Mumti’, 15/35), Amin Asy Syanqiti (Adhwa’ul Bayan, 1/51), dan ulama di Al Lajnah Ad Daimah (22/319).

Tapi, mayoritas ulama mengatakan buaya itu haram walau dia hidup di air, sebab dia termasuk hewan buas, bertaring, dan pemakan manusia. Itulah pendapat resmi dari Hanafiyah (Ibnu Nujaim, Bahr Ar Raiq, 3/29, Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 2/561), Syafi’iyah (An Nawawi, Al Majmu’, 9/32, Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj, 9/378), dan Hambaliyah (Al Buhuti, Kasysyaf Al Qina’, 6/193, Ibnu Muflih, Al Furu’, 10/377).

Perbedaan ini juga terjadi terhadap Hiu [Al Qarsyu], di mana sebagian ulama mengharamkan tapi umumnya membolehkan. (Lihat Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 5215).

Begitu pula pada kepiting [As Surthan], di mana Malikiyah (Lihat Tadzibul Mudawanah, 1/63) dan Hambaliyah (Lihat Al Inshaf, 10/289) mengatakan HALAL. Sementara Hanafiyah (Lihat Al Bahr Ar Raiq, 8/196, Al Hidayah Syarh Al Bidayah, 4/69), dan Syafi’iyah (lihat Al Majmu’, 9/32) mengatakan HARAM.

Tapi, ternyata ayat di atas ada yang memaknai secara terbatas. Kalangan yang paling sempit adalah Hanafiyah. Bagi mereka ayat: “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut”, hanyalah ikan, bukan lainnya. (Al Kasani, Bada’i Ash Shana’i, 5/35-36).

Sehingga selain ikan seperti cumi, kepiting, udang, pinguin, anjing laut, dan lain-lain adalah haram menurut mereka. Sebab, bagi Hanafiyah semua itu tetaplah bangkai sebagaimana ayat lain bahwa bangkai itu haram. Ikan dibolehkan, berdasarkan dalil lain yaitu adanya dua bangkai yang dikecualikan yaitu ikan dan belalang, sebagaimana riwayat mauquf dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma.

Jika kita lihat perbedaan pendapat ini, karena masing-masing ulama berbeda dalam memahami ayat tersebut, dan juga kaitannya dengan dalil lainnya.

Wallahu A’lam.

(Bersambung)

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah