Home FIQIH

Shalat Tanpa Bersuci Karena Udzur

137
SHARE

Ustadz Farid Nu’man Hasan, Hafizhahullah

Bismillahirrahmanirrahim…

Telah sama-sama diketahui bersuci adalah miftahush shalah – kunci/pembuka shalat. Tanpanya shalat tidak sah.

Ada pun shalat tanpa bersuci, jika keadaannya memang super sulit untuk bersuci, baik ketiadaan air atau debu, atau memang kondisi yang membuatnya tidak mampu, maka shalat tetap SAH. Itu sesuai sunnah dan ruh Islam, yang membawa kemudahan. Baik dalil-dalil umum dan dalil-dalil khusus.

Dalil-dalil umum:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, Dia tidak menghendaki kesulitan bagimu. (QS. Al Baqarah: 185)

Ayat lain:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya (QS. Al Baqarah: 286)

Juga hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

يسروا ولا تعسورا

Permudahlah dan jangan persulit (HR. Bukhari no. 69)

Hadits lain:

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Jika kalian aku perintahkan sesuatu maka jalankanlah sesuai kemampuan kalian. (HR. Muslim no. 1337)

Kaidah-kaidah fiqih:

اذا ضاق الأمر اتسعى

Jika sebuah urusan menjadi sempit lagi susah, maka dilapangkan dan mudah

المشقة تجلب التيسر

Keadaan sulit akan menarik kemudahan

Dalil-dalil khusus:

عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّهَا اسْتَعَارَتْ مِنْ أَسْمَاءَ قِلَادَةً فَهَلَكَتْ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي طَلَبِهَا فَأَدْرَكَتْهُمْ الصَّلَاةُ فَصَلَّوْا بِغَيْرِ وُضُوءٍ فَلَمَّا أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَكَوْا ذَلِكَ إِلَيْهِ فَنَزَلَتْ آيَةُ التَّيَمُّمِ فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا فَوَاللَّهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ قَطُّ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ لَكِ مِنْهُ مَخْرَجًا وَجَعَلَ لِلْمُسْلِمِينَ فِيهِ بَرَكَةً

Dari Aisyah bahwa dia meminjam kalung dari Asma’, lalu kalung itu hilang. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus beberapa orang sahabat untuk mencari kalung tersebut. Ketika waktu shalat tiba, mereka SHALAT TANPA WUDHU. Mereka mengadukan hal itu kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam ketika menemui beliau, lantas turunlah ayat tayammum. Usaid bin Hudhair berkata; ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan (yang melimpah). Demi Allah, tidaklah suatu perkara turun padamu melainkan Allah menjadikan bagimu jalan keluar, dan menjadikan keberkahan bagi kaum mukminin.’ (HR. Bukhari no. 3773, dan Muslim no. 367).

Penjelasan ulama, bahwa ketiadaan, ketidak mampuan atau kesulitan, untuk bersuci tidaklah menghilangkan atau menggugurkan kewajiban shalat.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

ففيه دليل على وجوب الصلاة لفاقد الطهوريْن ووجهه أنهم صلوا معتقدين وجوب ذلك ولو كانت الصلاة حينئذ ممنوعة لأنكر عليهم النبي صلى الله عليه وسلم وبهذا قال الشافعي وأحمد وجمهور المحدثين وأكثر أصحاب مالك

Ini menjadi dalil wajibnya shalat bagi orang yang tidak ada sesuatu untuk bersuci dan mereka shalat yakin shalat itu wajib. Seandainya hal ini terlarang pasti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengingkari hal itu. Inilah pendapat asy Syafi’i, Ahmad, mayoritas ahli hadits, dan para sahabatnya Malik. (Fathul Bari, 1/440)

Bersuci itu sama dengan syarat atau rukun shalat lainnya. Jika dalam keadaan tidak bisa diwujudkan maka shalat tetap sah. Orang yang tidak tahu arah kiblat, sampai selesai shalat dia tidak tahu arahnya, sehingga dia salah kiblatnya, shalatnya tetap sah. Sama seperti shalat wajib sambil berbaring, kalau dia benar-benar tidak mampu untuk berdiri bahkan duduk. Maka shalat tetap sah sambil berbaring.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

ولأنه شرط من شرائط الصلاة فيسقط عند العجز عنه كسائر شروطها وأركانها ولأنه أدى فرضه على حسبه فلم يلزمه الإعادة كالعاجز عن السترة إذا صلى عريانا والعاجز عن الاستقبال إذا صلى إلى غيرها والعاجز عن القيام إذا صلى جالسا .

Sebab, itu adalah salah satu syarat sahnya shalat sebagaimana syarat-syarat lainnya yang gugur disaat seseorang lemah mewujudkannya seperti syarat dan rukun yang lain. Dia jalankan kewajibannya dan tidak wajib mengulanginya seperti orang yang tidak memiliki sesuatu menutup aurat sehingga dia shalat tidak berbusana, atau tidak bisa menghadap kiblat, atau tidak bisa berdiri sehingga dia shalatnya duduk. (Al Mughni, 1/157)

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam