Home TJ FIQIH IBADAH TJ FIQIH SHALAT

Shalat di Ruangan Multifaith

51
SHARE

Pertanyaan:

Apa hukumnya/bolehkah kita memakai ruangan multifaith prayer room untuk shalat? Tempatnya berupa ruang ibadah tanpa sekat yang boleh digunakan oleh semua orang dari agama apapun dan banyak disediakan oleh pemerintah Inggris di tempat-tempat umum seperti bandara, rumah sakit, universitas, mall, dan lain-lain.

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Bismillahirrahmanirrahim.

Shalat di tempat seperti itu, tetap sah tapi tidak dihukumi shalat di dalam masjid, sebab itu bukan masjid. Hal itu dengan syarat selama di dalamnya tidak terdapat najis dan simbol-simbol kekafiran, seperti berhala dan salib.

Rasulullah ﷺ sendiri menyebutkan bahwa pada prinsipnya semua permukaan bumi adalah suci dan tempat sujud (masjid).

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ

“Dijadikan untukku, bumi itu sebagai masjid dan suci. Maka, laki-laki mana pun dari umatku yang mendapatkannya, maka hendaknya dia shalat.” (H.R. Bukhari No. 335)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

أي موضع سجود لا يختص السجود منها بموضع دون غيره

Yaitu tempat sujud, di mana sujud tidaklah dikhususkan di suatu tempat tanpa tempat lainnya.(Fathul Bari, 1/437)

Imam Abul Hasan As Sindi Rahimahullah menjelaskan:

مفاد الحديث أن الأرض في ذاتها كلها محل للصلاة في الكل ، إلا لعارض يدل دليل على أن الصلاة معه مكروهة أو غير صحيحة ، فتقصر الكراهة أو عدم الصحة عليه

“Pelajaran dari hadits ini adalah bahwa bumi secara zat seluruhnya adalah tempat shalat kecuali adanya dalil yang menunjukkan bahwa shalat di situ makruh atau tidak sah, maka begitulah batasan makruh dan tidak sahnya.” (Hasyiyah As Sindi ‘ala Shahih Al Bukhari, 1/140)

Perlu diketahui banyak ulama yang membolehkan shalat di gereja, maka apalagi tempat yang lebih umum.

Imam Bukhari Rahimahullah meriwayatkan:

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «إِنَّا لاَ نَدْخُلُ كَنَائِسَكُمْ مِنْ أَجْلِ التَّمَاثِيلِ الَّتِي فِيهَا الصُّوَرُ» وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «يُصَلِّي فِي البِيعَةِ إِلَّا بِيعَةً فِيهَا تَمَاثِيلُ»

Umar Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Kami tidak akan masuk ke gereja kalian lantaran patung-patung yang ada di dalamnya.” Ibnu Abbas pernah shalat di sinagog kecuali jika di dalamnya terdapat patung. (Shahih Al Bukhari, Bab Ash Shalah fil Bii’ah)

Ibnu Abbas memakruhkan shalat di gereja jika masih ada patungnya. Ini juga pendapat Al Hasan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/274) Artinya, jika patungnya tidak ada, bagi mereka tidak apa-apa.

Sementara Asy Sya’bi, Atha bin Abi Rabah, Ibnu Sirin juga membolehkan. Sedangkan sebagian sahabat Nabi, seperti Abu Musa Al Asy’ari, serta tabi’in senior Umar bin Abdul Aziz pernah shalat di gereja. (Ibid)

Walau sebagian ulama lain memakruhkan shalat di gereja.

Demikian. Wallahu A’lam.