Home FIQIH IBADAH

Shalat Id Di Rumah Karena Wabah

342
SHARE

Oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Dasar Hukum dan Penjelasan Ulama

Para ulama menetapkan shalat hari raya itu sah dilakukan di rumah, apalagi kondisi tidak memungkinkan ke masjid atau lapangan, baik dilakukan sendiri atau berjamaah. Berikut ini adalah dasar hukum dan penjelasan ulama.

Dalam shahihnya, Imam Bukhari membuat bab:

بَابٌ: إِذَا فَاتَهُ العِيدُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ، وَمَنْ كَانَ فِي البُيُوتِ وَالقُرَى

Bab: Jika tertinggal shalat Id maka hendaknya dia shalat dua rakaat, demikian pula bagi kaum wanita, orang-orang yang di rumah, dan yang jauh di pelosok.

Imam asy Syafi’i Rahimahullah mengatakan:

ويصلي العيدين المنفرد في بيته والمسافر والعبد والمرأة

Shalat dua hari raya seorang diri di rumah baik musafir, hamba sahaya, dan wanita. (Mukhtashar al Umm, 8/125)

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وهو مخير ، إن شاء صلاها وحده ، وإن شاء صلاها جماعة قِيلَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: أَيْنَ يُصَلِّي؟ قَالَ: إنْ شَاءَ مَضَى إلَى الْمُصَلَّى، وَإِنْ شَاءَ حَيْثُ شَاءَ.

Dia boleh memilih, jika mau dia bisa shalat sendiri, jika mau dia bisa shalat berjamaah. Abu Abdillah (Imam Ahmad) ditanya, di mana shalatnya? Beliau menjawab: “Jika dia mau di mushalla (lapangan), kalau dia mau dimana saja.” (Al Mughni, 2/290)

Beliau melanjutkan, diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:

أَنَّهُ كَانَ إذَا لَمْ يَشْهَدْ الْعِيدَ مَعَ الْإِمَامِ بِالْبَصْرَةِ جَمَعَ أَهْلَهُ وَمَوَالِيهِ، ثُمَّ قَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي عُتْبَةَ مَوْلَاهُ فَيُصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِيهِمَا. وَلِأَنَّهُ قَضَاءُ صَلَاةٍ، فَكَانَ عَلَى صِفَتِهَا، كَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ

Jika dia tdk bisa shalat Id bersama imam di Bashrah, maka dia kumpulkan keluarganya dan para pelayannya, lalu berdirilah Abdullah bin ‘Utbah – pelayannya- mengimami mereka sebanyak dua rakaat, dia bertakbir pada dua rakaat itu. Karena ini qadha shalat, maka caranya sama seperti shalat-shalat lainnya. (Ibid)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

 تصح صلاة العيد من الرجال والنساء مسافرين كانوا أو مقيمين جماعة أو منفردين، في البيت أو في المسجد أو في المصلى.

Shalat Id itu SAH dilalukan oleh pria, wanita, musafir, mukimin, berjamaah, sendiri, di masjid, di rumah, atau dilapangan. (Fiqhus Sunnah, 1/321)

Tata Cara Pelaksanaan

Dari keterangan para ulama di atas, maka:

  1. Shalat Id bisa dilakukan seorang diri di rumah dan tanpa khutbah.
  2. Dilakukan sebanyak dua rakaat sebagaimana shalat-shalat lainnya.
  3. Sunnah menggunakan takbir zawaid, yaitu tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua. Jika tidak dilakukan shalat tetap sah.
  4. Shalat Id bisa dilakukan berjamaah di rumah bersama keluarga dan sunnah adanya khutbah. Jika tidak mampu, tidak apa-apa tanpa khutbah.
  5. Tata cara shalatnya sama sebagaimana jika sendiri.

Takbir Zawaid

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

والتكبير سنة لا تبطل الصلاة بتركه عمدا ولا سهوا. وقال ابن قدامة: ولا أعلم فيه خلافا، ورجح الشوكاني أنه إذا تركه سهوا لا يسجد للسهو.

Takbir (zawaid) adalah sunnah, shalat tidaklah batal jika sengaja meninggalkannya atau lupa. Ibnu Qudamah mengatakan: “Aku tidak ketahui adanya perbedaan dalam hal ini.” Asy Syaukani menguatkan bahwa jika meninggalkannya karena lalai tidak usah sujud sahwi. (Fiqhus Sunnah, 1/320)

Khutbah Hari Raya

Khutbah hari raya adalah sunnah menurut empat madzhab. Dalilnya adalah:

 إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Kami akan melaksanakan khutbah, barangsiapa ingin mendengarkan khutbah, hendaklah dia duduk. Dan barangsiapa ingin pergi, silakan pergi.” (HR. Abu Daud no. 1155, Ibnu Majah no. 1290, Shahih)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

خطبة العيد: الخطبة بعد صلاة العيد سنة والاستماع إليها كذلك

Khutbah Id setelah shalat adalah sunnah, dan mendengarkannya juga sunnah. (Fiqhus Sunnah, 1/321)

Kesunnahan khutbah hari raya adalah  berdasarkan kesepakatan empat madzhab:

  1. Hanafiyah (al Bahr ar Raiq, 2/174-175. Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 2/175)
  2. Malikiyah (Hasyiyah ad Dasuqi, 1/400)
  3. Syafi’iyah (al Majmu’, 5/21-22, Mughni Muhtaj, 1/311)
  4. Hanabilah (Kasysyaf al Qinaa’, 2/56. al Inshaf, 2/302)

Demikian. Wallahu a’lam