Home AKHLAK & ADAB

Tahniah di Hari Raya bukan Bid’ah

29
SHARE

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ditanya tentang kebiasaan manusia mengucapkan selamat hari raya, dengan beragam kalimat seperti ‘Iduka Mubarak, dan lain-lain. Apakah ini ada dasarnya?

Beliau menjawab:

أما التهنئة يوم العيد يقول بعضهم لبعض إذا لقيه بعد صلاة العيد : تقبل الله منا ومنكم ، وأحاله الله عليك ، ونحو ذلك فهذا قد روي عن طائفة من الصحابة أنهم كانوا يفعلونه ، ورخص فيه الأئمة كأحمد وغيره ، لكن قال أحمد : أنا لا ابتدئ أحداً ، فإن ابتدرني أحد اجبته ، وذلك ؛ لأنه جواب التحية واجب ، وأما الابتداء بالتهنئة فليس سنة مأمور بها ، ولا هو أيضاً مما نُهي عنه ، فمن فعله فله قدوة ، ومن تركه فله قدوة ، والله أعلم .

Adapun ucapan selamat di hari raya, sebagian orang berkata kepada yang lainnya setelah shalat ‘id: Taqabbalallah minnaa wa Minkum, Ahaalahullah ‘Alaik, dan semisalnya. Maka yang seperti ini telah diriwayatkan dari segolongan sahabat Nabi ﷺ bahwa mereka melakukannya.

Para imam pun memberikan keringanan, seperti Imam Ahmad dan lainnya, tetapi Imam Ahmad berkata: “Aku tidak akan memulainya kepada seseorang, tapi jika ada orang yang mengucapkan kepadaku, aku akan menjawabnya.” Hal ini karena menjawab ucapan selamat itu wajib. Adapun memulainya, bukankah sunnah yang diperintahkan, tapi itu juga bukan hal yang dilarang.

Jadi, siapa yang melakukannya maka dia ada contohnya, barang siapa yang tidak melakukannya dia juga ada contohnya. Wallahu A’lam. (Majmu’ Al Fatawa, 24/253)

✍ Ust. Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah