Home TJ FIQIH IBADAH TJ FIQIH SHALAT

Shalat di Hijir Ismail

124
SHARE

Pertanyaan:

Bagaimana hukum shalat di Hijir Ismail? Bukannya itu masih masuk dalam area Ka’bah?

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Bismillahirrahmanirrahim.

Hijir Ismail adalah bagian dari Ka’bah. Shalat di Hijir Ismail adalah boleh menurut semua ulama, bahkan itu hal yang mustahab (disukai), khususnya shalat sunnah.

Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ فَنَزَلَ بِفِنَاءِ الْكَعْبَةِ وَأَرْسَلَ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ طَلْحَةَ فَجَاءَ بِالْمِفْتَحِ فَفَتَحَ الْبَابَ قَالَ ثُمَّ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِلَالٌ وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَعُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ وَأَمَرَ بِالْبَابِ فَأُغْلِقَ فَلَبِثُوا فِيهِ مَلِيًّا ثُمَّ فَتَحَ الْبَابَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَبَادَرْتُ النَّاسَ فَتَلَقَّيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجًا وَبِلَالٌ عَلَى إِثْرِهِ فَقُلْتُ لِبِلَالٍ هَلْ صَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ أَيْنَ قَالَ بَيْنَ الْعَمُودَيْنِ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ قَالَ وَنَسِيتُ أَنْ أَسْأَلَهُ كَمْ صَلَّى

Dari Ibnu Umar ia berkata: Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Makkah di hari penaklukannya, beliau turun di halaman Ka’bah dan menyuruh Utsman bin Thalhah mengambil kunci, lalu dibukanya pintu Ka’bah. Kemudian masuklah Nabi ﷺ disusul Bilal, Zaid, dan Utsman bin Thalhah. Kemudian pintu Ka’bah pun ditutup, lalu mereka tinggal di dalam beberapa saat lamanya. Dan setelah Utsman membuka pintu, kata Abdullah, aku segera mendahului orang banyak menemui Rasulullah ﷺ. Beliau keluar dengan diiringi Bilal, maka aku pun bertanya kepada Bilal, “Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunaikan shalat di dalam?” Bilal menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Di mana?” Bilal menjawab, “Di antara dua tiang.” Ibnu Umar berkata, “Aku lupa untuk menanyakan berapa lama beliau shalat.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)

Dari sini para ulama menyatakan bolehnya shalat di dalam Ka’bah, begitu pula Hijir Ismail, karena dia bagian dari Ka’bah.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahumallah menjelaskan:

وتصح النافلة في الكعبة وعلى ظهرها . لا نعلم فيه خلافا ; لأن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في البيت ركعتين

Shalat sunnah sah di dalam Ka’bah dan di atas punggungnya. Kami tidak ketahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini, karena Nabi ﷺ shalat di dalamnya sebanyak dua rakaat. (Al Mughni, 1/406)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah mengatakan:

الصلاة في حجر إسماعيل مستحبة ; لأنه من البيت ، وقد صح عن النبي – صلى الله عليه وسلم – : أنه دخل الكعبة عام الفتح وصلى فيها ركعتين متفق على صحته من حديث ابن عمر – رضي الله عنهما – عن بلال – رضي الله عنه -.
وقد ثبت عنه – صلى الله عليه وسلم – أنه قال لعائشة – رضي الله عنها – لما أرادت دخول الكعبة : صلي في الحجر فإنه من البيت .

Shalat di Hijir Ismail adalah sunnah, karena itu termasuk Al Bait [Ka’bah]. Telah shahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau masuk ke Ka’bah di tahun Fathu Makkah dan shalat dua rakaat di dalamnya. Keshahihannya telah disepakati, dari hadits Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma dari Bilal Radhiallahu ‘Anhu.

Telah shahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau berkata kepada Aisyah Radhiallahu ‘Anha, saat dia masuk ke Ka’bah: “Shalatlah di Hijir, sebab dia bagian dari Ka’bah.” (Majmu’ Fatawa, 11/389)

Adapun shalat wajib, terjadi perbedaan pendapat di antara para imam.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahumallah menjelaskan:

ولا تصح الفريضة في الكعبة , ولا على ظهرها . وجوزه الشافعي وأبو حنيفة ; لأنه مسجد , ولأنه محل لصلاة النفل , فكان محلا للفرض , كخارجها . ولنا : قول الله تعالى ( وحيث ما كنتم فولوا وجوهكم شطره ) والمصلي فيها أو على ظهرها غير مستقبل لجهتها , والنافلة مبناها على التخفيف والمسامحة , بدليل صلاتها قاعدا , وإلى غير القبلة , في السفر على الراحلة “.

Tidak sah shalat wajib di dalam Ka’bah, begitu pula di atas punggung Ka’bah. Sementara, Imam Asy Syafi’iy dan Imam Abu Hanifah membolehkannya, sebab itu masjid, dan itu adalah tempat shalat sunnah maka itu shalat wajib juga sebagaimana bagian luarnya.

Bagi kami [Hambaliyah]: Allah Ta’ala berfirman: “Di mana pun saja kamu berada, hadapkanlah wajah kamu ke arah itu”, maka tempat shalat di dalamnya atau di atasnya tidaklah mengarah ke arah itu. Sedangkan shalat sunnah lebih ringan dan fleksibel, dalilnya adalah shalat sunnah boleh duduk, dan boleh menghadap ke selain kiblat saat shalat di atas kendaraan. (Al Mughni, 1/406)

Demikianlah. Wallahu A’lam.