Home DZIKIR & DOA

Takhrij Kitab Al Ma’tsurat (Bag.1)

32
SHARE

Al Ma’tsurat adalah kitab kumpulan dzikir dan doa yang disusun oleh Imam Hasan Al Banna Rahimahullah. Kitab ini boleh dikatakan sangat luas penyebarannya, bahkan dibanding kitab sejenis inilah kitab yang paling luas penyebarannya dan mengalami puluhan kali cetak di berbagai negeri muslim. Kitab ini merujuk kepada Al Adzkar-nya Imam An Nawawi dan Kalim Thayyib-nya Imam Ibnu Taimiyah.

(Qismul Awwal [Bagian Pertama]: Al Wazhiifah-Amalan)
1) Membaca: “A’udzu billahis samii’il ‘alimi minasy syaithanirrajim.”
أَعُــوذُ بِالله السَّـمِيعِ الـعَلِــيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaithan yang terkutuk.”

Inilah bacaan pertama pada wazhifah Al Ma’tsurat. Tentang anjuran membaca kalimat isti’adzah dengan redaksi seperti di atas pada pagi dan sore terdapat beberapa riwayat, namun semuanya dhaif (lemah).

Pertama. Dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَقَرَأَ ثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ مَاتَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ مَاتَ شَهِيدًا وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي كَانَ بِتِلْكَ الْمَنْزِلَةِ

Barang siapa yang mengucapkan pada pagi hari: A’udzu billahis samii’il ‘alimi minasy syaithanirrajim, dan tiga ayat dari akhir surat Al Hasyr, maka dengannya Allah Ta’ala akan mewakilkannya dengan 70 ribu malaikat yang akan mendoakannya sampai sore hari, dan jika dia mati pada hari itu maka dia mati syahid. Jika dia membacanya ketika sore hari maka kedudukannya sama dengan itu.(H.R. At Tirmidzi No. 2922, Ahmad No. 20306, Ad Darimi No. 3425, Ath Thabarani dalam Al Kabir, 20/537, juga dalam Ad Du’a No. 308, Ibnu Sunni dalam ‘Amal Al Yaum wal Lailah No. 80, Al Baghawi dalam Tafsir-nya, 7/309)

Imam Abu Isa At Tirmdzi mengatakan: “Hadits ini gharib [menyendiri/asing] kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.” (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 2922)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mendhaifkannya. (Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 20306, dengan tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh ‘Adil Mursyid, et.al.). Syaikh Ayman Shalih Sya’ban mengatakan dhaif. (Ta’liq Jaami’ Al Ushul, 8/482). Syaikh Al Albani juga menyatakan dhaif. (Dhaiful Jami’ No. 5732)

Imam Zainudin Al ‘Iraqi mengutip hadits ini dalam Takhrijul Ihya’, dan bahwa Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan gharib. (Takhrijul Ihya’, 2/856). Tapi, yang benar adalah Imam At Tirmidzi tidak menyatakan hasan, oleh karena itu Imam Adz Dzahabi berkata: “At Tirmidzi tidak menghasankannya, dan hadits ini sangat gharib.” (Mizanul I’tidal, 1/632)

Kelemahan hadits ini lantaran semua jalurnya terdapat seorang rawi bernama Khalid bin Thahman.

Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar memaparkan bahwa Imam Yahya bin Ma’in mengatakan tentangnya: “Dhaif, dia mengalami kekacauan hafalan saat sepuluh tahun sebelum kematiannya, sebelumnya dia adalah tsiqah.” Abu Hatim mengatakan: “Dhaif, dia seorang tokoh Syi’ah yang jujur.” Abu Ubaidah mengatakan bahwa Abu Daud tidak pernah menyebutnya kecuali yang baik-baik. Ibnu Hibban mengatakan tentangnya dalam Ats Tsiqat: “Dia melakukan kesalahan dan keraguan.” Ibnu Jarud mengatakan: dhaif. Ibnu ‘Adi mengatakan: “Saya belum pernah melihatnya memiliki sejumlah hadits yang munkar.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 3/99. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 1/632)

Kedua. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من قال : حين يصبح : أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم أجير من الشيطان حتى يمسي

Barang siapa yang mengucapkan pada pagi hari: A’udzu billahis samii’il ‘alimi minasy syaithanirrajim, dia akan dijauhi dari syaithan sampai sore hari.(H.R. Ibnu Sunni, ‘Amalul Yaum wal Lailah No. 48)

Hadits ini dhaif, lantaran dalam sanadnya terdapat Yazid Ar Ruqasyi dan Daud bin Salik. Berkata Syaikh Al Albani:

قلت : وهذا اسناد ضعيف يزيد الرقاشي ضعيف وداود بن سليك لم يوثقه غير ابن حبان وفي ( التقريب) : ( مقبول ) . أي عند المتابعة

Saya katakan: Isnad hadits ini dhaif. Yazid Ar Ruqasyi seorang yang dhaif. Daud bin Salik tidak ada yang mentsiqahkannya selain Ibnu Hibban. Disebutkan dalam At Taqrib: dia maqbul [bisa diterima], yaitu sebagai mutaba’ah/penguat saja.(Irwa’ul Ghalil, 2/59)

Demikian, secara khusus membaca kalimat isti’adzah seperti itu khusus pada pagi dan sore adalah tidak shahih.

Wallahu A’lam.

Hanya saja, walau dhaif, hadits ini bisa diamalkan, karena termasuk fadhailul a’mal.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

قدمنا اتفاق العلماء على العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال دون الحلال والحرام

Kami telah sampaikan kesepakatan ulama tentang beramal dengan hadits dhaif dalam fadhailul a’mal, selain urusan halal haram. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/248)

Imam Ibnu Muflih Rahimahullah berkata:

والذي قطع به غير واحد ممن صنف في علوم الحديث حكاية عن العلماء أنه يعمل بالحديث الضعيف في ما ليس فيه تحليل ولا تحريم كالفضائل، وعن الإمام أحمد ما يوافق هذا

Dan yang telah ditetapkan oleh selain satu orang penyusun buku-buku ulumul hadits, riwayat dari ulama tentang bolehnya mengamalkan hadits dhaif selama bukan dalam hal penghalalan dan pengharaman, seperti masalah fadhailul a’mal, dan dari Imam Ahmad sepakat atas hal ini. (Imam Ibnu Muflih, Al Adab Asy Syar’iyyah, 2/391)

Imam Al Hathab Al Maliki Rahimahullah berkata:

اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال

Para ulama telah sepakat bolehnya mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhailul a’mal. (Imam Al Hathab, Mawahib Al Jalil, 1/17)

Namun, pembolehan ini BERSYARAT, yaitu:

شرط العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال أن لا يكون شديد الضعف، وأن يدخل تحت أصل عام، وأن لا يعتقد سنيته بذلك الحديث

Syarat mengamalkan hadits dhaif dalam urusan fadhailul a’mal, adalah:

– kedhaifannya tidak terlalu

– kandungannya masih sesuai nilai umum yang mendasar dalam Islam 

– tidak meyakini kesunnahannya [dari Rasulullah] karena hadits itu.

(Imam Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 1/194)

Catatan:

Bacaan: “A’udzu billahis samii’il ‘alimi minasy syaithanirrajim.” juga ada yang shahih. Tapi, tidak terikat oleh waktu pagi dan sore.

Misalnya hadits berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ ثُمَّ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثَلَاثًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ثَلَاثًا أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ ثُمَّ يَقْرَأُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata: “Apabila Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun untuk shalat malam, beliau bertakbir kemudian mengucapkan: “SUBHAANAKA ALLAHUMMA WABIHAMDIKA WATABAARAKASMUKA WA TA’AALA JADDUKA WALAA ILAAHA GHAIRAKA (Mahasuci Engkau, ya Allah, aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu, Mahaberkah nama-Mu, Mahaluhur keluhuran-Mu dan tidak ada ilah selain Engkau].” kemudian membaca: “LAA ILAAHA ILLALLAH [tidak ada ilah selain Allah] sebanyak tiga kali, kemudian membaca: “ALLAHU AKBAR KABIIRA [Allah Maha besar benar-benar Maha besar]” sebanyak tiga kali- [kemudian membaca]: A’UUDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM MINAS SYAITHAANIR RAJIIM MIN HAMZIHII WANAFKHIHI WA NAFTSIHI (Aku berlindung kepada Allah, Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari goda’an syaithan yang terkutuk, dari kegilaannya, dari kesombongannya, dan syairnya yang jelek].” kemudian beliau membaca [surat Al Qur’an].(H.R. Abu Daud No. 775. At Tirmidzi No. 242, Imam Al Haitsami mengatakan: “Rijaaluhu tsiqaat -para perawinya terpercaya.” lihat Majma’ Az Zawaid, 2/265. Syaikh Al Albani berkata: shahih. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 775)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ التَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ

Mayoritas ulama dari kalangan tabi’in dan lainnya mengamalkan hadits ini. (Sunan At Tirmidzi No. 242)

(Bersambung)

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah