Home AKHLAK & ADAB

Silaturrahim Dalam Islam, Keutamaan dan Bahaya Memutus Silaturrahim

147
SHARE
Silaturrahim Dalam Islam, Keutamaan dan Bahaya Memutus Silaturrahim

Makna Silaturrahim

Silaturrahim terdiri atas dua kata, yaitu Shilah dan Rahim. Kata Shilah artinya Al ‘Alaaqah yakni perhubungan, koneksi. Sedangkan Rahim yaitu Ar Rahimu atau Ar Rahmu yang artinya tempatnya janin (al mustawda’ al janiin), kerabat dekat, atau bisa juga kasih sayang. Jadi, silaturrahim adalah upaya menjaga dan menghubungkan keluarga, kekerabatan dan kasih sayang di antara manusia.

Upaya ini bisa dilakukan dengan berbagai cara yang dibenarkan syariat Islam, seperti saling mengunjungi, memberikan hadiah, mengucapkan dan mengirim salam, mendamaikan dua saudara yang terputus hubungannya, dan semisalnya. Hanya saja, di negeri kita kata silaturrahim selalu diidentikkan dengan kunjungan saja padahal itu hanyalah salah satu cara dari silaturrahim.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالمُكَافِىء ، وَلكِنَّ الوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Bukanlah bermakna “menyambung silaturrahim” bagi orang yang membalas kunjungan, tetapi silaturrahim itu adalah jika ada orang yang terputus tali silaturrahimnya maka dia orang yang menghubungkannya. (H.R. Bukhari No. 5991)

Keutamaan Silaturrahim

Ada banyak keutamaan silaturrahim, di sini akan dipaparkan beberapa saja:

1) Silaturrahim adalah bukti iman

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَه

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia bersilaturrahim. (H.R. Bukhari No. 6138)

Jadi, ciri orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir adalah dia mau melakukan silaturrahim.

2) Silaturrahim dapat menambah rezeki dan panjang umur

Manusia yang banyak menjaga hubungan baik dengan banyak orang, tentu akan membuatnya banyak koneksi. Kalau banyak koneksi tentu banyak pula potensi pintu-pintu rezeki baginya. Oleh karenanya sarjana yang gak gaul alias kuper cenderung kesulitan mendapatkan kesempatan kerja bahkan menciptakan pekerjaan, berbeda dengan yang supel dalam bergaul, biasanya banyak sekali info dan peluang kerja baginya.

Orang yang banyak bergaul tentu akan banyak pula yang perhatian, contohnya ketika dia sakit biasanya banyak manusia yang menjenguknya, bandingkan dengan yang tidak suka silaturrahim, dia sakit tidak ada manusia yang tahu apalagi menjenguknya.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa yang ingin dimudahkan oleh Allah untuk dilapangkan rezekinya atau diakhirkan ajalnya maka hendaknya dia bersilaturrahim. (H.R. Bukhari No. 2067, Muslim No. 2557)

Dalam hadits ini, bukan hanya menambah rezeki, silaturrahim bisa juga menambah umur. Lho, bukankah umur kita sudah ada ketetapannya? Jawab: Ya! Itulah secara global sesuai dengan keterangan dalam Al Quran secara ‘am (umum), namun secara khusus ada pengecualian bagi orang yang senantiasa berbuat baik dan bersilaturrahim bahwa umur mereka dapat bertambah, walaupun demikian tetaplah hal ini kita kembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menegaskan:

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ

“Tidaklah ketetapan Allah dapat ditolak kecuali dengan doa, dan tidaklah umur bisa bertambah kecuali dengan kebaikan.” (H.R. At Tirmidzi no. 2139, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan hasan, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2139. Lihat Juga Shahihul Jami’ No. 7687. Lihat juga Shahih At Targhib wat Tarhib No.1639, 2489. Lihat juga As Silsilah Ash Shahihah No. 154)

3) Bersilaturrahim merupakan upaya menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala

Ternyata rajin melakukan silaturrahim bukan hanya membangun hubungan baik dan kuat dengan sesama manusia, tetapi itu juga merupakan upaya memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, istilahnya quwwatu shillah billah.

Allah Ta’ala sendiri yang mengatakan dalam hadits qudsi, bahwa Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ وَصَلَكِ ، وَصَلْتُهُ ، وَمَنْ قَطَعَكِ ، قَطَعْتُهُ

Barang siapa yang menjalin hubungan dengan dirimu, maka Aku akan menjalin hubungan dengannya, barang siapa yang memutuskan hubungan denganmu, maka Aku akan memutuskan hubungan dengannya. (H.R. Bukhari No. 5988)

4) Silaturrahim dihitung sebagai sedekah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الصَّدَقَةُ عَلَى المِسكينِ صَدَقةٌ ، وعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah, bersedekah kepada orang yang punya hubungan persaudaraan ada dua macam: bersedekah dan silaturrahim. (H.R. At Tirmidzi No. 657, katanya: hasan)

5) Silaturrahim merupakan jalan menuju surga

Berikut ini keterangannya:

وعن أَبي أيوب خالد بن زيد الأنصاري – رضي الله عنه – : أنَّ رجلاً قَالَ :
يَا رَسُول الله ، أخْبِرْني بِعَمَلٍ يُدْخِلُني الجَنَّةَ ، وَيُبَاعِدُني مِنَ النَّارِ . فَقَالَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – : تَعْبُدُ الله ، وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيئاً ، وَتُقِيمُ الصَّلاةَ ، وتُؤتِي الزَّكَاةَ ، وتَصِلُ الرَّحمَ . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu: bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang amal yang akan memasukkanku kedalam surga dan menjauhkanku dari api neraka?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Engkau menyembah Allah, jangan melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah dengan apapun), tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturrahim. (H.R. Muttafaq ‘Alaih)

Bahaya-Bahaya Memutuskan Silaturrahim

Bahaya yang paling jelas adalah dia akan kehilangan faidah dan manfaat dari silaturrahim itu sendiri. Apakah itu saja? Tidak, ternyata masih banyak hal lain yang menimpanya jika dia memutuskan hubungan dengan sesama muslim, baik hubungan kekeluargaan, kekerabatan, atau persaudaraan sesama muslim.

Berikut ini beberapa bahayanya:

1) Orang yang memutuskan silaturrahim maka dia telah melakukan perbuatan haram

Menjalin hubungan baik adalah wajib, menjaga ukhuwah Islamiyah adalah wajib, maka memutuskannya –tanpa sebab yang dibenarkan- adalah haram dan berdosa bagi pelakunya.
Para ulama telah menyebutkan hal ini, di antaranya Imam An Nawawi Rahimahullah dalam kitabnya, Riyadhusshalihin, pada Bab Tahriim Al ‘Uquuq wa Qathii’at Ar Rahim, yang artinya Bab Haramnya Durhaka kepada orang tua dan Memutuskan Silaturrahim.

2) Allah Ta’ala melaknat serta membuat mereka buta dan tuli

Allah Ta’ala berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Q.S. Muhammad [47]: 22-23)

Makna tuli dan buta dalam ayat ini bukanlah makna haqiqi (sesungguhnya) tetapi majazi, bahwa walau mereka memiliki mata dan telinga tetapi dengan keduanya mereka tidak mampu melihat dan mendengar hal-hal yang bermanfaat bagi mereka.

Tertulis dalam Tafsir Al Muyassar:

أولئك الذين أبعدهم الله من رحمته، فجعلهم لا يسمعون ما ينفعهم ولا يبصرونه

Mereka itulah orang-orang yang dijauhkan oleh Allah dari rahmatNya, dan Dia jadikan mereka tidak bisa mendengar dan melihat apa-apa yang mendatangkan manfaat bagi mereka. (Tafsir Al Muyassar, 9/128)

3) Shalatnya tidak akan diterima

Orang yang memutuskan silaturrahim, memboikot saudaranya tanpa alasan yang benar, termasuk golongan manusia yang ditolak shalatnya. Hal ini disebutkan dalam hadits berikut ini:

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

“Ada tiga manusia yang Shalat mereka tidaklah naik melebihi kepala mereka walau sejengkal: yakni seorang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, seorang isteri yang tidur sementara suaminya sedang marah padanya, dan dua orang bersaudara yang saling memutuskan silaturahim.” (H.R. Ibnu Majah No. 971, Imam Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi mengatakan sanadnya shahih dan semua rijalnya tsiqat [kredibel]. Lihat Hasyiyah As Sindi ‘ala Ibni Majah, 2/338. Syaikh Al Albani mengatakan hasan. Lihat Misykah Al Mashabih, 1/249/1128. Imam Al ‘Iraqi juga mengatakan hasan)

4) Tidak masuk surga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ . قَالَ سفيان في روايته : يَعْنِي : قَاطِع رَحِم . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan.” Berkata Sufyan Ats Tsauri dalam riwayatnya: yaitu memutuskan hubungan kekerabatan. (H.R. Muttafaq ‘Alaih)

Dan masih banyak lainnya.

Wallahu A’lam.

Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah