Home KONSULTASI SYARIAH TJ FIQIH IBADAH

Tahlilan Hari ke 3, 7, 40, 100; Benarkah Berasal Dari Agama Hindu-Budha?

1002
SHARE
Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari, Benarkah Berasal Dari Agama Hindu-Budha

Pertanyaan:
Assalamu’alaiykum, Ustadz. Saya mau bertanya tentang hukum tahlilan 3, 7, 40, 100, 1000. Ada yang berpendapat bahwa ajaran tersebut berasal dari Agama Hindu-Budha sebelum Agama Islam masuk di Indonesia. Apakah hukum tahlilan itu, Ustadz?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah. Bismillah wal Hamdulillah.

Tidak benar, sebagian orang memang ada yang mengira itu merupakan kebiasaan Hindu. Apalagi ada orang yang mengaku-aku mantan Hindu, dia mengaku bernama Abdul Aziz, menyebut acara selamatan tersebut adalah ajaran Hindu. (Ini ada di YouTube dan juga BC di WA)

Saya tegaskan, walau kita boleh saja tidak setuju acara-acara seperti itu, tapi tetap menjaga akhlakul karimah, yaitu tidak memfitnah saudara sendiri.

Mereka memiliki hujjah dan rujukan kitab para ulama sejak masa lalu. Sekali lagi, terlepas kita tidak setuju dengan ini, tetap dahulukan sisi ilmiahnya.

Kemudian, sedekahan selama 7 hari atau bahkan 40 hari, sebagian ulama berhujjah dari riwayat berikut.

Dari ‘Ubaid bin ‘Umair dia berkata:

يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ، فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَيُفْتَنُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

Dua orang mendapatkan fitnah kubur, mu’min dan munafik. Untuk mu’min mereka mendapatkan fitnah selama tujuh hari, sedangkan munafik selama 40 hari. (Ibnu Juraij dalam Mushannaf-nya)

Inilah sebabnya mereka menganjurkan bersedekah selama itu, sampai hari ke 7 dan 40.

Seperti yang disebutkan dalam riwayat berikut, Berkata Abu Nu’aim:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا أَبِي، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا الْأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ طَاوُسٌ: «إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَيَّامِ»

Berkata kepada kami Abu Bakr bin Malik, berkata kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hambal, berkata ayahku (Ahmad bin Hambal), berkata kepada kami Hasyim bin Al Qasim, berkata kepada kami Al Asyja’i, dari Sufyan, dia berkata: Berkata Thawus: “Sesungguhnya mayit akan mendapat ujian di kuburnya selama tujuh hari, maka mereka (para sahabat) suka memberikan makanan pada hari-hari itu.”
(Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 4/11)

Imam As Suyuthi mengatakan: isnadnya SHAHIH, dan hukumnya sebagai riwayat marfu’. (Ad Dibaj ‘Alash Shahih Muslim, 2/490)

Imam As Suyuthi juga menjelaskan dalam kitabnya yang lain:

“Rijal (perawi) hadits ini shahih, Thawus adalah senior tabi’in. Menurut Abu Nu’aim, Thawus adalah generasi pertama bagi penduduk Yaman. Abu Nu’aim pernah meriwayatkan bahwa Thawus berkata: “Aku pernah berjumpa dengan 500 para sahabat Rasulullah ﷺ. Sementara yang lain meriwayatkan bahwa Thawus mengatakan: “Aku pernah berjumpa dengan 700 syaikh dari generasi sahabat Rasulullah ﷺ .” Ada pun Sufyan adalah Ats Tsauri, pernah berjumpa dengan Thawus. (Al Hawi Lil Fatawi, 2/216)

Imam As Suyuthi Rahimahullah mengatakan ini merupakan kebiasaan sejak masa sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam:

أَنَّ سُنَّةَ الْإِطْعَامِ سَبْعَةُ أَيَّامٍ، بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى الْآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى الْآنَ، وَأَنَّهُمْ أَخَذُوهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ الْأَوَّلِ.

Bahwasanya disunnahkan memberikan makanan selama tujuh hari (di rumah mayit, pen), telah sampai kepadaku bahwa hal itu terus berlangsung sampai saat ini di Makkah dan Madinah. Kenyataannya hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa para sahabat Nabi ﷺ sampai saat ini (zaman Imam As Suyuthi), dan sesungguhnya generasi khalaf telah mengambil dari generasi salaf sampai generasi awal Islam. (Imam Jalaluddin As Suyuthi, Al Hawi Lil Fatawi, Juz. 2 Hlm. 234)

Imam As Suyuthi Rahimahullah juga berkata:

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓﻨﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Berkata Umar : “Sedekah setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan sedekah dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan sedekah tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”
(Al Hawi lil Fatawi, Juz 2, Hal. 198)

Inilah yang dijadikan landasan. Bisa jadi riwayat ini dianggap DHAIF oleh yang tidak setuju. Maka, berarti ini kembali ke masalah perselisihan para ulama dalam menilai sebuah riwayat, dan implikasi hukumnya. Ini hal biasa. Ambil yang kita yakini, tapi jangan sebut yang tidak-tidak kepada saudara kita yang punya pendirian lain.

Maka, menyebut sebagai ajaran Hindu adalah berlebihan. Cukuplah dikatakan, “Masalah ini diperselisihkan ulama tapi kami ikut pendapat yang TIDAK, dan kami tetap mencintai saudara kami yang meyakininya,” dibanding menyebut saudara kita telah menjalankan kebiasaan Hindu.

Demikian. Wallahu a’lam