Home AQIDAH

Rambu-Rambu Dalam Membahas Kiamat dan Akhir Zaman

349
SHARE

Beriman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman. Hari akhir adalah satu perkara ghaib; ada dan pasti terjadi tapi tidak nampak saat ini. Salah satu ciri orang bertaqwa adalah mengimani yang ghaib dan hari akhir (QS. Al Baqarah: 3 – 4)

Ya, tugas kita adalah mengimaninya bukan mengutak atiknya. Hindarilah segala tambahan dan membumbuinya dengan imajinasi tanpa dasar, ramalan tanpa ilmu, prediksi tanpa dalil. “Wow effect” dan rasa mencekam para pembaca dan pendengar bukanlah target dalam menyampaikan kajian akhir zaman.

Karena ini urusan keimanan, maka pijaklah di atas Al Quran dan As Sunnah yang shahih; agar iman semakin dalam. Hindari yang dhaif apalagi yang palsu, sbb para ulama sepakat atas terlarangnya menggunakan hadits dhaif -apalagi palsu- dalam masalah aqidah dan penetapan halal dan haram. Tp, mereka berbeda pendapat penggunaan hadits dhaif dalam masalah Fadhailul A’mal.

Contoh fatal adalah menggunakan riwayat palsu tentang huru hara 15 Ramadhan hari Jumat. Di mana para imam hadits sejak masa lampau menyatakan sebagai hadits palsu, seperti yang dikatakan Imam adz Dzahabi dan Imam Ibnul Qayyim.

Maka, sampaikanlah yang Allah Ta’ala katakan tentang hari akhir, jangan melebihinya. Sampaikanlah yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampaikan, jangan melewatinya. Apalagi berdusta atas nama Allah, RasulNya, dan para ulama, tentang akhir zaman dengan membuat peristiwa rekaan.

Sesungguhnya mengingatkan manusia tentang hari akhir adalah kewajiban seorang da’i dan muballigh, bahkan para nabi sejak dulu sudah mengingatkan tentang fitnah Dajjal Tapi, mengingatkan manusia dengan cara imajinasi dan ilusi sendiri, cocokologi, plus riwayat lemah dan palsu, adalah tidak dibenarkan. Jangan sampai perlahan lahan seperti penganut sekte-sekte kiamat di agama lain, yang berani memastikan kapan kiamat, baik tahun, bulan, bahkan tanggal, berdasarkan igauan mereka sendiri dan ternyata tidak terbukti

Atau jangan pula menjadi kolektor tanda-tanda kiamat tapi minim persiapan. Yang jelas dihadapan kita ada Al Quran yang menjelaskan:

يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?” Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktunya)?

Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya). Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat). (QS. An-Nazi’at: 42 – 45)

Di hadapan kita ada hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Beliau menjawab saat ditanya oleh Jibril ‘Alaihissalam kapan kiamat:

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ

Tidaklah yang ditanya lebih tahu dibanding yang bertanya (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Berikanlah kabar gembira kepada orang beriman, bahwa mereka tidak akan mengalami kiamat:

إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“… tiba-tiba Allah mengirim angin sepoi-sepoi lalu mencabut nyawa setiap orang mu`min dan muslim dibawah ketiak mereka, dan orang-orang yang tersisa adalah manusia-manusia buruk, mereka melakukan hubungan badan secara tenang-terangan seperti keledai kawin. Maka atas mereka itulah kiamat terjadi.” (HR. Muslim no. 2137)

Wa Shalallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam