Home FIQIH IBADAH

Satu Ekor Kambing dengan Dua Niat; Aqiqah dan Qurban, Sahkah?

89
SHARE

Bismillahirrahmanirrahim.

Ini salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan menjelang Hari Raya Qurban

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah hewan qurban sudah dapat mewakili aqiqah?

1. Tidak boleh, tidak sah

Ini pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Alasannya, karena keduanya sama-sama sunnah yang berdiri sendiri, ada ketentuan masing-masing. Sebagaimana bayar dam pada haji tamattu’ dan bayar dam fidyah yg tidak bisa disatukan.

Imam Ibnu Hajar Al Haitami Rahimahullah berkata:

وَظَاهِرُ كَلَامِ َالْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا ، وَهُوَ ظَاهِرٌ ; لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ

Jika seseorang berniat dalam satu kambing untuk qurban dan aqiqah, maka ia tidak mendapatkan dua-duanya, pendapat inilah yang kuat, karena masing-masing dari qurban dan aqiqah memiliki tujuan tersendiri. (Tuhfatul Muhtaj, 9/371)

Imam Al Hathab Rahimahullah berkata:

إِنْ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ لِلْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ أَوْ أَطْعَمَهَا وَلِيمَةً ، فَقَالَ فِي الذَّخِيرَةِ : قَالَ صَاحِبُ الْقَبَسِ : قَالَ شَيْخُنَا أَبُو بَكْرٍ الْفِهْرِيُّ إذَا ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ لِلْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ لَا يُجْزِيهِ ، وَإِنْ أَطْعَمَهَا وَلِيمَةً أَجْزَأَهُ ، وَالْفَرْقُ أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي الْأَوَّلَيْنِ إرَاقَةُ الدَّمِ ، وَإِرَاقَتُهُ لَا تُجْزِئُ عَنْ إرَاقَتَيْنِ ، وَالْمَقْصُودُ مِنْ الْوَلِيمَةِ الْإِطْعَامُ ، وَهُوَ غَيْرُ مُنَافٍ لِلْإِرَاقَةِ ، فَأَمْكَنَ الْجَمْعُ . انْتَهَى

Jika seseorang menyembelih sembelihannya untuk qurban dan aqiqah, atau untuk walimahan, maka ia berkata dalam “Adz Dzakhirah”: Pengarang “al Qabas” berkata: “Syaikh kami Abu Bakr Al Fihri berkata: “Jika seseorang menyembelih sembelihannya untuk niat qurban digabung aqiqah, maka itu tidak dibolehkan, namun jika ia berniat untuk qurban digabung dengan walimahan, atau aqiqah dengan walimahan, maka dibolehkan.

Bedanya adalah karena tujuan qurban dan aqiqah adalah sama-sama pengucuran darah, sedang sembelihan buat walimahan adalah untuk hidangan makan semata, dan ini tidak menafikan adanya pengucuran darah, maka memungkinkan untuk digabungkan [antara aqiqah dan walimahan, atau qurban dan walimahan]. (Mawahib Al Jalil, 3/259)

2. Boleh dan Sah

Inilah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan juga pendapat Hanafiyah dan sebagian tabi’in. Alasannya, aqiqah dan qurban adalah sama-sama ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Maka, cara yang satu sudah mewakili yang lain. Sebagaimana shalat tahiyatul masjid sudah terwakili oleh sunnah qabliyah.

Imam Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata:

إذَا ضَحُّوا عَنْ الْغُلَامِ فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ مِنْ الْعَقِيقَةِ .

Jika mereka menyembelih qurban untuk seorang anak, maka juga boleh untuk aqiqah. (Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah, no. 24750)

Imam Ibnu Sirin Rahimahullah berkata:

يُجْزِئُ عَنْهُ الْأُضْحِيَّةُ مِنْ الْعَقِيقَةِ .

Dibolehkan sembelihan untuk aqiqah diniatkan juga untuk qurban. (Ibid, no. 24751)

Imam Al Bahuti Rahimahullah berkata:

وَإِنْ اتَّفَقَ وَقْتُ عَقِيقَةٍ وَأُضْحِيَّةٍ ، بِأَنْ يَكُونَ السَّابِعُ أَوْ نَحْوُهُ مِنْ أَيَّامِ النَّحْرِ ، فَعَقَّ أَجْزَأَ عَنْ أُضْحِيَّةٍ ، أَوْ ضَحَّى أَجْزَأَ عَنْ الْأُخْرَى ، كَمَا لَوْ اتَّفَقَ يَوْمُ عِيدٍ وَجُمُعَةٍ فَاغْتَسَلَ لِأَحَدِهِمَا ، وَكَذَا ذَبْحُ مُتَمَتِّعٍ أَوْ قَارِنٍ شَاةً يَوْمَ النَّحْرِ ، فَتُجْزِئُ عَنْ الْهَدْيِ الْوَاجِبِ وَعَنْ الْأُضْحِيَّةَ ” انتهى .

“Jika waktu aqiqah bersamaan dengan waktu berqurban, seperti pada hari ke tujuh atau yang lainnya bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha atau hari tasyriq, maka salah satu dari aqiqah atau qurban bisa mewakili yang lainnya. Sebagaimana jika hari raya bersamaan dengan hari Jum’at, maka niat mandinya untuk salah satunya saja, sebagaimana juga sembelihan haji tamattu’ atau haji qiran pada Hari Raya Idul Adha, maka sembelihan dam (yang wajib) juga untuk qurban Idul Adha.(Syarh Muntahal Iradaat, 1/616)

Beliau –Rahimahullah- juga berkata dalam “Kasysyaful Qina’” 3/30:

وَلَوْ اجْتَمَعَ عَقِيقَةٌ وَأُضْحِيَّةٌ ، وَنَوَى الذَّبِيحَةَ عَنْهُمَا ، أَيْ : عَنْ الْعَقِيقَةِ وَالْأُضْحِيَّةِ أَجْزَأَتْ عَنْهُمَا نَصًّا

Jika aqiqah dan qurban berkumpul, dan berniat dalam satu sembelihan untuk keduanya (aqiqah dan qurban), maka hal itu dibolehkan secara tekstual oleh nash [perkataan Imam Ahmad]. (Kasysyaf Al Qinaa’, 3/29)

Ulama Hambaliy kontemporer, seperti Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah telah memilih pendapat ini dengan mengatakan:

لو اجتمع أضحية وعقيقة كفى واحدة صاحب البيت ، عازم على التضحية عن نفسه فيذبح هذه أضحية وتدخل فيها العقيقة .
وفي كلامٍ لبعضهم ما يؤخذ منه أنه لابد من الاتحاد : أن تكون الأضحية والعقيقة عن الصغير. وفي كلام آخرين أنه لا يشترط ، إذا كان الأب سيضحي فالأضحية عن الأب والعقيقة عن الولد .
الحاصل : أنه إذا ذبح الأضحية عن أُضحية نواها وعن العقيقة كفى” انتهى .

Jika bertemu antara waktu aqiqah dengan waktu qurban, maka cukup dengan satu hewan sembelihan, dengan berniat untuk berqurban untuk dirinya dan berniat untuk aqiqah anaknya. Sebagian dari mereka justru berpendapat harus dijadikan satu, yaitu; qurban dan aqiqah untuk bayi. Namun pendapat yang lain tidak mensyaratkan hal itu, jika seorang ayah mau berqurban, maka qurban itu untuk sang ayah dan aqiqah untuk si anak.

Kesimpulannya adalah: Jika seseorang berniat untuk berqurban, pada waktu bersamaan ia berniat untuk aqiqah maka hal itu sudah cukup. (Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/159)

Pendapat pertama, nampaknya pendapat yang lebih hati-hati, bahwasanya sebaiknya keduanya dipisahkan. Memisahkan keduanya juga disepakati semua ulama atas kebolehannya, sebab yang didebatkan para ulama adalah tentang hukum menyatukannya.

Demikian. Wallahu A’lam.

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah