Home FIQIH IBADAH

Sakit Bagaimanakah yang Membolehkan Seseorang tidak Berpuasa?

78
SHARE
Close up of saline intravenous (iv) drip in a child's patient hand. Health care and people concept. Vintage tone.

Sakit adalah salah satu ‘udzur, halangan, bagi seseorang yang membuat boleh baginya tidak berpuasa, dan mengganti puasanya di hari lain.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. (Q.S. Al-Baqarah: 184)

Ada pun orang yang tidak berpuasa tanpa alasan, tanpa adanya ‘udzur, itu adalah salah satu dosa besar.

Imam Adz Dzahabi Rahimahullah berkata:

وعند المؤمنين مقرر أن من ترك صوم رمضان بلا مرض ولا عرض أنه شر المكاس والزاني ومدمن الخمر بل يشكون في إسلامه ويظنون به الزندقة والانحلال

Orang-orang beriman telah menetapkan bahwa orang yang meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit dan tidak ada alasan, maka dia lebih buruk dari perampas, pezina, peminum khamr, bahkan diragukan keislamannya, dan mereka menyangka orang tersebut adalah zindik dan telah copot keislamannya. (Dikutip oleh Imam Al Munawiy, Faidhul Qadir, 4/211)

Makna Maridh (Sakit)

Sakit dalam ayat di atas ada dua pendapat para ulama.

Pertama. Semua macam penyakit atau rasa sakit yang disebut “sakit”.

Imam Ath Thabariy Rahimahullah berkata:

وهو كل مرض يسمى مرضا

Yaitu semua sakit yang dinamakan “keadaan sakit”. (Tafsir Ath Thabariy, 2/915)

Bahkan walau sekedar penyakit di jari jemari. Padahal ini penyakit yang ringan.

Imam Ath Thabariy Rahimahullah menceritakan dari Tharif bin Syihab Al ‘Atharidiy:

أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، فِي رَمَضَانَ وَهُوَ يَأْكُلُ فَلَمْ يَسْأَلْهُ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: إِنَّهُ وَجِعَتْ إِصْبَعِي هَذِهِ

Bahwa dia (Tharif) masuk ke rumah Muhammad bin Sirin di bulan Ramadhan, dan Muhammad bin Sirin sedang makan dan dia tidak menanyakannya. Tatkala selesai makan, Ibnu Sirin berkata: “Jariku yang ini sakit.” (Ibid. Imam Al Qurthubi juga menceritakan dalam tafsirnya, 2/276)

Sebagian salaf mengikuti pendapat ini seperti ‘Atha bin Abi Rabah, Imam Bukhari, dan lainnya. Juga didukung oleh kelompok zhahiriyah (tekstualis), seperti Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm.

Syaikh Muhammad ‘Ali Ash Shabuniy Hafizhahullah berkata:

قال أهل الظاهر: مطلق المرض و السفر يبيح الافطار حتى لو كان السفر قصيرا و المرض يسيرا حتى من وجع الاصبع و الضرس و روى هذا عن عطاء و ابن سيرين

Kelompok tekstualis (ahli zhahir) mengatakan, secara mutlak (umum) penyakit dan safar itu membolehkan untuk berbuka puasa walau jenis perjalanan yang dekat dan sakit yang ringan, sampai-sampai rasa sakit di jari dan gigi geraham. Hal ini diriwayatkan dari ‘Atha dan Ibnu Sirin. (Rawa’i Al Bayan, 1/156)

Alasan mereka adalah ayat tersebut tidak menyebut sakit yang bagaimana, tapi hanya menyebut maridhan (keadaan sakit). Maka, ini menunjukkan bahwa sakit yang dimaksud adalah umum baik yang ringan dan berat. Pendapat ini nampak begitu “menggampangkan” tanpa membedakan penyakit ringan atau berat. Pokoknya, selama namanya sakit maka seseorang sudah boleh tidak berpuasa.

Kedua. Penyakit berat yang jika dia berpuasa maka dia sangat bersusah payah dan bisa semakin parah penyakitnya atau semakin lama sembuhnya. Inilah sakit yang boleh bagi seseorang untuk tidak berpuasa. Pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama.

Syaikh Muhammad ‘Ali Ash Shabuniy Hafizhahullah berkata:

وذهب أكثر الفقهاء إلى أن المرض المبيح الفطر هو المرض الشديد الذى يؤدى إلى ضرر فى النفس أو زيادة فى العلة أو يخشى معه تأخر البرء

Mayoritas ahli fiqih mengatakan bahwa sakit yang dibolehkan berbuka adalah sakit yang berat, yang jika dia puasa akan membawa bahaya bagi jiwanya, atau bertambah sakitnya, atau khawatir jadi lama sembuhnya. (Rawa’i Al Bayan, 1/156)

Ada yang memberikan batasan bahwa “sakit berat” itu adalah sakit yang membuat seseorang tidak mampu berdiri untuk shalat.

Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata:

إذا لم يستطع المريض أن يصلى قائما أفطر

Jika seorang yang sakit tidak mampu shalat secara berdiri, maka dia boleh berbuka. (Tafsir Ath Thabariy, 2/915)

Ini juga dikatakan oleh Ibrahim An Nakha’iy. (Ibid)

Sementara Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah di tanya:

مَتَى يُفْطِرُ الْمَرِيضُ ؟ قَالَ : إذَا لَمْ يَسْتَطِعْ .
قِيلَ : مِثْلُ الْحُمَّى ؟ قَالَ : وَأَيُّ مَرَضٍ أَشَدُّ مِنْ الْحُمَّى

“Kapankah orang sakit boleh berbuka?” Dia menjawab: “jika dia tidak mampu (puasa).” Ditanyakan lagi: “Semacam demam?” Beliau menjawab: “Sakit apapun yang lebih berat dari demam.” (Al Mughni, 6/149)

Manakah yang Dipilih?

Pendapat mayoritas ulama, yaitu sakit yang beratlah yang pantas bagi seseorang berbuka, sakit yang bisa membuat payah, dan semakin lama sembuhnya jika dia berpuasa, maka ini pendapat yang lebih aman dan hati-hati.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وَالْمَرَضُ الْمُبِيحُ لِلْفِطْرِ هُوَ الشَّدِيدُ الَّذِي يَزِيدُ بِالصَّوْمِ أَوْ يُخْشَى تَبَاطُؤُ بُرْئِهِ .

Sakit yang dibolehkan untuk berbuka adalah sakit keras yang bisa bertambah parah karena puasa atau dikhawatiri lama sembuhnya.(Ibid)

Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah mendukung pendapat ini, Beliau mengatakan tentang standar sakit yang boleh berbuka puasa:

هوالذي يشق معه الصوم مشقة شديدة أو يخاف الهلاك منه إن صام، أو يخاف بالصوم زيادة المرض أو بطء البرء أي تأخره . فإن لم يتضرر الصائم بالصوم كمن به جرب أو وجع ضرس أو إصبع أو دمل ونحوه، لم يبح له الفطر.

Yaitu sakit berat yang jika puasa beratnya semakin parah atau khawatir dia celaka, atau khawatir dengan puasa akan menambah sakit atau memperlama kesembuhan. Jika seorang puasa tidaklah mendatangkan mudharat baginya seperti sakit kudis, sakit gigi, jari, bisul, dan yang semisalnya, maka ini tidak boleh berbuka.” (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/75. Maktabah Al Misykah)

Imam Ibnu Jarir Ath Thabariy Rahimahullah berkata:

وَالصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا، أَنَّ الْمَرَضَ الَّذِي أَذِنَ اللَّهُ تَعَالَى ذِكْرُهُ بِالْإِفْطَارِمَعَهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ مَنْ كَانَ الصَّوْمُ جَاهَدَهُ جَهْدًا غَيْرَ مُحْتَمَلٍ، فَكُلُّ مَنْ كَانَ كَذَلِكَ فَلَهُ الْإِفْطَارُ وَقَضَاءُ عِدَّةٍ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Pendapat yang benar dalam masalah ini menurut kami adalah bahwa penyakit yang Allah izinkan untuk berbuka dan diganti di hari lain, adalah orang yang berpuasa begitu berat perjuangannya, maka semua yang seperti ini saat puasa maka dia hendaknya ganti di hari lain. (Tafsir Ath Thabariy, 2/915)

Syaikh Muhammad ‘Ali Ash Shabuniy Hafizhahullah berkata:

اقول ما ذهب إليه الجمهور هو الصحيح الذى يتقبله العقل بقول حسن فإن الحكمة التى من أجلها رخص للمريض فى الافطار هي إرادة اليسر و لا يراد اليسر الا عند وجود المشقة فأي مشقة فى وجع الاصبع أو الصداع الخفيف و المرض اليسير ..

Aku katakan bahwa apa yang dikatakan mayoritas ulama itulah yang shahih, bisa diterima akal, dan merupakan pendapat yang bagus. Sebab, hikmah dari adanya rukhshah (keringanan) adalah agar orang sakit itu mendapatkan kemudahan. Dan keringanan tidak akan muncul kecuali di saat adanya masyaqqah (berat, susah, payah), maka kepayahan apa yang dimunculkan dari sakit sekedar di jari jemari, demam ringan, atau sakit ringan? (Rawa’i Al Bayan, 1/157)

Pendapat inilah yang lebih hati-hati dan aman, karena Allah Taala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu …“ (Q.S. At Taghabun (64): 16)

Jadi, selama masih ada kesanggupan maka berpuasalah. Jangan menyerah begitu saja hanya karena penyakit ringan.

Demikian. Wallahu A’lam.

✍ Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah