Home LAIN-LAIN AL FADHAA-IL

Rantaian Keberkahan

258
SHARE

Berkah (Al Barakah) artinya:

هي النماء والزيادة .
وكذلك البركة في الأمر , فالخير يثبت فيه ولا يُفارقه ويُبارك الله فيه بأن ينمُو ويزداد .
البركة قيمةٌ معنوية لا تُرى بالعين المجردة ولا تُقاس بالكم ولا تحويها الخزائن .. هي شعورٌ إيجابي يشعر به الإنسان .
إذاً البركة تحملُ معنى نزول الخير الإلهي .

Artinya berkembang dan bertambah. Demikian juga makna berkah pada sebuah urusan, yaitu kebaikan selalu mengiringi urusan tersebut dan tidak pernah berpisah, dan Allah memberkahi urusan itu dengan menumbuhkan dan menambahkan.

Berkah itu nilai yang sifatnya ma’nawiyah (esensial), tidak bisa dilihat oleh mata telanjang dan tidak bisa dianalogikan dengan kuantitas, dan tidak pula diukur dengan harta. Berkah adalah cita rasa positif yang dirasakan manusia. Jadi, berkah itu bermakna turunnya kebaikan ilahiy kepada manusia. (Selesai)

Di sinilah keberkahan itu

Berikut ini adalah hal-hal yang memunculkan keberkahan. Bisa berupa tempat, benda, waktu, aktivitas, dan manusia itu sendiri.

1. Ka’bah, Masjidul Haram, dan Kota Makkah

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. (Q.S. Ali ‘Imran: 96)

Para ulama tafsir berbeda dalam memaknai “rumah pertama”: ada yang memaknai Ka’bah adalah bukan rumah pertama semata-mata rumah, tapi maksudnya rumah pertama yang diberkahi. Sebelumnya sudah ada rumah-rumah selain Ka’bah. Ini dikatakan oleh Ali, Mathar, Al Hasan, dan lainnya.

Ada pula yang mengatakan memang sebagai rumah pertama sebelum dibangun rumah-rumah lain, bahkan diciptakan bersamaan dengan diciptakan bumi. Seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Amr, Mujahid, As Suddiy, dan lainnya. Ada pula yang mengatakan Ka’bah sudah diciptakan sebelum adanya bumi, bahkan diturunkan bersamaan diturunkannya Nabi Adam ‘Alaihissalam dari surga ke bumi, seperti penjelasan Qatadah. Pendapat yg benar menurut Imam Ibnu Jarir adalah Ka’bah rumah pertama yg dibangun dalam artian rumah untuk tempat ibadah. (Semua penjelasan ini disebutkan oleh Imam Ibnu Jarir Ath Thabariy dalam Tafsirnya, Jilid. 3, Hal. 1877-1879)

Keberkahan Ka’bah dan sekitarnya, sangat banyak bagi penduduknya bahkan bagi umat manusia. Sejak masa lalu dikunjungi banyak manusia, bahkan jutaan manusia, sehingga menjadi pusat perdagangan dan peribadatan. Hal itu dirasakan sampai masa kini. Selain itu inilah salah satu kota -bersama Madinah- yang tidak akan mampu dimasuki Dajjal.

Demikian. Wallahu A’lam.

2. Kota Madinah

Ini adalah kota yang diberkahi, beribadah di masjid Nabawi sama dengan seribu di masjid lainnya. Dia salah satu tanah haram (bersama Makkah) yang diharamkan orang kafir masuk ke dalamnya, dan haram pula kemaksiatan terjadi di dalamnya. Serta tidak akan dimasuki oleh Dajjal.

Dalam sebuah hadits:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِالْمَدِينَةِ ضِعْفَيْ مَا جَعَلْتَ بِمَكَّةَ مِنْ الْبَرَكَةِ

Dari Anas Radhiallahu ‘Anhu dari Nabi ﷺ bersabda: “Ya Allah jadikanlah Madinah seperti Makkah, yang dimana Engkau telah menjadikannya (Makkah) penuh dengan keberkahan.” (H.R. Bukhari no. 1885)

Dalam Shahih Al Bukhari, Sayyidina Umar Radhiallahu ‘Anhu berdoa:

اللَّهم ارزقني شهادة في سبيلك، واجعل موتي في بلد رسولك

“Ya Allah rezekikanlah kepadaku mati syahid di jalanMu dan jadikanlah kematianku di negeri RasulMu.” (H.R. Al Bukhari No. 1890)

Imam Al Bukhari memasukkan doa Umar Radhiallahu ‘Anhu ini dalam Kitab Al Fadhaail Al Madinah, Keutamaan-keutamaan kota Madinah.

Maksud dari “negeri RasulMu” adalah Madinatun Nabi (kota Nabi), yaitu Madinah Al Munawwarah, kota di mana Nabi ﷺ dikuburkan. Doa ini dijadikan dasar sebagian ulama keutamaan Madinah dibanding Makkah.

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan:

احتج به من فضل المدينة على مكة ، وقالوا : لو علم عمر بلدة أفضل من المدينة لدعا ربه أن يجعل موته وقبره فيها

Ini dijadikan hujjah keutamaan Madinah dibanding Makkah. Mereka mengatakan: seandainya Umar tahu ada negeri yang lebih utama dibanding Madinah niscaya dia akan berdoa agar wafat di sana dan dikuburkan di sana. (Syarh Shahih Al Bukhari, Jilid 4, Hal. 558)

Doa Umar Radhiallahu ‘Anhu terkabulkan, Beliau wafat di Madinah, dibunuh seorang Majusi, Abu Lulu’ah.

Demikian. Wallahu A’lam.

3. Masjidil Aqsha dan Sekitarnya adalah Diberkahi

Allah Taala berfirman:

سُبْحَانَ الذى أسرى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مّنَ المسجد الحرام إلى المسجد الاقصى الذى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءاياتنا إنَّهُ هُوَ السميع البصير

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al Isra (17): 1)

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah tentang makna: “telah Kami berkahi sekelilingnya”:

بالثمار والأنهار والأنبياء والصالحين ، فقد بارك الله سبحانه حول المسجد الأقصى ببركات الدنيا والآخرة

Dengan buah-buahan, sungai, para nabi dan shalihin, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan keberkahan di sekitar masjid Al Aqsha dengan keberkahan dunia dan akhirat.” (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 4/280. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Al Aqsha dan sekitarnya yang saat ini menjadi wilayah Palestina, yang dulunya adalah Syam, adalah tempat penuh keberkahan; buminya para Nabi, tempatnya subur, shalat di Al Aqsha sama dengan 500 kali shalat di masjid lain (kecuali Masjidul Haram dan Masjid Nabawi), dan saat ini menjadi arena jihad fisabilillah yang memunculkan banyak Mujahidin dan syuhada. Sebut saja seperti Shalahuddin Al Ayyubi, ‘Izzuddin Al Qassam, Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar Rantisi, ‘Imad ‘Aql, Yahya Ayyasy, Fathi Syaqaqiy, dan masih banyak lainnya.

Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Akan ada sekelompok ummatku yang senantiasa berada di atas kebenaran, menang dan mengalahkan musuh mereka, orang yang menentang mereka tidaklah membahayakan mereka kecuali cobaan yang menimpa mereka hingga urusan Allah tiba dan mereka seperti itu.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah! Dimana mereka? Rasulullah ﷺ bersabda: “Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis.” (H.R. Ahmad no. 22320. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: Shahih. Ta’liq Musnad Ahmad no. 22320)

Syaikh Muhammad Al ‘Arifiy dalam salah satu ceramahnya mengatakan bahwa menurut pendapatnya maksud dari segolongan umat yang konsisten berjihad di Baitul Maqdis dalam hadits ini di zaman ini adalah sayap militernya HAMAS, yakni ‘Izzuddin Al Qassam. Wallahu A’lam.

4. Syam dan Yaman

Dua negeri ini juga menempati posisi khususu. Nabi ﷺ mendoakan keberkahan untuk keduanya.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Nabi ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا

Ya Allah berkahilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami. (H.R. Bukhari no. 1037)

Hadits ini menunjukkan keutamaan kedua negeri tersebut; Syam dan Yaman. Negerinya para ulama dan mujahid sepanjang zaman.

Negeri Syam meliputi itu Palestina, Jordan, Siria, dan Libanon.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizahullah mengatakan:

والحديث فيه دلالة على فضل الشام واليمن، والدعاء لهما بالبركة، وقد وردت أحاديث أخر في فضلهما، وفضل سكناهما، وخاصة في آخر الزمان حين تكثر الفتن، فمن ذلك ما أخرجه أبو داود وابن حبان في صحيحه، والحاكم في المستدرك أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “سيصير الأمر أن تكونوا جنوداً مجندة: جند بالشام، وجند باليمن، وجند بالعراق، قال ابن حوالة: خر(أي: اختر) لي يا رسول الله إن أدركت ذلك، فقال: عليك بالشام، فإنها خيرة الله من أرضه، يجتبي إليها خيرته من عباده، فأما إن أبيتم فعليكم بيمنكم، واسقوا من غدركم، فإن الله توكل لي بالشام وأهله“.

Pada hadits ini menunjukkan keutamaan Syam dan Yaman, dan doa keberkahan bagi keduanya. Ada juga hadits lain yang menyebutkan keutamaan keduanya, dan keutamaan bertempat tinggal di keduanya, khususnya di akhir zaman ketika banyaknya fitnah.

Di antaranya apa yg diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Al Hakim dalam Al Mustadrak bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Keadaannya sampai kalian menjadi tentara-tentara yang terpisah-pisah, pasukan di Syam, pasukan di Yaman, dan pasukan di Irak.” Ibnu Hawalah berkata; pilihkan (tempat terbaik) untukku wahai Rasulullah apabila aku mendapati hal tersebut! Beliau berkata: “Hendaknya kalian menetap di Syam karena sesungguhnya Syam adalah bumi Allah yang paling terpilih, Allah memilih hamba-hamba pilihannya menuju kepadanya. Adapun jika kalian menolak maka hendaknya kalian menetap di Yaman, dan minumlah dari telaganya, karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Negeri Syam dan penduduknya.” (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 11456)

Jika ada yang bertanya mengapa penuh dengan konflik? Maka, jawabnya di negeri-negeri ini suburnya ladang para syuhada, keberkahan sebuah tempat tidak berarti bermakna damai, tapi penuh kekayaan, ilmu, dan tokoh-tokoh besar dari kalangan pejuang dan ulama.

5. Berkumpul Bersama Para Ulama

Nabi ﷺ bersabda:

البركة مع أكابركم

Keberkahan itu bersama orang-orang besar kalian. (H.R. Ibnu Hibban no. 1912, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 8/172, Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/62, katanya: SHAHIH sesuai syarat Al Bukhari. Dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

Apa yang dimaksud Akaabir (orang-orang besar)? Mereka adalah ahlul ‘ilmi (ulama). (Jaami’ Al Ahaadits no. 10505)

Bergaul dan berkumpul dengan para ulama yang Rabbani dan mukhlish, akan mendapatkan banyak manfaat. Diamnya mereka, bicaranya, cara makan dan minumnya, nasihatnya, bahkan gurauannya pun memiliki hikmah, ilmu, dan manfaat, apalagi seriusnya.

Maka seringlah hadir di majelis-majelis ilmu agar kita bisa mendapatkan keberkahan ilmu dan para ulama.

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’Anhu berkata:

لا يَزَالُ النَّاسُ صَالِحِينَ مُتَمَاسِكِينَ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمِنْ أَكَابِرِهِمْ ، فَإِذَا أَتَاهُمْ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ هَلَكُوا ” .

Manusia senantiasa shalih bila mereka mengambil ilmu dan komitmen dari para sahabat Nabi ﷺ dan orang-orang besarnya, tapi jika mengambilnya dari ASHAGHIR maka mereka binasa. (Ath Thabaraniy dalam Al Awsath dan Al Kabir)

Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah mengatakan tentang makna ASHAGHIR:

الذين يقولون برأيهم، فأما صغير يروي عن كبير فليس بصغير

Orang-orang yang mengutarakan pendapat dengan pendapat mereka semata, adapun orang kecil yang meriwayatkan dari orang besar (ulama), dia bukanlah shaghir yang dimaksud.(Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/312. Cet. 1, 2003 M-1424 H. Muasasah Ar Rayyan – Dar Ibnu Hazm)

Bersambung

✏ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah